Lara duduk di sofa, piring kecil di depannya kini tinggal sisa remah. Ia sudah memaksa dirinya menyuap beberapa potong roti yang Dipta suguhkan, meski rasanya hambar di lidah. Setiap kunyahan terasa berat, bercampur dengan air mata yang sejak tadi tak mau berhenti jatuh. Ia mengusap bibirnya dengan tisu, lalu bersandar. Pandangannya kosong, dadanya sesak. Hatinya tak bisa tenang. Ancaman Richard, wajah Niko yang pasti sedang mencarinya, bayangan Bagas dan Bude Lasma yang mungkin ikut terseret… semuanya berputar di kepalanya. Tangannya refleks mengusap perutnya yang masih datar. “Aku harus kuat, demi kamu.…” bisiknya lirih pada bayi yang ia kandung. Tapi air matanya kembali menetes, membasahi pipi. Dari dapur, suara piring beradu terdengar. Dipta muncul beberapa saat kemudian dengan dua

