Niko mendekat, tatapannya penuh amarah. “Jawab, Pa!” Richard hanya tersenyum samar, matanya menyipit, nada suaranya santai tapi menusuk. “Kenapa kamu menuduh papa, Niko? Hmm?” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Bukankah sebagai suami, seharusnya kamu yang bisa menjaga dan mengawasinya? Kalau sekarang dia hilang… apa kamu harus melibatkan orang lain untuk kamu salahkan?” Niko mengepalkan tangan, napasnya berat. “Jangan mempermainkanku, Pa. Aku tahu Papa terlibat!” Richard terkekeh lirih, penuh sindiran. “Atau… mungkin kamu hanya marah pada dirimu sendiri, karena kamu tidak mampu menjaga istrimu tetap di sisi?” Hening mendadak terasa mencekam. Kata-kata Richard menampar ego Niko lebih keras daripada teriakan. Mbok yang berdiri di sudut ruangan sampai merunduk lebih dalam, takut keduanya

