Kehidupan rumah tangga Raihan dan juga Fifi sudah berjalan selama tiga bulan lamanya. Namun, hubungan keduanya tetap tidak ada perkembangan sama sekali. Keduanya berbicara jika hanya sedang di perlukan saja. Bahkan, sampai sekarang kedua pasangan suami istri tersebut masih tidur di kamar yang berbeda. Mereka memang pernah tidur di kamar yang sama tetapi itu pun ada Davina di antara mereka. Dan jika keduanya di tanya oleh Davina kenapa sampai sekarang tidak tidur di kamar yang sama maka mereka mencari alasan yang masuk akal agar gadis tersebut percaya.
Davina memang tidak pernah sama sekali pun menuntut kedua orang tuanya untuk bisa sama seperti orang tua teman-temannya. Anak itu mengerti bahkan sangat mengerti. Meskipun usianya baru mencapai sepuluh tahun, pikiran anak tersebut berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Di usianya itu, Davina sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa. Namun meski begitu, Davina tetaplah seorang anak yang berusia sepuluh tahun yang masih ingin di manja dan juga di perhatikan. Contohnya saja seperti sekarang, di mana anak tersebut tengah menonton sebuah film di temani oleh kedua orang tuanya di sisi kanan dan juga kirinya. Bahkan, sedari tadi Davina selalu saja membuat dua orang dewasa di sana merasa canggung akibat perbuatan gadis tersebut. Pasalnya, Davina membawa kedua tangan orang tuanya ke atas pahanya dan membuat kedua tangan tersebut saling menggenggam satu sama lain.
Di saat asyik menikmati film tersebut, bel rumah mereka pun berbunyi membuat Fifi segera melepaskan tangannya dan beranjak ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.
Pintu berwarna hitam itu pun di buka oleh Fifi. Dan ekspresi terkejut sangat terlihat jelas di wajah cantik tersebut. Bagaimana tidak, di depannya saat ini ada kedua orang tua dan juga mertuanya lah yang datang berkunjung.
"K-kalian ..." gumam Fifi pelan. Rasa panik seketika menyeruak di dalam diri perempuan tersebut karena takut jika kedua orang tua dan juga mertuanya mengetahui jika selama ini dirinya dan juga Raihan tidur di kamar yang berbeda.
"Kejutan ..." ucap Bunda Mayang dan juga Mama Desi berbarengan dengan wajah yang terlihat senang.
"Kaget ya sayang? Maaf ya, soalnya kita juga dadakan ke sininya" sahut Mama Desi yang melihat wajah sang menantu terlihat kaget akan kedatangan mereka.
"A-ah, Fifi cuma sedikit kaget kok Ma, apalagi Fifi gak nyiapin apa-apa di rumah" ucap Fifi tak enak.
"Kamu tenang aja Fi, kita kesini bawain banyak makanan kok. Nanti biar Papa dan Ayah kamu yang bawa ke dalam. Sekarang kita masuk aja, Mama kangen banget sama Davina."
Setelah mengatakan itu, Fifi, Bunda Mayang dan Mama Desi masuk ke dalam rumah meninggalkan dua lelaki paruh baya yang mengambil beberapa makanan di bagasi mobil.
Di sisi lain, Raihan dan Davina masih asyik menonton film di ruang keluarga. Sampai pada akhirnya, teriakan dari Bunda Mayang dan Mama Desi menginterupsi Ayah dan anak tersebut.
"DAVINA ..."
"YUHU! CUCU NENEK"
Baik Raihan dan juga Davina pun langsung menengok ke arah belakang mereka. Davina yang melihat itu pun beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua wanita paruh baya tersebut, kemudian memeluknya.
"Davina kangen banget sama nenek dan oma ..."
Kedua wanita paruh baya yang mendengar ucapan sang cucu pun lantas tersenyum.
"Nenek juga kangen banget sama Davina" ucap Bunda Mayang.
"Oma pun sama. Kangen banget sama Davina" timpal Mama Desi.
