Gara-gara Hujan (2)

1000 Kata
"Fadil! Keluar lo!" Zaki datang memasuki lekarangan rumah Fadil dan berteriak seperti itu. Tidak dipedulikan banyaknya orang sedang duduk bersila di teras luar rumahnya. Setelah berbicara pada Ibunya juga saudaranya yang lain, Zaki memutuskan menemui Fadil malam harinya. Laki-laki itu harus dimintai pertanggung jawaban. Dia datang dengan membawa Seni. Gadis itu sudah mengakui. "Lo harus tanggung jawab!" Zaki berseru tanpa ragu. "Tanggung jawab apa?" Orang-orang yang ada berbisik satu sama lain. "Heh! Tidak sopan. Datang-datang berteriak di rumah orang. Dasar preman!" Seorang wanita paruh baya mengenakan longdress lebar dan berhijab juga bermake-up sedikit tebal, berbicara lantang menegurnya. Dia menerobos kumpulan Bapak-bapak melewatinya. Di belakang suaminya yang jauh lebih tua mengikutinya. "Mau apa kamu?" "Bu Siska yang terhormat, mana menantu laki-lakimu itu? Suruh dia ke luar. Saya ada perlu dengannya." Zaki memperhalus kosa kata memanggil perempuan sudah tidak muda itu, namun tegas. "Mau apa kamu kemari? Ada perlu apa dengan Fadil?" Suami bu Siska ikut bertanya heran. "Pak Bardi yang terhormat saya ada urusan dengan menantu anda." Bu Siska dan pak Bardi saling pandang. "Heh, Fadil! Ke luar cepat! Breng.sek!" Zaki emosi. Laki-laki yang di harapkannya tidak lekas keluar. Dia tidak peduli jika ucapannya terkesan tidak santun. "Siapa dia, bang?" Dari dalam istri Fadil bertanya pada suaminya yang tidak enak diam. "Sebaiknya kalian keluar. Temui orang itu." Ibu-ibu lain mendekat. Satu diantara mereka memberi saran. Fadil pun keluar. Ditemani istrinya yang dua minggu lalu menjalani oprasi pengangkatan rahim karena kista. Orang ramai di rumahnya akan melakukan acara syukuran selamatan pasca oprasi. Terpaksa acara itu ditunda karena kedatangan Zaki yang marah-marah. Fadil kini sudah ada di luar. Zaki membawa Seni ke hadapannya. Seni menunduk, tidak berani menatap Fadil dan siapa pun yang ada di sana. Dia terus terisak sedari tadi. "Seni hamil. Lo 'kan pelakunya?" Tanpa tendeng aling-aling Zaki mengatakannya di hadapan semua orang. Mereka terkejut dan berbisik-bisik kembali. "Jangan sembarangan kamu. Bang Fadil gak mungkin melakukan itu." Satina—istri Fadil menyangkal ucapan Zaki. "Bang, bukan kamu 'kan? Dia salah orang?" Pelan Satina tanyakan lagi. "Maafkan aku Satina, aku khilaf." Fadil akhirnya bersuara. Dia mengatakan itu seraya menatap istrinya. "Tidak. Gak mungkin." Satina menggeleng kecil, "Bagaimana bisa itu terjadi!" Dia bertanya dengan nada tinggi, membentak. "Aku gak sengaja melakukannya saat mengantar Seni pulang dari kantor saat berteduh dari hujan." Satina menangis mendengarnya. Fadil tidak menyangkal dan mengakuinya. Fadil hendak menyentuhnya, tapi ditepis keras oleh bu Siska. Ibunya itu yang memeluknya. Bardi menatap Fadil kecewa sudah menyakiti putrinya. "Lo harus tanggung jawab sama adek gue. Lo udah ngancurin masa depan Seni. Lo harus nikahi Seni." Zaki kembali bersuara meminta Fadil menikahi Seni. "Gugurkan saja kandungannya!" Satina berlepas diri dari rangkulan Ibunya. "Dasar kamu gadis gatal. Beraninya menggoda suamiku. Gadis murahan!" Satina menampar pipi Seni. Perempuan muda itu menangis kesakitan. Dia takut melihat istri Fadil semarah itu. "Seni gak bermaksud seperti itu. Maafkan Seni ...." "Alesan!" Satina hendak menarik rambut Seni tapi Zaki menahannya. Menyingkirkan tangannya itu. "Yang harus lo jambak itu suami lo sendiri. Jangan Seni!" Zaki tidak sudi adiknya disakiti lagi. Tadi, dia kecolongan. Seni