Bab 3. Firasat Mila

1291 Kata
Lanjut yuk ah tinggal kan jejak kalian ya..... *****® Sudah satu minggu lewat Mila dan Ivan tidak bertemu, mereka sama-sama saling sibuk, hanya lewat pesan singkat, Via telfon atau vidio call saja mereka bertemu.Mila tidak pernah mempermasalahkan itu selama mereka saling memberi kabar. Mila saat ini tengah di sibukkan dengan menulis novel online dan juga berjualan aneka makanan online untuk tambahan biaya kuliah, dia tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang dia punya, Mila bersyukur masih punya ayah, Ivan,dan orang tua Ivan yang sayang kepadanya, juga paman dan bibi adik dari ayahnya. Mila sangat senang ketika mendapat panggilan dari ivan Ivan calling segera mila menggeser tombol hijau "Hallo assalamualaikum Van,"sapa Mila dari sebrang. "Waalaikumsalam Mimi,"jawab Ivan dengan pura pura bahagia. "Ada apa Van? kenapa suara kamu berbeda? apa kamu sakit?"Mila bertanya dengan khawatir. "Oh enggak Mi, mungkin hanya lelah saja, em besok kan hari minggu kita jalan yuk, kebetulan aku libur, kamu bisa ga?"ajak Ivan. "Ok aku selalu bisa, hehehe,"canda Mila. "Ok kalo gitu besok aku jemput kamu jam 9 pagi ya,"kata Ivan memberi tahu jam nya. "Iya emang kita mau kemana van? kok tumben pagi banget?"tanya Mila heran. "Ada deh nanti juga kamu tau,"balas Ivan santai. "Mulai deh misteriusnya, kebiasaan kamu tuh ya,"grutu Mila dengan kebiasaan Ivan. "Ya mau gimana lagi,"ucap Ivan sambil terkekeh. "Ya sudah kalo gitu aku ikut ajalah,"pasrah Mila pada akhirnya. "Harus donk, ya sudah sampai jumpa besok ya selamat malam sayang,"pamit Ivan. "Malam juga yank, assalamualaikum,"tutup Mila. "Waalaikumsalam,"jawab Ivan sebelum telfonnya di matikan. Mila sangat senang sekali, rasanya sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Mila melihat jam ternyata sudah jam 7 malam, tapi dia heran karena tidak biasanya ayahnya belum pulang, apalagi ini malam minggu, dan juga tidak memberi kabar, Mila jadi khawatir sampai dia putuskan untuk menelfon ayah nya. Ayah calling "Hallo assalamualaikum yah,"salam Mila. "Waalaikumsalam nak ada apa?"tanya ayah. "Kenapa ayah belum pulang? ayah ada di mana?"Mila langsung bertanya pada intinya. "Ayah sedang di restoran bertemu dengan sahabat ayah, maaf ayah lupa memberi kabar kepadamu,"ayah menjawab apa adanya. "Oh gitu, ya sudah kalo ayah tidak apa-apa, aku akan tunggu ayah pulang, hati-hati di jalan ya yah,"Mila mengingatkan ayahnya. "Iya nak, kalo kamu ngantuk tidur aja dulu ayah tidak apa-apa,"ayah merasa tidak tega. "Oh iya ya, kalo gitu Mila masuk kamar ya, nanti kalo ayah sudah pulang dan butuh apa-apa panggil Mila saja ya yah,"ucap Mila sebelum berpamitan. "Iya nak, ya sudah, assalamualaikum,"tutup ayah. "Waalaikumsalam yah,"jawab Mila. ******® Di tempat lain Ayah Mila sedang bertemu dengan ayah nya Ivan, mereka mengobrol serius karena sebenarnya ada masalah yang sangat serius untuk hubungan ivan dan Mila. "Mas aku benar-benar minta maaf untuk kejadian ini, bukan maksudku untuk mengacaukan semuanya, aku sayang sama Mila tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa,"ucap ayah Ivan dengan nada sendu. "Iya mas aku paham, apa yang sedang menimpamu, akan aku coba bicarakan dengan Mila semoga dia mengerti dan paham," ucap ayah Mila mencoba mengerti dan bersabar. "Sekali lagi ini diluar kehendak ku mas, aku benar-benar bingung harus berbuat apa, istriku sampai nangis terus karena hal ini, jujur dia juga tidak ingin kehilangan Mila, apalagi, ayah ivan memberi jeda untuk dirinya sendiri, apalagi Ivan sekarang berubah jadi pendiam, dingin, sering marah, dan jarang pulang."cerita ayah ivan panjang lebar dengan air mata yang mengalir. "Ya Allah mas kenapa ivan jadi seperti itu?"ayah Mila sangat kaget. "Karena dia juga tidak mau kehilangan mila, dia sangat mencintai Mila begitu pula dengan kami, aku merasa bersalah mas,"jawab ayah Ivan sambil menunduk lesu. "Sudahlah mas mungkin Mila dan Ivan tidak berjodoh, jika mereka memang ditakdirkan berjodoh pasti akan ada jalan nya mas,"ayah Mila berusaha menguatkan temannya. "Maafkan aku mas,"sesal ayah Ivan. "Iya tidak apa-apa, aku akan berusaha membantumu,"ucap ayah Mila dengan ikhlas. Mereka berpelukan cara laki-laki dewasa, saling menyalurkan rasa sakit akan hari esok untuk anak-anak mereka. ******® Setelah pertemuan semalam dengan ayah Ivan, ayah Mila terlihat tidak tenang, bahkan ayah Mila tidak bisa tidur semalaman, dia terus berfikir bagaimana cara menyampaikan kepada Mila tentang kesulitan ayah Ivan untuk mengambil keputusan itu. Hingga pagi menjelang ayah Mila belum juga bisa tidur, hanya merebahkan diri saja di kamar sambil menatap langit kamarnya. Di dapur Mila sudah menyiapkan sarapan di bantu dengan mbak minah, setelah sarapan tersedia di meja makan, Mila mengetuk pintu kamar ayahnya. Tok tok tok "Ayah sarapannya sudah siap, ayah sudah bangun belum?"tanya mila dari luar. "Iya nak ayah sudah bangun, sebentar ayah akan keluar, kamu tunggu di meja makan ya,"perintah ayah, yang menjawab dari dalam. "Baik yah,"sahut Mila dan mulai berjalan ke ruang makan. Tak butuh waktu lama ayah sudah keluar dan menuju meja makan, ayah duduk dengan setenang mungkin menyembunyikan rasa kalutnya, agar Mila tidak curiga. "Em yah, Mila ijin, nanti Mila pergi sama Iavan jam 9,"ijin Mila setelah mereka menyelesaikan sarapan nya. "Oh mau kemana?"tanya ayah masih dengan tenang. "Enggak tau yah Ivan gak bilang, dia cuma bilang ke suatu tempat,"Mila menjelaskan. "Baiklah ayah mengijinkan mu, nanti ayah juga mau istirahat di rumah karena badan ayah agak capek,"ayah memberi alsan karena memang beliau sedang ingun di rumah. "Ayah sakit?"tanya Mila khawatir. "Tidak nak hanya kecapean saja,"ayah menenangkan Mila. "Ya sudah nanti ayah istirahat yang cukup, biar nanti Mila buatkan wedang rempah ya yah,"ucap Mila dan dengan sigap akan membuat minuman herbal. "Iya nak terimakasih,"jawab ayah sambil tersenyum. Pukul 8 mila sudah selesai membuatkan minuman rempah untuk ayahnya, dia kemudian bersiap-siap karena Ivan selalu tepat waktu, Mila masuk kamar dan menyiapkan dirinya. Mila memakai kaos berlengan pendek, di padu dengan jaket kesayangannya dan juga celana jeans dan sepatu kets dengan warna yang senada, terlihat santai namun tetap cantik untuk Mila. Dia duduk manis di teras rumah sambil menunggu Ivan datang, tak butuh waktu lama Ivan datang tepat pukul 9 pagi, sesuai dengan janjian mereka. Ivan turun dari motor menghampiri Mila dan menanyakan ayah Mila untuk meminta ijin. "Ayah mana Mi?"tanya Ivan mencari sang ayah. "Ayah sedang istirahat, ayah kecapean katanya,"Mila menjelaskan. "Oh begitu apa ayah sudah tau jika hari ini kita akan jalan-jalan?"tanya Ivan lagi. "Iya Van ayah sudah tau dan sudah memberi ijin,"jawab Mila. "Ya sudah kalo gitu kita langsung berangkat,"ajak Ivan setelah dia tau jika sudah mendapatkan ijin. Mereka pergi jalan-jalan ke suatu tempat yang Mila belum ketahui, selama perjalanan mereka saling diam, Mila merasa ada yang salah dengan Ivan, karena sejak tadi malam Ivan terlihat beda, tidak seperti biasanya, Mila sangat mengenal Ivan, jadi Mila bisa merasakan ada sesuatu yang Ivan sembunyikan dari nya. Mila hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan kepada Ivan tentang itu. Di suatu tempat Mereka sudah sampai di tempat yang dituju oleh Ivan, Mila sangat senang karena dia tidak menyangka akan diajak Ivan ke tempat ini, di pegunungan yang lumayan asri dan terlihat pemandangan yang sangat indah di bawahnya, ada danau kecil yang menambah keindahan tempat itu. "Van aku gak nyangka ada tempat seindah ini di kota ini, ya meski jaraknya lumayan jauh juga,"kata Mila dengan antusias. "Kamu senang Mi?"tanya Ivan berusaha baik baik saja. "Iya aku senang sekali, tempat ini sangat nyaman dan tenang,"jawab Mila dengan senyuman manisnya. "Syukurlah kalo kamu suka," Ivan merasa lega. "Em Van kamu kenapa?"sambil kedua tangannya menangkup wajah Ivan. "Aku tidak apa-apa Mi,"elak Ivan berusaha tenang. "Jangan bohong Ivan, aku tau kamu, kita sama-sama sudah lama, dan aku tau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku,"kata Mila yang tidak bisa di bohongi. "Aku, Ivan menundukkan kepalanya,"Ivan merasa tak kuasa untuk berkata jujur kepada Mila. "Cerita lah aku akan sangat senang jika kamu mau membagi kesedihan mu kepadaku, tenanglah aku akan mendengarkan mu sampai selesai,"Mila berusaha memberikan kekuatan untuk Ivan bercerita. "Mi,"ucap Ivan terpotong dia sambil menggenggam tangan Mila. "Iyaa ada apa?"Mila bertanya dengan nada lembut meski hatinya gelisah. Ivan masih saja diam, dia semakin erat menggenggam tangan Mila, bahkan sangat erat. ******® Apa kira kira? Penasaran, ikuti terus ya. Salam kenal semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN