PART 9 : SERANGAN MENDADAK DARI RAIHAN

564 Kata
Raihan yang terbangun lebih dahulu itu pun menatap dua orang perempuan yang tertidur dengan berpelukan satu sama lain. Tempat tidur yang dulunya di gunakan oleh dirinya dan juga Indah sekarang di tempati oleh orang baru yang berstatus sebagai istrinya. Pemandangan berbeda seperti yang di lihatnya dahulu ketika sang istri, orang yang dicintainya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Raihan yang tengah asyik memandangi kedua perempuan itu langsung mengalihkan tatapannya dan beranjak dari tempat tidur ketika melihat salah satu dari keduanya membuka mata. ***** Di sisi lain, Fifi yang baru saja terbangun dari tidurnya itu pun merasakan sepasang tangan yang sedang memeluk dirinya. Kepalanya pun menunduk ke bawah dan melihat tangan sang anaklah yang memeluk dirinya. Tatapan Fifi pun tanpa sengaja mengarah ke samping kanan sang anak di mana sisi ranjang di sebelah sana terlihat kosong. Tak lama dari itu, terdengar suara percikkan air yang berasal dari dalam kamar mandi. Fifi yang tau itu siapa pun mengalihkan tatapannya ke arah sang anak dan membangunkannya. "Davina, bangun yuk sayang. Udah pagi" ucap Fifi sambil mengusap-ngusap kepala tersebut dengan lembut. Davina yang merasakan usapan tangan di kepalanya pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan setelah tersenyum ketika melihat orang yang tadi mengusap-ngusap kepalanya. "Selamat pagi, Mama ..." Fifi lantas ikut tersenyum di buatnya. "Selamat pagi juga anak Mama ..." "Papa mana, Ma?" tanya Davina. "Lagi mandi sayang" jawab Fifi. "Yaudah, yuk. Davina juga harus mandi, kan mau sekolah" sambungnya. Davina pun menganggukan kepalanya. "Davina ke kamar dulu ya, Ma ..." "Iya sayang ..." ucap Fifi. Setelah tak melihat keberadaan sang anak di kamar ini pun, akhirnya Fifi juga ikut pergi meninggalkan kamar tersebut dan menuju ke kamarnya. Raihan yang keluar dari kamar mandi pun menghentikan langkahnya ketika tak lagi melihat keberadaan dua perempuan yang berada di kamarnya. Setelah beberapa saat, barulah lelaki itu bersiap-siap memakai pakaian kerjanya. ***** Setelah selesai sarapan seperti biasa baik Raihan dan juga Davina akan berangkat ke rumah sakit dan ke sekolah. Fifi pun mengantarkan keduanya sampai ke depan rumah. "Mama, Davina berangkat sekolah dulu ya ..." pamitnya. "Iya sayang. Belajar yang rajin ya. Dan nurut sama guru" nasehat Fifi. "Siap Mama ..." sahut Davina dan mencium tangan perempuan tersebut. "Ayo, Davina" ajak Raihan. "Papa gak pamitan sama Mama?" tanya Davina dengan wajah yang bingung ke arah sang Papa. "Kan tadi Davina sudah pamitan, jadi Papa juga sekalian" jawab Raihan. Davina yang mendengarnya pun berdecak kesal. "Papa ini gimana sih, ya beda lah. Sekarang Papa pamitan sama Mama, Davina tungguin." Dengan menghela nafasnya, akhirnya Raihan pun mau tak mau berpamitan kepada Fifi. "Saya berangkat." "He'eum, hati-hati" sahut Fifi. "Papa udah pamitan, sekarang kita berangkat" ucap Raihan pada sang anak. "Kok gitu doang Pa? Biasanya Papa kalau sama Mama Indah dulu di peluk sama di cium" tanya Davina. Baik Raihan maupun Fifi yang mendengar itu sama-sama terdiam. Sampai pada akhirnya Raihan menatap Fifi yang berada di depannya dan kemudian mendekap perempuan tersebut kedalam pelukannya. Tindakan yang di lakukan oleh Raihan membuat tubuh Fifi seketika menjadi kaku. Terkejut?tentu iya, perempuan itu sangat-sangat terkejut karena tindakan tersebut. Fifi hanya bisa berdiam tanpa membalas pelukan Raihan di tubuhnya. Dan beberapa saat, barulah lelaki itu melepaskan pelukannya sehingga membuat Fifi merasa lega. "Ayo sayang berangkat" ucap Raihan pada sang anak. "Ayo, Pa" sahut Davina. "Dadah Mama ...." sambungnya. Fifi yang melihat itu pun tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah sang anak. Mobil berwarna putih itu pun melaju meninggalkan pekarangan rumah tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN