"Gila, ya, kalian berdua... " Omel Diva saat Nadia berkunjung ke toko siang itu. Bukanya marah karena di marahi Nadia malah meringis. "Ciuman itu enak tau. Belum pernah, kan? " Diva memilih melengos. "Albert itu pencium yang hebat. Ya Tuhan... Aku sampai mau gila rasanya. " Nadia mengingat ciumannya semalam. Dia benar-benar larut dalam ciuman panas mereka. Rasanya ia masih bisa merasakan hangat lembut bibir Albert. "Ya ampun... Diva. " Pekik Nadia. "Kayaknya aku jatuh cinta sama Albert. " Yang diajak bicara hanya menatap sebal. "Kenapa gitu mukanya? Nggak suka kalau aku suka sama Albert? " "Bukannya nggak suka tapi gara-gara kalian, Rangga cium aku. " "Hah? Seriusan? " Nadia heboh. "Kamu pikir wajah kayak begini itu lagi bercanda. " "Sepertinya kamu serius. " Diva