berhasil ditampar perempuan agak gemuk di hadapannya ini. "Lo mau marah pukul suami lo si Fadil. Jangan cuma nyalahin Seni!" Zaki naik pitam lagi. Laki-laki itu geram. Kenapa, di saat kasus seperti ini selalu hanya perempuan yang disalahkan? Kenapa laki-lakinya tidak dimarahi juga. Dipukul atau dilabrak. Kesalahan tidak akan terjadi jika laki-lakinya bisa menahan diri. "Pokoknya lo harus nikahin Seni, atau, gue lapor polisi!" Semua orang terkejut mendengar ancaman Zaki. Mereka lalu diam hendak mendengar tanggapan dari Fadil. "Aku akan menikahi Seni." Satina menangis meraung mendengarnya. Tubuhnya meluruk duduk di bawah. Fadil melihat itu, dia tahu sudah menyakitinya. Dia lalu melihat Seni. Gadis muda itu tak mungkin dia abaikan. Seni gadis baik, dia tidak pernah menggodanya. Semua murni karena kesalahannya yang tidak bisa menahan diri pada hari itu. "Apa salahku hingga ini terjadi padaku. Ibu, ayah kengapa bisa terjadi seperti ini ...." Satina menangis sejadi-jadinya. Mempertanyakan nasib dirinya yang menjadi begitu memilukan. Bu Siska Iba melihat anaknya begitu nelangsa diterpa sakit hati. Begitu juga dengan suaminya. Mereka saling pandang lalu diam. Waktu terasa berputar pada 33 tahun silam dalam ingatan keduanya. "Bardii! Keluar kamu!" Seorang laki-laki berteriak dari luar di hadapan sebuah rumah. Bardi keluar bersama istrinya. "Ada apa? Siapa kamu malam-malam datang dan teriak di rumah orang?" Istri Bardi bertanya dan menatap heran dua orang di depannya. Satu laki-laki dewasa dan satu gadis muda. "Suami Ibu sudah menghamili adik saya. Dia harus bertanggung jawab." "Apa? Gak mungkin. Itu bukan kamu kan bang?" Wanita itu terkejut dan melirik pada suaminya sendiri bertanya memastikan. "Maafkan aku. Aku khilaf." Istri Bardi menangis mendengarnya. Suaminya tidak menyangkal. "Kamu tega, bang." Bardi hanya diam saja. Diliriknya perempuan muda yang tengah mengandung benih darinya. Siska menunduk. "Kamu harus tanggung jawab Bardi. Kamu harus menikahi Siska." Kakak Siska menekan kembali memperingati Bardi. "Baik, saya akan menikahi Siska." Istri Bardi semakin menjadi-jadi tangisnya. Tubuhnya luruh, duduk di lantai. Bardi menunduk menyentuh istrinya itu. "Maafkan aku. Aku akan adil pada kalian berdua." Istri Bardi tetap menangis meraung-raung. Sementara Siska tersenyum mendengarnya. Dia menyukai pak Bardi. Laki-laki dewasa dan gagah itu seorang Bapak muda yang memiliki beberapa toko di pasar. Dia senang akan menikah dengan bosnya. Tak dipedulikan betapa nelangsa dan menderita istrinya. Bu Siska menangis. Dipeluknya Satina di bawahnya. ''Maafkan Ibu ...." lirih ia ucapkan itu dalam hati seraya penuh penyesalan. Sementara Bardi, dia terus beristighfar dalam hati. Dia sudah menyakiti istri pertamanya menjalin hubungan dengan gadis lain diam-diam dan terjadi hamil. Sudah menyakiti Deswita, yang Akhirnya memilih bercerai darinya tidak kuat dimadu. Bardi ternyata timpang memperlakukan keduanya cenderung berat pada Siska. Kini, anak perempuannya disakiti laki-laki seperti dia dulu yang menyakiti Deswita. Sudut mata Bardi berair, dia menyekanya. Satina yang dulu cantik kini tampak biasa saja dengan tubuh berisinya. Walau seumuran dia tampak lebih tua dari Fadil jadinya. Satina sudah tidak ada kesempatan memiliki anak lagi. Hanya punya satu anak laki-laki berumur tujuh tahun. Anak kecil itu terdiam tak mengerti di palang pintu. Bardi was-was, Fadil meninggalkan Satina seperti dia yang meninggalkan Deswita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN