Bab 1 Pengkhianatan Kejam
“Oooh, terus babe, goyanganmu memang paling hot!”
Gadis yang terus bergerak liar di atas tubuh sang pria, seolah sedang menunggangi kuda itu tertawa puas di sela napasnya yang terengah.
“Sudah kubilang, kan? Hanya aku yang bisa memuaskanmu, bukan kakakku yang frigid itu.”
“Yeah.. ka-kamu hebat, Jasmine.. Aaah…”
Kalimat pria itu terhenti oleh sentakan kuat si gadis yang terus bergerak liar di atas tubuhnya.
Mereka tidak tahu, sepasang mata sedang menyaksikan perbuatan mereka dari celah pintu dengan sorot mata yang awalnya terkejut, syok lalu beralih membara dengan kemarahan.
Tidak ada air mata.
***
30 menit sebelumnya…
“Eh… Kok nggak ada?”
Ameera menutup laci meja kerjanya dengan dahi mengerut. Dokumen yang ia cari bahkan tidak ada di dalam laci.
Saat itu ia sedang berada di klinik kecantikan yang ia bangun bersama dua orang seniornya di kampus, Dokter Yoga dan Dokter Diana. Selain berperan penting sebagai dokter, Ameera juga bertanggung jawab membuat laporan perkembangan pasien. Dan hari ini ia harus menyerahkan laporan itu ke Dokter Yoga, karena mulai besok ia akan sibuk dengan urusan persiapan pernikahan.
“Ke mana ya…?” gumamnya lagi, pelan.
Mata Ameera berkeliling ke setiap sudut ruangan itu, berharap ia mungkin salah taruh, tapi memang dokumen yang ia cari itu tidak ada di mana-mana.
‘Bagaimana bisa nggak ada?’
Ameera menyerah, dan duduk tegak di kursi kerjanya. Laporan itu seharusnya ada di tasnya. Padahal semalam ia sampai begadang agar bisa menyelesaikan laporan itu agar siang ini bisa diserahkan pada dokter Yoga.
Tujuh hari lagi adalah hari pernikahannya, dan Ameera sudah mengajukan cuti agar bisa fokus mengurus persiapan pernikahan. Dia ingin pesta pernikahannya dia atur sendiri, agar terasa lebih personal dan berkesan.
Melelahkan memang, tapi Ameera rasa pengorbanan itu sepadan, karena ini adalah momen sekali seumur hidup. Terlebih Bimo, calon suaminya, tidak protes dan siap membantu mewujudkan pesta pernikahan impiannya.
Bibir Ameera merekah, senyum bahagia. Akhirnya setelah pacaran selama 5 tahun, mereka akan menikah. Tentu saja Ameera akan berusaha membuat momen pernikahannya tak akan terlupakan, selalu dikenang seumur hidup mereka.
Jadi dia harus menyerahkan laporan itu, agar selama beberapa hari ke depan, dokter Yoga dan dokter Dina bisa menangani urusan pasien dengan tepat, dan Ameera bisa mengurus persiapan pernikahan hingga melangkah ke pelaminan di hari H tanpa diganggu urusan pekerjaan.
Ameera menyandarkan punggung, berusaha rileks dan mulai mencoba mengingat-ingat kira-kira dia menaruh laporan itu di mana.
‘Sepertinya aku lupa masukin tas tadi,’
Ameera menghela napas panjang. Dia tadi buru-buru keluar rumah karena sudah ditunggu pasien, seorang selebriti terkenal yang setiap menit waktunya sudah tersusun dijadwal, jadi tidak punya banyak waktu untuk menunggu.
Ameera meraih ponsel dan kunci mobil lalu melangkah keluar.
“Ida, aku balik ke rumah sebentar, mau ambil laporan. Ketinggalan tadi,”
“Ciee.. si calon pengantin… Jadi pelupa gara-gara terlalu sibuk ngurusin pesta, ya?” Ida, asisten Ameera, tertawa kecil saat melihatnya melangkah terburu-buru.
Ameera hanya tersenyum tipis. “Tadi udah buru-buru, lupa belum masukin tas,”
“Karena terlalu bahagia on the way jadi istri pria paling tampan sejagat raya, makanya jadi teledor ya, Dok?” goda seorang staf lain.
Ameera menanggapi dengan tawa kecil, lalu melangkah keluar. Senyum masih merekah saat dia sudah berada di dalam mobil dan mengemudi perlahan.
Bimo, calon suaminya memang tampan, dan teman-temannya di klinik menjulukinya begitu, karena penampilannya yang nyaris tanpa cela. Sebagai salah satu pejabat di BUMN besar, Bimo sangat menjaga citranya, dan penampilannya selalu memukau.
Senyum Ameera makin lebar. Dia meraih ponsel dan melihat riwayat percakapannya dengan Bimo pagi ini.
Pria itu meneleponnya sejak jam setengah lima subuh, setelah shalat. Mereka bicara sampai pagi.
Kangen.
Selalu itu yang Bimo katakan, padahal baru kemarin dia berangkat ke Manado, ada urusan pekerjaan dan akan kembali besok.
Bimo memang seromantis itu. Berbicara berjam-jam dengannya selalu tidak terasa.
Ameera memutar kemudi sambil tersenyum bahagia. Akhirnya mereka akan menikah tujuh hari lagi. Rasanya tidak sabar menunggu hari bahagia itu.
*
Rumahnya tampak tenang saat ia tiba. Tidak ada kendaraan di garasi selain sepeda motor Jasmine, adiknya yang masih mahasiswa semester akhir. Ayah dan ibunya sedang ke Bandung untuk menjemput kakek dan nenek sekaligus mengantar undangan pernikahan untuk keluarga besar.
Rumah sangat sepi.
‘Jasmine pasti di kamarnya,’ pikir Ameera santai.
Ia langsung naik tangga ke lantai dua, menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Jasmine. Langkahnya ringan, pikirannya hanya pada satu hal, mengambil laporan di kamarnya dan kembali ke klinik, membereskan semua tanggung jawabnya hari ini.
Namun saat akan melewati kamar Jasmine yang berada tak jauh dari tangga, langkahnya tiba-tiba melambat melihat pintu kamar adiknya terbuka sedikit.
Aneh. Biasanya Jasmine selalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dan tidak pernah membiarkan pintu terbuka seperti ini.
Ameera mengernyit, ia mendengar suara samar-samar, seperti orang sedang bercakap-cakap.
‘Jasmine sedang berbicara dengan siapa?’
Ameera melangkah lagi lebih dekat, sampai suara itu terdengar jelas.
“Aku nggak sabar lihat wajah kakakmu saat kita memberinya kejutan di hari pernikahan.”
Ameera berhenti dengan napas tercekat. Itu suara yang sangat ia kenal, suara Bimo, calon suaminya. Dan jelas kedengaran itu bukan suara dari ponsel.
Jantung Ameera berdetak cepat.
‘Bukannya Mas Bimo masih di Manado dan baru akan kembali besok? Bagaimana dia bisa berada di kamar Jasmine?’
Tangan Ameera langsung menegang, genggaman di ponsel mengeras. Instingnya bisa merasakan sesuatu yang tidak benar.
Terdengar suara Jasmine menyusul, ringan dan manja seperti biasanya, tapi menusuk.
“Dia pasti bakal diam, Mas. Mbak Ameera itu selalu sok kuat, tapi aku tahu banget, dia itu gampang hancur. Luarnya aja yang kelihatan kokoh, tapi hanya diremas sedikit aja, pasti langsung remuk, hancur.”
Kalimat kejam itu diakhiri dengan tawa sinis mengejek.
Ameera memejamkan mata sebentar, menguatkan diri untuk tidak langsung menerjang ke dalam kamar dan membongkar kebusukan kedua bajing@n itu. Tapi walaupun syok, dia berusaha keras untuk tidak lepas kendali.
Mereka punya rencana, dan sepertinya ini sudah berlangsung di belakangnya dalam waktu lama. Dia memang mudah hancur, tapi dia tidak akan membiarkan kejahatan mereka menang dengan mudah.
Ameera melangkah satu langkah lagi dengan tubuh gemetar. Dari celah pintu yang sedikit terbuka itu, ia melihatnya.
Bimo duduk di tepi tempat tidur dan Jasmine duduk di pangkuannya. Mereka sama-sama tanpa busana.
Ameera mulai merasa mual, jijik sekali melihat bagaimana lengan Bimo melingkar di pinggang adiknya sendiri. Namun nalurinya mendorongnya mengaktifkan kamera, membuat bukti yang pasti akan diperlukan nanti.
Mereka tidak menyadari kehadirannya, keduanya terlalu terlena dengan permainan m3sum dan rencana busuk mereka.
“Nggak sabar menunggu hari itu, Mas. Bayangkan, Mas Bimo mengumumkan di depan semua tamu, bahwa Mas nggak jadi menikahi Mbak Ameera. Kayak apa mukanya nanti, ya?” kalimat Jasmine lagi-lagi diakhiri tawa penuh ejekan.
Bimo terkekeh pelan. “Dan kamu juga ninggalin Dewa. Nggak kebayang wajah laki-laki cacat yang sok itu,”
Jasmine mengangkat alis, “Siapa yang sudi menikah dengan laki-laki cacat itu?” Ia merengut manja, lalu melanjutkan dengan tawa mengejek, “Pada akhirnya kita berdua yang akan menjalani akad dan berdiri di pelaminan, dan bilang ke semua orang, kita saling mencintai. Skandal yang sempurna, kan?”
Bimo mengangguk puas, “Ini bakal jadi kemenangan besar buat kita berdua, sayang. Mereka bakal jadi bahan pembicaraan orang seumur hidup mereka,” ucap Bimo santai.
Jasmine tertawa puas, bokongg bulatnya mulai bergerak liar di atas pangkuan Bimo.
“Sekarang aku bakal puasin kamu, Mas. Kamu kangen goyanganku, kan?”