"Apa ini?" kening Dania mengerut begitu Frans—suaminya—memberikan selembar kertas berisi tulisan ketikan komputer.
"Surat kontrak." Frans menjawab singkat.
"Kontrak apa?" Dania terheran-heran mempertanyakannya.
"Kontrak pernikahan kita. Kita menikah untuk bersandiwara. Kuberi kamu waktu satu tahun. Setelahnya kita bercerai."
Dania membelalak. Detik selanjutnya ia rasakan dadanya panas seolah ada api, juga ... Sakit. Bagaimana tidak? Baru siang tadi mereka melakukan resepsi dan resmi menikah, tapi Frans tiba-tiba memutuskan kontrak sepihak. Hal tidak pernah diduganya.
"Kenapa?" Mata Dania memerah, cairan bening menyembul di kelopaknya.
"Aku terpaksa menikahimu demi orangtuaku. Maaf, aku tidak mencintaimu. Aku punya pacar, aku akan menikahinya nanti. Setelah urusanku denganmu selesai."
"Kenapa kamu tidak berterus terang sedari awal?"
"Aku tidak bisa menolak. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu seperti yang ditulis disurat. Semua hutang orangtuamu lunas. Dan setelah kita bercerai aku akan memberikanmu uang."
Dania menggeleng pelan dan meremas kertas itu.
"Kamu sudah mempermainkan pernikahan yang suci."
"Maafkan aku." Frans mengucap sedikit sesal. Menyesali dirinya yang lemah menolak keinginan orang tuanya.
Frans berbalik dan pergi.
"Kamu jahat Frans!"
Frans menoleh ke belakang. Dania menangis. Air mata berlinangan di pipinya. Wujud duka itu tak membuat Frans iba. Dia bergeming.
"Penge.cut!"
"Aku memang penge.cut. Kamu mau marah padaku terserah." Lalu berbalik lagi membuka knop pintu. Frans pergi meninggalkan kamar pengantin mereka.
Dania tergugu, malam yang seharusnya indah bagi pasangan pengantin menjadi nestapa, menyisakan luka hati yang menganga.
.
Satu minggu setelah menikah Dania dan Frans kembali bekerja. Begitu dengan hari seterusnya.
Dania mendengar kabar Frans beberapa kali kepergok temannya saat bersama pacarnya. Mereka membicarakan saat jam makan siang. Dania tidak menanggapi dan pergi.
Dania sendiri pernah melihat keduanya berbelanja di mall di toko pakaian dewasa. Ia tidak menegur dan langsung pergi dengan menaiki tangga eskalator.
"Aku ada di apartemen Rayna, menginap. Kunci saja pintu rumah."
Malam hari Dania mendapat chat seperti itu dari Frans. Rayna adalah kekasihnya. Dania mendengus dan tidak membalasnya.
"Terserah kau saja!" umpatnya, lalu menutup wajah dengan selimut.
Dania tidak mau mengecek rumah mereka. Jika dibobol maling pun ia tak peduli.
Untuk kesekian kali, malam Dania dilalui dengan perasaan tidak nyaman dan dongkol.
.
Dania terkejut saat pulang mendapati Frans dan pacarnya di rumah mereka. Tengah berciuman di sofa. Pemandangan yang membuat mata Dania seperti sedang mengiris bawang. Perih. Juga sakit hatinya.
Dania mematung. Frans akhirnya melihatnya lalu menghentikan mencumbu kekasihnya.
"Dania? Bukannya kamu mau menginap di rumah orang tuamu?"
Frans berdiri, Dania menghampirinya.
Rayna menatap tajam saat Dania melihatnya, ia lalu menunduk memainkan ponsel. Enggan menatap istri Frans lama.
"Frans, kamu boleh menemuinya di luar. Tapi, jangan dibawa ke rumah ini."
Rayna kembali melihat Dania mendengarnya. Matanya membuka lebar. Ia tidak suka yang diucapkan istri Frans.
"Aku tidak tahu kamu akan pulang."
"Dengan atau tanpa aku di rumah ini kamu tidak boleh membawanya!"
Rayna berdiri.
"Dania, kamu hanya istri sementara. Frans hanya mencintaiku. Frans yang punya rumah, terserah dia mau bawa aku ke sini atau tidak. Kami akan menikah Dania. Aku yang nanti akan menempati rumah ini." Rayna berucap pelan tapi tegas.
"Yasudah, kalau begitu. Menikah saja kalian sekarang. Frans, ceraikan aku sekarang juga. Aku mau cerai secepatnya!"
"Tidak bisa. Kamu harus nunggu satu tahun sesuai kontrak. Atau, kamu harus lunasi satu milyar hutang orang tuamu sekarang juga, berikut bunganya."
Frans berkata penuh penekanan. Dania mencelos diingatkan hutang itu. Ia tiba-tiba menjadi tak berdaya. Bahunya melorot lemas seiring dengan pandangannya yang menunduk.
Air mata itu luruh terjatuh dilantai. Dania yang semula tegar bergeming dalam tangis.
"Tidak bisakah kamu menjaga perasaanku sedikit saja? Menghargaiku sebagai istrimu sedikit saja?" Dania bertanya dengan hati tersayat-sayat pada suaminya.
Mendengarnya wajah Frans melunak. Ditatapnya sorot mata Dania yang penuh kesakitan. Bibirnya bergetar kecil berusaha meredam tangis.
"Aku mau terima kontrak itu Frans. Satu pintaku, selama aku jadi istri kamu jangan bawa pacarmu ke sini. Kamu bebas bermersraan dengannya tapi jangan di sini."
Baik Frans mau pun Rayna terdiam. Pandangan Rayna terhadap Dania tidak sesinis tadi. Dia bangkit dari sofa. Berdiri sejajar dengan istri Frans.
"Aku akan pergi. Aku akan bersabar menunggu kalian berpisah. Frans, jangan pernah menyentuhnya. Jangan melanggar isi kontrak yang kamu buat."
Dania melihat Frans mengangguk.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan menyentuhnya."
"Aku percaya padamu, sayang."
Rayna mengecup pipi Frans dan pergi begitu saja setelahnya.
Perkataan keduanya menyakitkan. Itu yang Dania rasakan. Namun, lelaki itu tak peduli. Dia ikut meninggalkannya sendiri.
.
Tiga bulan menikah Dania sudah tidak tahan tetap bersama Frans. Jika ia punya uang 1 milyar lebih, ia akan membayar lunas hutang itu. Hutang bekas berobat Ayahnya yang sakit jantung serta struck. Sudah berobat kemana-mana bahkan ke luar negri untuk cangkok jantung untuk terapi struck. Akhirnya maut tetap menjemput menyisakan hutang banyak setelahnya. Usaha kulinernya bangkrut. Restorannya ditutup. Sangat menyedihkan bagi Dania. Kini Mamanya hanya memiliki toko pakain satu-satunya usaha untuk menyambung hidupnya.
Ayah Frans seorang direktur di perusahaan swasta, Frans sendiri seorang General Manager. Orang tua Frans baik memberi pinjaman, mereka menyukai Dania dan iba, tetapi tidak dengan Frans.
Awal perkenalan Frans memang banyak diam. Dania pikir karena mereka belum lama kenal. Ragu ditepis ketika akhirnya Frans tidak menolak saat dijodohkan. Hutang dianggap lunas ketika mereka menikah. Orang tua Frans senang sudah menjadikan anak temannya sebagai menantu mereka.
"Hhhh!" Dania mendesah payah. Rumit dan lelah dirasakannya.
"Banyak orang bilang aku cantik. Tubuhku bagus. Siapa pun laki-laki akan terpikat padaku."
Dia berbicara pada bayangan di cermin. Memperhatikan lekuk tubuhnya yang berbalut dres pendek.
"Bohong! Buktinya Frans tidak menyukaiku. Dia tetap setia pada pacarnya."
Dania menutup wajahnya. Di depan cermin kembali ia menangis. Jika tahu dia akan berusaha keras menolak perjodohan itu.