Mengejar Cinta 2

921 Kata
Frans sedang menikmati makan malam. Sendiri. Dania menghampirinya. Ia duduk di hadapannya. Lelaki itu melihatnya sekilas, lalu melanjutkan lagi makan. "Aku ingin mendapatkan hak ku sebagai istri. Aku ingin mendapatkan nafkah batin." Nasi yang hendak disuapkan ke mulut Frans terhenti. Ia mengatupkan mulutnya dan menunda sendok di piring. "Aku tidak akan menuntut macam-macam. Pernikahan kita tetap hanya satu tahun. Aku ingin selama kita bersama, kita berperan sebagai suami istri sungguhan. Hanya kita yang tau. Aku tidak akan memberitahu Rayna." Dania berkata tenang dan tersenyum. Frans mengeryit heran. "Aku ingin kita Sarapan pagi bersama, makan malam bersama, tidur bersama bukan masing-masing. Seperti pasangan suami istri pada umumnya." Dania tidak seperti biasanya. Sikapnya tenang, senantiasa tersenyum. Frans tetap bergeming. Segera ia ingat pesan Rayna, 'jangan pernah menyentuhnya.' "Bagaimana Frans?" Frans menghela napas. "Aku tidak bisa Dania." Lelaki itu memalingkan wajah. Dia meneguk minum. Setelahnya Ia beranjak dari kursi meninggalkan Dania sendiri. . Frans terkejut ketika mengancingkan kemeja Dania memeluknya dari belakang. Spontan tangannya menurunkan lilitan Dania di perutnya. Dania yang menjelma berani, memeluknya lagi lebih erat. "Dania lepaskan." "Tidak akan sebelum kamu mengijinkan aku mengancingkan kemejamu dan memakaikan dasi." "Yasudalah." Dania tersenyum. Dia berpindah ke hadapan Frans segera mengancingkan kemeja bagian atasnya. Juga memasangkan dasi. "Sudah rapi. Sekarang ayo sarapan, aku sudah siapkan." Tanpa ucapan terimakasih Frans beranjak pergi. Di meja makan Dania dan Frans menikmati sarapan mereka. Satu persatu keinginan Dania menjadi istri Frans sungguhan terwujud. Frans tak menolak diajak sarapan bersama. Ketika akan berangkat kerja Dania mengantar Frans ke luar rumah. "Aku akan membawa mobil sendiri, Frans. Kamu pergi saja dengan mobilmu." Dia tidak akan memaksa Frans untuk berangkat bersamanya. Laki-laki itu pasti tidak nyaman. "Baik. Aku pergi." Frans melangkah. "Tunggu." Dania menghampirinya. Ia mengecup pipinya membuatnya menegang kaku. "Hati-hati." Dania tersenyum manis, Frans lekas pergi setelah terdiam beberapa saat. . Dania memijiti pundak Frans ketika laki-laki itu pulang kerja. Frans yang baru melepas dasi menoleh. Sorot lelah terpancar dari wajahnya. Dania yang sudah lebih dulu pulang menghampiri memijitinya yang tengah duduk di sofa. "Apa kamu sedang merayuku?" "Terserah kamu mau bilang apa. Aku hanya sedang berusaha menjadi istri yang baik. Diam dan nikmati. Tubuhmu akan lebih rileks setelahnya." Frans pun memilih diam. Membiarkan Dania memijitinya dari belakang. Setelah cukup lama Dania berpindah duduk di sisinya. Ia meraih kaki Frans memijitinya di pangkuannya. "Kamu sudah makan?" Frans menggeleng pelan. "Makan malam sudah siap. Mau makan sekarang? Biar aku temani." "Boleh." Dania tersenyum dan lekas berdiri. Dirangkulnya lengan Frans. "Ayo," Lelaki itu menurut dan mengikuti langkah Dania untuk ke meja makan. . Di kamarnya Frans belum tidur. Dia memutuskan membuka laptop. Dania membuka pintu begitu saja. Wanita itu masuk dan duduk di dekatnya di tempat tidur. "Aku iri pada laptop itu. Kamu selalu menyentuhnya. Sedang padaku kamu enggan." Telunjuk Dania mengusap ujung laptop, menyusuri pelan tiap sisi. "Aku ingin jadi laptop saja." Frans terdiam. Tangannya pada keyboard berhenti. "Apa aku begitu menjijikkan, sehingga kamu tidak mau menyentuhku?" Telunjuk Dania berpindah pada pipi Frans, termasuk jari tangannya yang lain. Mengelus lembut jambang tipis di bawah telinga. "Aku rela Frans, aku rela kamu tiduri, walau cuma istri sementara." Tatapan Dania mengarah pada bibirnya. Ingin ia mengecup atau dikecupnya. Ia rindu. Dihadapan Frans tampak belahan da.da Dania karena piyama yang seksi. Lelaki itu berpaling. "Frans," Dania memanggilnya pelan. Frans menatapnya kembali, tepat pada manik matanya. Laki-laki itu menghela napas. Ditutupnya laptop diletakkan di sisinya. Kakinya diturunkan dari tempat tidur. "Frans?" Dania memanggilnya lagi pelan. Suaminya itu membelakanginya. Frans menyeka wajahnya. "Aku kasihan padamu Dania. Aku ingin menjaga kehormatanmu. Kamu akan rugi." "Aku tidak peduli." Dania menyahut cepat. "Kamu akan kehilangan kegadisanmu sementara kita akan berpisah." "Memangnya kenapa? Meski aku masih gadis sekalipun, orang tidak akan percaya. Setelah menjada orang tidak akan menganggapku gadis lagi. Percuma aku mempertahankannya." Dania begerak mendekat memeluk Frans dari belakang. "Ijinkan aku merasakan menjadi istri kamu yang seutuhnya Frans." . Pagi-pagi sekali Dania sudah menyiapkan sarapan. Ia menata rapi piring dan menuangkan air mineral. Tersenyum lebar saat Frans datang duduk di kursi. "Silakan." "Terimakasih." Setelah mendekatkan piring makanan Frans, Dania pun duduk. Mereka sama-sama menikmati sarapan. Tak henti senyum merekah dari bibir Dania, meski kini hanya tersisa senyuman kecil. Hatinya senang. Frans semalam mau menyentuhnya. Kini, ia resmi bukan gadis. Rambut Frans basah seperti rambutnya. Frans menyetujui dengan sarat Dania jangan hamil. Mereka pun lalu melakukan hubungan suami istri. Frans memakaikan pengaman ketika pada puncaknya. Dania tidak kesakitan suaminya itu melakukannya sangat hati-hati. . Hari terus berlalu, bulan pun silih berganti. Dania semakin menunjukkan eksistensi dirinya sebagai istri Frans dengan melayani sebaik-baiknya di rumah. Mereka lebih akrab. Frans tidak sekaku dulu pada istrinya. Dania tidak sungkan bergelendot manja padanya disaat sedang menonton Tv. Mereka menikmati sisa-sisa kebersamaan mereka. Frans lebih sering berada di rumah. Jarang menemui Rayna, ia lebih banyak bersama Dania. Ponsel Frans terus berdering di saat ia tengah berpeluh bersama Dania. Frans meletakkan telunjuk di bibirnya, agar istrinya tidak mengeluarkan suara rintihannya. Dania di bawahnya mengangguk kecil. Bibir bawah ia gigit menahan segala rasa. "Hallo Rayna," Frans berusaha mengatur napasnya untuk terlihat normal, di tengah hasratnya sendiri. Tidak terdengar jelas yang diucapkan Rayna, suaranya kecil. Dania tidak tahu pacar Frans itu mengatakan apa. "Tidak bisa Rayna, ini sudah malam. Nanti saja. Iya, janji besok aku akan menemuimu. Sudah, ya, aku mau tidur." Frans menyudahi cepat telfon dari Rayna. Dania tidak menyangka setelah tadi ia tidak langsung mengangkatnya, membiarkannya lama, setelah diterima hanya bicara sebentar saja. Frans meletakan benda pipih itu di sampingnya begitu saja. Memandang Dania, ia memagut mesra bibirnya. Iistrinya menyambut memeluk punggungnya. Bersama kembali mereguk rasa surga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN