Dengan mengendarai mini cooper merah milik Adelia, wanita itu membawa Renata memasuki sebuah butik. Beragam jenis pakaian dipajang disana, namun Adelia malah memaksa Renata untuk mengenakan sebuah dress berwarna magenta yang terlihat begitu cantik di kulit putih sang sahabat. Meski merasa kesal karena diperlakukan bak boneka, Renata tetap mengikuti sahabatnya itu.
Keduanya kemudian berpindah ke salon yang ada di sebelah butik dan Adelia meminta penata rias untuk merombak penampilan Renata. Tak banyak yang perlu diubah karena pada dasarnya gadis itu memang sudah cantik. Rambut yang di warnai coklat itu hanya perlu sedikit dirapikan serta wajah Renata dipoles dengan make-up tipis yang menambah aura kecantikannya.
“Kenapa lo bikin gue begini sih, Del? Bukan gue banget ini mah!” Renata menggerutu dari kursinya saat sedang dirias.
“Biar presentable, Re. Kan enak juga mata ngelihatinnya kalau lo rapi begini daripada ngasal kayak tadi.”
Sebelumnya Renata memang hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih, celana jeans model pensil, sneaker putih, dan rambut yang dikuncir asal. Belum lagi dengan kacamata bulat yang meskipun terlihat fashionable, tetap saja itu menutupi mata hitamnya yang bersinar.
“Gue jadi curiga lo mau jual gue ke mucikari!”
“Huss…ngomongnya disaring neng!”
“Abisnya, gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba lo dandanin gue begini!”
“Udah! Ikutin aja aba-aba gue!”
“Oh, mau seleksi putri Indonesia? Gue udah ketuaan ikut ajang begituan, Del!”
Adelia memutar kedua bola matanya mendengar selorohan sang sahabat. Tak lama kemudian, penata rias telah selesai dengan pekerjaannya dan Adelia berjalan lebih dulu ke kasir untuk membayar.
Kedua sahabat itu kemudian beralih menuju sebuah café mewah di daerah Pondok Indah. Begitu mobil terparkir dengan sempurna, Renata turun terlebih dahulu dan menunggu Adelia untuk masuk bersama. Meskipun ia penasaran dengan tujuan sang sahabat, namun Renata tetap mengikuti setiap langkah ibu beranak satu itu dengan tenang.
Begitu memasuki area café, Adelia terlihat mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang. Dari ujung ruangan, terdapat dua orang pria yang mana salah satunya tengah melambaikan tangan memanggil kedua sahabat ini untuk mendekat. Adelia semakin mengeratkan gandengan tangannya dan melangkah cepat menemui kedua pria tersebut.
“Udah lama nunggu?” tanya Adelia seraya melepaskan pegangan tangannya dari Renata dan mencium pipi salah satu pria yang tak lain adalah suaminya, Ravindra Bagaskara.
“Belum kok.” Jawab Ravi dengan tersenyum simpul.
Adelia kemudian mengajak Renata untuk duduk dihadapan kedua pria tersebut yang mana Renata langsung paham dengan maksud pasangan suami istri itu. Oleh karena itu ia selalu menundukkan pandangannya dan hanya pasif ditengah-tengah mereka seperti biasanya.
“Renata, kenalin ini temen gue Andreas Hasibuan.” Ujar Ravi.
“Andreas, panggil saja Andre.”
“Renata.”
Keduanya mengenalkan diri sambil berjabat tangan dan bertukar senyum simpul sebelum kembali ke posisinya masing-masing.
“Renata ini dokter spesialis di UGD, Dre. Makanya sering sibuk banget dan baru bisa gue ajak sekarang.” jelas Adelia yang sedetik kemudian kakinya mendapatkan sodokan dari Renata.
“Awas lo ntar!” bisik dokter fellow itu yang hanya bisa didengar sang sahabat.
“Wah, kesempatan langka nih berarti.” Balas Andre dengan mata yang berbinar. “Aku sebenernya udah lama loh Re minta dikenalin ke kamu! Eh, aku boleh panggil nama aja, kan?”
“Iya.” Renata mengangguk memberikan izin. “Memangnya kita pernah ketemu sebelumnya?”
“Pernah, pas ulang tahunnya Olivia beberapa bulan lalu. Tapi kamu gak ngeh deh kayaknya.” Jawab Andre bersemangat.
Gadis itu hanya menimpali dengan ber-oh ria. Ia juga tak bertanya apapun lagi sehingga terciptalah suasana cukup canggung akibat keheningan sesaat tersebut. Pasangan suami istri Adelia serta Ravi pun saling berpandangan dan memutuskan untuk membantu proses pendekatan itu.
“Mah, mbak Minah bilang Olivia ngambek kita tinggalin kelamaan.” Ujar Ravi dengan pandangan yang menunduk kearah ponselnya. Ia sengaja berkata demikian agar bisa meninggalkan kedua temannya sendiri.
“Gak usah jadiin Olivia alasan! Kalau mau kencan, kencan aja sana!” seloroh Renata blak-blakan.
“Tau aja, lo! Yaudah, kalau gitu kita duluan!” Ravi tersenyum lebar seraya berdiri. “Yuk mah!”
Adelia meraih tangan suaminya sambil menatap Renata penuh arti.
“Jangan dicuekin! Lo udah janji sama gue!”
Renata hanya membalas dengan gumaman kesal.
Selepas kepergian pasangan suami istri tersebut, tinggallah Renata dan Andre yang sedang berusaha menghilangkan kecanggungannya. Untuk seorang Renata, hal ini adalah sesuatu yang sangat asing. Namun, ia telah berjanji pada Adelia untuk mau membuka diri dan disinilah ia, dihadapan pria asing yang jika itu adalah Renata yang biasanya, ia akan segera kabur begitu saja.
