"Aku kangen sama kamu." Rayna memeluk Frans begitu ia melihatnya di ruang tamu, ia datang mengunjungi rumah Frans di hari libur. "Ayo, ke kamar." Rayna menarik lengannya.
"Tidak Rayna."
"Kenapa? Kamu tidak mau? Kamu gak kangen sama aku?"
"Kita ke hotel. Jangan di sini."
"Ini rumah kamu Frans, kamu tidak harus nurut sama perempuan itu!"
Rayna menunjuk Dania yang terdiam disudut ruangan.
"Dia selalu bisa bersama kamu setiap hari di sini. Sedangkan aku? Kamu bahkan sekarang jarang menemuiku Frans. Apa karena dia?" Kedua kali Rayna menunjuk Dania. Menapnya tak suka.
"Dengarkan aku. Dua bulan lagi aku akan berpisah dengannya. Kita akan bersama, di sini."
Satu tetes air mata lolos mengenai pipi, Dania lekas menghapusnya.
"Benar, ya, Frans?"
"Ya." Frans berkata pelan.
"Kamu tidak pernah menyentuhnya kan? Aku gak mau itu terjadi Frans."
"Ya, aku tidak menyentuhnya." Ia berkata dusta. Dalam hati Frans merasa bersalah pada dua Wanita didekatnya. Terutama Dania, istrinya yang sedih itu lalu pergi.
"Frans, ke apartemen aku aja, menginap di sana. Ayo."
Frans mengangguk dan mengikuti Rayna yang menggandengnya keluar.
.
Dania mematut diri di hadapan cermin. Wajahnya sudah dirias demikian cantik. Memakai gaun indah dan elegan. Ia akan dinner bersama Frans di restoran mewah dalam hotel.
"Aku lebih baik dari perempuan itu, Frans. Aku berhak bersamamu karena aku istrimu."
Sengaja Dania meminta makan malam di luar. Ia ingin menghabiskan malam di luar rumah bersama sang suami. Selagi bisa.
"Sudah?" Frans bertanya menyembul di pintu.
Dania mengagguk.
"Ayo," ajak laki-laki itu.
Frans membuka pintu mobil untuk Dania. Ia masuk duduk di balik kemudi setelahnya. Mobil melaju. Mereka pergi untuk kencan.
Direstoran mereka menikmati makanan yang lezat. Keduanya tidak banyak bicara sampai acara makan selesai.
"Aku mau berdansa Frans," selain makan malam Dania juga ingin menikmati berdansa.
"Ayo."
Mereka lantas berdiri, musik diputar petugas penjaga. Keduanya lalu berdansa. Bergerak pelan, bersentuhan tangan dan tampak mesra.
Tempat makan itu sudah di booking hanya untuk mereka berdua. Frans mau menuruti keinginan Dania yang mungkin tidak bisa ia wujudkan lagi nanti.
"Kamu senang?"
"Ya, Frans."
Punggung tangan Dania Frans kecup. Keduanya tersenyum.
"Kamu cantik sekali."
Bersemu merah pipi Dania mendengarnya.
.
Satu buah anggur merah Dania masukkan dalam mulutnya. Mengunyah lalu menelan. Ia hendak mengambil lagi anggur dari keranjang buah di nakas, tapi urung. Frans memeluknya dari belakang. Membuat pergerakan Dania terkunci.
Mereka berada di tempat tidur kamar hotel yang luas. Dania duduk di tepi tempat tidur dengan suaminya memeluknya.
Frans membalikkan tubuh istrinya. Membelai pipi. Gaun terbuka milik Dania ia turunkan pelan, kemudian ditelentangkan. Dania pasrah ketika Frans mencium bibir dan berada di atasnya.
Menit ke sepuluh, mereka sudah tanpa busana dan tengah memadu cinta kasih. Desahan dan rintihan terdengar sebagai ekspresi rasa surgawi yang tengah direguk keduanya.
Bruk!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Pasangan suami istri yang tengah berhubungan intim itu terlonjak kaget mendengar suara debuman yang keras.
Frans berlepas dari Dania. Ia langsung menarik selimut, menutupi dirinya dan juga istrinya.
"Rayna?!"
Frans terkejut orang yang membuka pintu dengan sangat kencang ternyata pacarnya.
Rayna mendekat cepat. Ia melayangkan satu tamparan keras di pipi Frans.
"Ternyata benar kabar yang kudengar. Kamu sering berhubungan dengan perempuan ini! Brengs.ek kamu Frans!"
Frans menghindar ketika Rayna hendak menamparnya lagi sehingga ia hanya menampar angin.
Buru-buru Frans memakai celana dan baju.
"Rayna, dengarkan aku."
"Aku gak butuh penjelasan apapun, semuanya sudah jelas. Dasar penghianat!" Rayna begitu murka, dia berbalik menatap Dania yang duduk tegang dibalik selimut. "Dasar jala.ng!" Ia menamparnya. Juga menarik rambutnya.
"Aw! Aaaa!"
"Enak-enakan kamu tidur dengan pacarku. Sialan!"
Frans menarik Rayna berusaha melepaskan jambakan dari rambut Dania.
"Maafkan aku Rayna,"
"Aku benci kamu Frans!"
Rayna meraih pisau di keranjang buah dan bergegas mendekati Dania kembali. Perempuan itu beringsut ke pojokan ranjang lalu turun dengan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Jangan Rayna!" Frans menghalangi pacarnya.
Dania di belakangnya ketakutan dan merapat ke dinding.
"Jangan halangi aku!" Rayna menggigit tangan Frans membuat pegangannya terlepas. Laki-laki itu mengaduh sakit. Dilihatnya Rayna sudah berada di dekat Dania.
"Rasakan ini!"
Crash!
Perempuan itu menggores leher Dania. Darah bercucuran keluar. Tubuh Dania oleng dan ambruk.
"Daniaa!" Frans berteriak histeris melihatnya.
"Aku ingin mengoyak perutmu juga."
Mendengar itu Frans lekas menghadang Rayna lagi. Perempuan itu seperti kerasukan. Amarahnya tak teredam.
"Kamu gi.la! Aku tidak menyangka kamu psyko!"
"Diam kamu settan! Anjingg! Babi! Monyet! Bajingaann!"
Frans membelalak mendengar kata-kata tidak berattitude dari mulut pacarnya itu.
Plak!
Cepat menampar pipi Rayna. Mata gadis itu semakin menyala dengan amarah.
"Berani kamu menamparku?!"
"Kata-katamu kotor!"
"Karena aku tidak terima kamu berhubungan dengan perempuan itu!"
"Dania istriku. Wajar aku melakukannya. Aku berhak menyentuhnya. Aku berhak berhubungan dengannya!"
Untuk pertama kalinya Frans membela diri dan Dania di hadapannya. Untuk pertama kalinya ia tidak peduli pada perasaan perempuan yang dianggapnya keterlaluan. Tidak ada perkataan lembut kepada Rayna sekarang. Dadanya naik turun karena geram.
Dania yang nyaris putus asa semangat kembali mendengar ucapan Frans. Sakit itu berkurang. Ia tersenyum kecil di tengah wajahnya yang memucat dan sorot matanya yang lelah. Ia pegangi lehernya yang luka dan basah darah menutupinya.
Rayna membelalak terkejut mendengar perkataan Frans.
"Aku akan membunuhmu juga!"
Pisau ia arahkan pada Frans. Namun, Frans lebih sigap mencekal lengannya. Berbarengan dengan itu orang-orang berdatangan.
"Ada apa ini?!"
"Tolong saya, perempuan ini mau membunuh saya dan istri saya."
Mereka lalu meringkus Rayna yang terus mencoba untuk membunuh Frans dengan pisau yang digenggamnya.
"Lepaskan! Kurang ajar! Kubunuh kalian semuaaa!"
Rayna meronta-ronta dipegangi banyak orang. Pisaunya diambil alih.
"Bawa perempuan ini!" titah petugas hotel. Rayna pun lekas dibawa keluar.
Seperginya mereka, Frans menghampiri Dania yang tergeletak lemas.
"Dania!" Frans panik melihatnya bersimbah darah. Dirangkulnya Dania dalam pelukannya.
"Jangan pergi. Aku ingin bersamamu selamanya ...." Ia menyesal dan sangat merasa bersalah. Sudut matanya berair dan terjatuh mengenai pipi Dania.
Dalam diam, hati perempuan itu sangat bahagia. Tangannya memegang erat lengan Frans.
"Bertahanlah, kita ke rumah sakit." Tubuh Dania diangkat setelah ditutup rapi selimut, Frans membawanya keluar.
"Maafkan aku ...." Di sepanjang koridor ia terus mengucapkan kata maaf. Sudah bersikap abai dan menyakitinya selama ini. Benarlah kata orang tuanya Dania perempuan baik. Tidak salah mereka memilihkannya. Sebaliknya Rayna perempuan jahat, pantas orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka. Kini ia menyadari dan takut kehilangan Dania.
Di lobi Dania melihat Omnya yang menjabat sebagai Manager. Laki-laki itu tersenyum, Dania juga. Rencana mereka berhasil. Omnya yang sudah memberi tahu Rayna. Meski ada adegan berdarah-darah Dania akhirnya bisa mendapatkan hati Frans, berhasil memiliki jiwa raganya. Sakit dari luka yang dirasakan akan hilang. Dania akan sembuh.
"Sabar dan berbuatlah dengan tulus, kabar baik akan menghampirimu." Benarlah kata Omnya.
Dania dimasukkan dalam mobil lalu dibawa untuk diobati, dengan ditemani Frans di sampingnya. Suami yang tidak akan meninggalkannya.