Setelah beberapa saat berpelukan, akhirnya Davina pun melepaskan pelukan tersebut dan menatap kedua wanita paruh baya yang berada di hadapannya. "Kakek sama opa gak ikut?"
"Kakek di sini ..."
"Opa di sini ..."
Sahutan dari belakang membuat kedua wanita paruh baya itu menyingkir dan terpampang dua orang laki-laki paruh baya yang membawa beberapa plastik hitam di tangan kanan dan kirinya.
"Yeay! Ada kakek dan opa juga. Davina senang" pekik Davina dengan raut wajah yang bahagia.
Raihan yang melihat barang bawaan dari orang tua dan mertuanya itu pun lantas menghampiri keduanya. "Sini biar Raihan yang bawa Yah, Pa."
"Eits, gak usah. Masa yang tuan rumah yang bawa sih. Biar Ayah dan Papa kamu aja yang bawa ke meja makan" sahut Ayah Dimas.
"Nah, kalau gitu ayo semuanya kita ke meja makan" ucap Bunda Mayang dan kemudian berjalan sambil mengandeng tangan sang cucu di tangan kirinya menuju meja makan.
*****
Dan di sini lah mereka semua, yaitu di meja makan dengan berbagai macam makanan yang tersaji di depan mereka dimulai dari pizza, burger, kentang goreng, ayam goreng, daging, minuman dan juga beberapa kue.
"Fifi jadi gak enak malah kalian yang bawa makanan ke sini" ucapnya.
"Gak papa sayang. Kan kamu juga gak tau kalau kita semua bakalan ke sini" sahut Bunda Mayang.
"Iya Fi, gak papa. Yaudah, ayo kita semua serbu makanannya" ucap Mama Desi penuh semangat.
Akhirnya mereka semua pun menyantap semua makanan yang berada di atas meja tersebut.
"Uh, perut Davina udah kenyang banget rasanya" sahutnya.
Fifi yang mendengarnya lantas tersenyum. "Bilang apa sayang?"
"Alhamdulillah" jawab Davina
Semua orang yang berada di meja makan itu pun ikut tersenyum ketika melihat interaksi antara Fifi dan Davina, terkecuali satu orang yaitu Raihan.
"Oh iya, Kakek, nenek, opa sama oma nginap gak?" tanya Davina.
"Em, gimana ya" jawab Mama Desi dengan gaya berpikirnya.
"Ayo dong oma, nginap aja" ucap Davina dengan muka melasnya.
Mama Desi pun langsung tersenyum. "Iya. Oma, opa, kakek dan nenek bakalan nginap di sini."
Davina yang mendengarnya pun bersorak senang. Berbeda dengan Fifi dan Raihan yang saat ini tengah panik dan juga bingung karena kedua orang tua mereka akan menginap di sini malam ini.
"Eh, tapi kan kamar di rumah ini cuman ada empat. Cukup gak ya buat kakek, nenek, oma sama opa" sahut Davina tanpa sadar.
Perkataan dari Davina membuat keempat orang paruh baya di sana di buat bingung tak mengerti. Sedangkan Raihan dan Fifi saat ini di landa perasaan yang was-was akibat ucapan tersebut.
"Maksudnya sayang? Kan cukup dong kamar untuk nenek, kakek, oma dan opa nginap di rumah ini. Bukannya kamar tamu di sini ada dua ya?" tanya Bunda Mayang pada sang cucu.
"Iya nek, emang ada dua. Tapi kan satunya di pakai sama Mama" jawab Davina jujur dan melupakan janjinya yang ingin merahasiakan itu semua dari kakek, nenek, oma dan juga opanya.
Jawaban tersebut membuat keempat orang paruh baya di sana terkejut. Sedangkan Raihan dan Fifi sekarang hanya bisa pasrah akan keadaan mereka selanjutnya.
"Raihan ... Fifi ... Sepertinya kita harus bicara" ucap Papa Panji dengan raut wajah yang serius dan kemudian beranjak dari meja makan di ikuti oleh Ayah Dimas, Bunda Mayang dan juga Mama Desi.
Baik Raihan dan Fifi pun akhirnya sama-sama menghela nafas mereka dengan berat.