-----
Sementara itu di area parkir, Adelia dan Ravi mulai menikmati waktu berduanya yang jarang keduanya miliki setelah Olivia lahir. Saat sedang dalam perjalanan, dering ponsel Adelia menginterupsi mereka.
“Al.” ujar Adelia sesaat setelah melihat identitas penelfon.
“Angkat aja!” balas Ravi yang langsung dilakukan oleh sang istri.
“Hai Al?”
“Kalian belum balik juga?” Alvaro malah balik bertanya. Suaranya terdengar sedang tidak baik-baik saja di telinga Adelia.
“Lo kenapa?”
“Cepetan balik, gue nunggu di apartemen Renata dari tadi sore! Dan kenapa juga hpnya Renata gak aktif terus?”
“Bukannya lo lagi sama,-”
“CEPETAN!”
“Kok ngegas sih? Tumben?” Adelia mengernyitkan dahinya. “Renata gak bisa diganggu sekarang, lagi kencan dia. Tadi gue kenalin sama temennya Ravi.”
“APA? Dia mau?”
“Mau lah, Rena kan udah janji sama gue!”
“Dimana mereka kencannya?”
“Lo mau apa sih, Al? Kok kayak panik gitu?”
“Mau gue susulin!”
“Kita aja ninggalin mereka, elo malah mau nyusul. Gak jadi PDKT dong?”
“Gue ada perlu urgent sama Rena!”
“Tunda dulu urusan, lo! Jarang-jarang Rena mau gue jodohin!”
“Aaarrggghhhh Adel, gue serius ada perlu sama Rena! Kasih tahu tempatnya dimana?”
“Lo aneh Al.” balas Adelia tak habis pikir. “Mereka juga gak bakalan lama, tunggu lah bentar lagi!”
BIPP
Sambungan telephone di putus secara sepihak oleh Alvaro yang membuat Adelia semakin merasa aneh pada tindakan sang sahabat. Namun ia tak ambil pusing, karena jika Alvaro mau, dia akan bercerita dengan sendirinya.
Karena memang begitulah prinsip persahabatan ketiga anak manusia ini, tak akan pernah mengusik ataupun menyelidiki masalah satu sama lain, dan memilih menunggu hingga yang bersangkutan mau bercerita. Dengan demikian, maka tak ada salah satu pihak pun yang terbebani.
-----
Sementara itu di apartemen Renata, Alvaro tengah mengacak-acak rambutnya begitu sambungan telephonenya ia putus. Beberapa kali ia menggeram kesal karena memang kondisinya sedang tidak baik.
“Cepet balik dong, Re! Gue butuh lo sekarang!” gumamnya begitu frustrasi.
“Adel juga gitu banget sih, niat jodohin Rena gak pake bilang-bilang dulu sama gue? Kalau cowoknya cuma maen-maen aja gimana? Kalau orang itu punya niat tersembunyi gimana?” pria itu terus merancau dan berbicara sendiri sambil mondar-mandir di apartemen Renata.
“Kalau dia gak setia juga gimana? Bisa makin parah traumanya Rena! Duh Adeeelllll!”
-----
“Jadi kamu salah satu kliennya papa?” tanya Renata yang kini sudah semakin akrab dengan Andre.
“Begitulah. Pak Danu salah satu rekan yang paling nyaman diajak kerjasama.” Jawab Andre dengan senyum manisnya. “Kamu sendiri kenapa pilih jadi dokter? Gak mau nerusin usahanya bapak?”
“Ah, itu biar urusannya adikku. Dia yang lebih suka bidang itu.”
“Passion dari kecil jadi dokter?”
“Enggak sih. Sahabatku yang saranin buat kuliah kedokteran dan ternyata aku nyaman juga.”
“Adelia?”
“Bukan. Ada satu lagi sahabatku, mungkin kamu belum pernah ketemu.”
“Jadi penasaran, kamu kalau lagi kerja kayak gimana? Pakai snelli, stetoskop gitu.”
“Yang pasti gak kayak di drama atau film-film medis, karena aku berantakan banget orangnya.”
Keduanya terkekeh. Sesaat kemudian, Renata memperhatikan arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Waktu ternyata telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Tanpa terasa ia dan Andre telah menghabiskan hampir dua jam mengobrol ditempat itu.
“Mau pulang?” tanya Andre yang peka dengan gerakan Renata.
“Iya nih, udah mulai malem dan besok aku dinas pagi.”
“Yaudah, kalau gitu ayo! Aku anterin, ya?”
“Gak usah. Malah ngerepotin ntar!”
“Gak baik cewek pulang malem-malem sendirian. Mau ya? Aku gak repot kok!”
“Bener nih gak ngerepotin?”
Andre mengangguk yang membuat Renata akhirnya setuju. Pertemuan pertama mereka ternyata tak seburuk yang Renata bayangkan. Tak hanya Renata yang berpikir demikian, namun juga Andre. Keduanya bahkan setuju untuk saling bertukar nomor hp dan mengulang lagi pertemuannya di kemudian hari.
Renata sampai di apartemennya sekitar pukul setengah sebelas malam. Begitu kakinya menapak kedalam unit, matanya disajikan pemandangan yang cukup membuatnya terkejut.
Alvaro yang telah terjaga sejak beberapa jam lalu tengah memandangnya tajam dari tempatnya duduk di sofa ruang tamunya. Kaki pria itu menyilang, begitu juga dengan lengannya yang ia letakkan didepan d**a. Rambutnya berantakan dan aura gelap mengelilingi dirinya.
“Kemana aja lo jam segini baru pulang?”
-----