Bab 5. Perpisahan

1173 Kata
Mona berjalan kekamar dengan air mata yang terus mengalir, dia merasa bersalah atas hancurnya hati Ivan dan Mila, meskipun Mona belum pernah bertemu dengan Mila, tapi dia yakin Mila akan sangat hancur dengan keputusan ini. Mona juga tidak bisa melakukan apa-apa dia tidak tau harus berbuat apa, hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan saat ini. *****® Kembali ketempat Ivan dan Mila Mereka masih terus melamun dengan pikiran mereka masing-masing, hingga rasa panas menyadarkan mereka, bahwa waktu sudah sangat siang dan matahari sudah berada diatas kepala mereka. "Mi ayo kita pergi dari tempat ini, ini sudah sangat panas, aku gak mau kamu sakit." ajak Ivan. "Iya Van kita pergi biarlah tempat ini jadi saksi cinta kita, yang tidak akan termakan waktu," Mila menyetujui. Ivan langsung menarik Mila kedalam pelukannya, pelukan yang akan sangat dia dan Mila rindukan, rasa nyaman tenang hangat dan harum dari tubuh mereka masing-masing, akan mereka rindukan, tidak akan bisa terganti. Mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan sejuta perasaan yang entah tak berbentuk lagi, mereka berniat untuk mampir ke cafe kembali ceria, mereka berharap mereka akan kembali ceria sama seperti nama cafe itu. Mereka memilih makan siang bersama sambil terus menikmati sisa waktu mereka, karena setelah hari ini mereka memutuskan untuk tidak bertemu lagi, karena hal itu hanya akan saling menyakiti. Mereka makan dalam hening, hanya ada dentingan alat makan yang bertabrakan tidak ada percakapan diantara mereka. Setelah selesai Ivan memutuskan membawa Mila ke taman belakang cafe tersebut, di situ Ivan mengajak Mila duduk di bangku taman yang sangat teduh, karena bangku itu di bawah pohon. Ivan mengeluarkan kotak berukuran sedang dari saku jaketnya, dia memberikan kotak itu kepada Mila. "Apa ini van?" tanya Mila. "Buka lah itu untukmu," jawab Ivan lembut, seperti biasa. Kemudian Mila membuka kotak itu dan melihat isinya, sebuah gelang yang sangat cantik, kemudian Ivan mengambilnya dan memakaikannya di tangan kiri Mila sambil berkata. "Teruslah pakai ini biarkan aku berada di dekat nadi mu dan jangan pernah kamu lepaskan itu," kata Ivan lembut dan penuh harap. "Aku janji aku akan selalu memakainya, aku tidak akan pernah melepas ini sampai kapanpun," jawab Mila dengan yakin. "Aku harap gelang ini mampu memberikan kehadiranku di samping mu, maafkan aku dengan semua keadaan ini," kata Ivan. "Dengar jangan pernah meminta maaf karena ini bukan kesalahanmu, apapun yang saat ini terjadi di antara kita adalah takdir yang harus kita jalani," ucap Mila dengan ketegarannya. "Kamu benar-benar wanita yang hebat aku tidak akan pernah menyesal karena sudah mencintai kamu," kata Ivan lirih. Mila melihat gelang yang sekarang sudah melingkar di tangan kirinya, gelang yang sangat indah sesuai dengan yang pernah dia impikan dulu. "Van apa gelang ini kamu yang gambar?kenapa bentuknya sama persis dengan yang pernah aku ceritakan ke padamu," tanya Mila. "Iya aku yang menggambarnya dan aku pesan khusus buatmu," jawab Ivan. "Terimakasih van, akan aku jaga gelang ini sampai kapanpun," kata Mila dengan berbinar. Ivan hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mila tanpa bisa membalas perkataannya, Ivan langsung membawa Mila kedalam pelukannya, merasakan segala rasa yang akan segera terpisahkan setelah hari ini... Mereka banar-benar harus berpisah karena semua yang terjadi esok tidak akan sama dengan hari ini,dua bulan lagi Ivan akan bertunangan dan bulan depannya mereka akan menikah. Orang tua Ivan sengaja melakukan semua dengan cepat, karena saat ini Mona sudah ada di rumah mereka, demi menghindari omongan yang tidak baik di keluarga mereka, akhirnya semua di lakukan dengan cepat. Dan Mila tau itu, karena Ivan sudah menceritakan semuanya, begitupula dengan orang tua Mila, yang sudah tau dari ayah ivan waktu pertemuan kemarin. Hari menjelang malam, mereka putuskan untuk pulang, Ivan mengantar Mila sampai ke rumah, Ivan juga masuk kedalam berniat untuk bertemu dengan ayah Mila dan menyampaikan segala yang terjadi. "Assalamualaikum ayah kami pulang," "Waalaikumsalam nak ayo masuk." "Duduk dulu Van aku ambilkan minum." "Iya Mi," "Nak bagaiman dengan kalian?" "Apa ayah sudah tau?" "Iya ayah sudah tau kemarin ayah sudah bertemu dengan ayahmu." "Ivan bingung yah, Ivan tidak mau pisah sama Mila, tapi Ivan juga tidak mau menjadikan ayah Ivan pecundang yang mengingkari janji." "Ayah tau nak kamu anak yang baik, bersabarlah ini semua sudah jalan dari yang di atas." "Iya yah Mila juga tadi berkata demikian, Mila juga tidak mau jika Ivan jadi anak yang durhaka, Mila sayang sama ayah bunda nya Ivan." "Ayah tau dan itulah Mila, dia akan selalu mendukung orang-orang yang dia sayangi meskipun kebahagiaan dia sendiri jadi taruhannya." "Ivan sangat beruntung punya cintanya mila yah." "Jangan sesali semua ini nak, biarlah ini jadi pengorbanan kalian." Di dapur Mila sengaja memperlambat membuat minuman nya, karena dia ingin Ivan lebih lama lagi berada di rumah ini, Mila tau Ivan belum ingin pergi dari nya, itulah alasan Mila membuatkan minuman lebih lama. Mila membuat minuman dengan sesekali mengusap air mata yang masih saja setia mengalir membasahi pipinya, dia benar-benar tidak menyangka hubungannya dengan Ivan harus berakhir dengan seperti ini, semua impian mereka harus hancur lebur karena perjodohan ini, sebuah masalah yang diluar jangkauan mereka. Di rumah ivan. Mona menangis di dalam kamarnya, dia sangat merasa bersalah dengan keadaan ini, dia ingin sekali bertemu dengan Mila tapi dia juga tidak tau seperti apa wajah Mila, dia tidak pernah melihat Mila sebelumnya, dan dia juga tidak tau kota ini karena dia bukan berasal dari kota ini, hanya 3 hari setalah ayahnya meninggal, Mona di bawa ayah Ivan ke rumah ini, dan selama disini Ivan tidak pernah pulang ke rumah, entah dia tidur dimana, Mona juga tidak tau. Sedangkan di ruang tengah orang tua Ivan sedang berbicara dengan pihak yang akan mengurus pertunangan Ivan dan Mona bulan depan lebih tepatnya hanya kurang 7 minggu lagi. Bunda hanya mendengarkan saja tanpa mau memberikan ide ataupun konsep pertunangan nanti, begitupula dengan ayah Ivan, mereka sepenuh nya menyerahkan kepada pihak WO yang mereka sewa. "Yah coba telfon Ivan." "Kenapa bun? apa bunda mau bertanya kepada ivan?" "Bunda kangen Ivan yah, dia sudah seminggu tidak pulang, dia tidur dimana?terus semua keperluan dia hari-hari bagaimana yah." "Tenanglah bun dia baik-baik saja, dia tidur di cafe miliknya, ayah sudah menyuruh orang mengawasinya dari jauh." "Benarkah Ivan punya cafe yah?" "Iya ayah juga baru tahu kemarin,ternyata anak kita mempunyai jiwa bisnis yang hebat jauh di atas ayah." "Kenapa ayah bilang begitu?" "Karena ivan merintis cafe itu sejak dia SMP bun, dia merintis cafe itu dari nol, dari uang tabungan dia sendiri tanpa campur tangan ayah, cafe yang awalnya kecil terletak di sebuah ruko lantai satu kini berubah menjadi bangunan megah besar dan indah dengan konsep anak muda yang asri tapi elegan bun, bahkan setelah ayah selidiki cafe itu sudah punya 3 cabang di kota ini." "Benarkah yah? sungguh anak kita benar-benar hebat, pikiran dia jauh di atas rata-rata anak pada umumnya, bunda bangga kepadanya." "Benar bun, dan satu lagi yang membuat ayah semakin sayang sama Mila, karena, Mila tidak tau soal harta yang dimiliki ivan, dia tidak tau sama sekali soal cafe itu, Mila hanya tau cafe itu milik sahabat Ivan, sungguh Mila anak yang sederhana," "Benar yah, sampai kapanpun Mila tetap anak bunda." "Dan juga kesayangan ayah. Mereka kemudian berpelukan,merasa kan sakit yang anak mereka rasakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN