“Mau masuk kedalam?”
Alvaro mengangguk pasti.
“Tunggu dulu! Kita masuk bersama!”
Wanita paruh baya yang tengah membawa amplop coklat di sebelah tangannya itu menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. Alvaro juga ikut melakukannya demi menjaga emosinya yang sudah diujung tanduk.
“Kamu buka pelan-pelan, jangan sampai kedengeran!” pinta wanita itu yang diangguki Alvaro.
Tangan kanannya memindahkan buket bunga yang ia bawa dan mulai meraih kenop pintu. Untunglah pintu itu tak terkunci dan ia bisa langsung membukanya. Bersamaan dengan itu, suara desahan dan teriakan terdengar semakin nyaring. Kedua pria dan wanita berbeda generasi itu langsung merangsek masuk tanpa permisi.
Pemandangan yang mereka dapatkan sepertinya sudah bisa keduanya antisipasi meskipun perasaan mereka sama hancurnya. Sesuatu yang lebih menyakitkan adalah, kedua orang yang tengah beradu diatas meja kerja itu sama sekali tak menyadari kehadiran mereka dan terus melanjutkan kegiatannya, dalam keadaan polos, peluh membanjiri tubuh keduanya, dan bibir yang terus merancau.
Kotak kue serta buket bunga mawar ditangan Alvaro terjatuh begitu saja. Ingin rasanya ia berteriak, memaki, dan memukuli kedua orang dihadapannya. Hanya saja, ia sama sekali tak ingin mengotori tangannya dengan hal itu.
Wanita paruh baya berbaju merah disamping Alvaro meremas amplop coklat ditangannya dengan mata yang menyorot tajam pada kedua orang yang masih terus melanjutkan aksi gilanya. Ia hendak menghampiri mereka, namun tangan Alvaro menghalanginya. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan rahang yang mengeras, ia menatap Alvaro tak paham.
“Tunggu sebentar.” Ujar Alvaro tanpa suara yang dituruti wanita paruh baya tersebut.
Alvaro melepaskan pegangannya dan mengambil ponsel yang ada di saku celanya. Tangannya terlihat gemetar saat mengoperasikan benda pipih itu. Ia mendial satu nama yang tersimpan dalam kontaknya dan panggilan segera tersambung. Sebuah panggilan video yang kameranya ia arahkan pada pasangan yang tengah beradu di hadapannya.
“Halo!” sapa suara di seberang ramah yang sedetik kemudian langsung berubah panik. “Apa-apaan itu?”
“Dengan ini saya Alvaro Renjana membatalkan rencana pernikahan saya dengan Daisy Morisson. Tolong om Rusdi didik anak om dengan lebih baik!” seru Alvaro lantang.
Suara keras pria itu membuat pasangan yang tengah dimabuk gelora itu tersadar akan kehadiran orang lain diruangan mereka. Keduanya menoleh dan langsung berteriak ketakutan. Mereka yang tak lain adalah Daisy dan bosnya, pak Subrata itu langsung berjengkit dan menutupi tubuh polos mereka dengan pakaiannya yang berserakan sementara Alvaro langsung mematikan sambungan video callnya dengan papi Daisy.
“Sayang!” ujar Daisy gemetar.
“Mamah?” pak Subrata tak kalah panik.
“Menjijikkan!” gumam Alvaro dengan mata memicing. “Jangan pernah cari gue lagi!”
Pria itu langsung membalik tubuhnya dan berjalan dengan cepat meninggalkan kantor Daisy yang kini telah menjadi mantan tunangannya.
Sementara wanita yang tak lain adalah istri pak Subrata itu langsung mendekat pada pria yang masih sah sebagai suaminya. Ia melemparkan amplop coklat yang ujungnya telah kusut akibat diremasnya sejak tadi dan mengenai wajah pak Subrata yang penuh dengan peluh.
PLAKK PLAKK
Tangan wanita itu kemudian menampar pipi Daisy bolak-balik yang suaranya begitu menggema. Tamparan itu meninggalkan bekas cap tangan kemerahan yang terlihat jelas.
“Mamah!” bentak pak Subrata membela Daisy.
Wanita berbaju merah itu tersenyum sinis.
“Benar kata anak muda itu tadi. Kalian menjijikkan!” istri pak Subrata itu meludah tepat di wajah Daisy yang kini telah penuh air, campuran antara peluh dan air mata.
“Itu surat perceraian kita, hak asuh anak, serta harta gono-gini! Oh ya, firma hukum ini milik keluargaku, jadi kuharap kalian berdua angkat kaki dari sini secepatnya!”
Wanita itu membalik tubuhnya lalu mengambil sebuah kunci mobil serta dompet sang suami yang tergeletak diatas lantai. Ia membongkar dompet itu dan mengeluarkan semua kartu kredit dan debit milik suaminya.
“Kamu datang tanpa membawa apapun, jadi pergilah tanpa sepeser uangpun!” ujarnya kemudian yang membuat pak Subrata mendelik. “Kau salah mencari mangsa nona! Dia bukan apa-apa tanpa campur tangan keluargaku!”
Setelah menunjukkan senyuman miring menghinanya, wanita paruh baya itu melenggang pergi dengan begitu anggun. Meninggalkan kedua orang yang tengah terbengong-bengong itu. Ia benar-benar muak dengan semua drama perselingkuhan sang suami dengan karyawannya itu.
Setelah mencapai area parkir di basemen, wanita itu tak segera menuju mobilnya. Ia melihat seorang pria yang tengah menundukkan kepala di balik kemudi yang tak lain adalah Alvaro. Wanita itu mendekatinya dan mengetuk pintu kaca mobil Alvaro.
SRAAKKK
“Jangan menangisi wanita sepertinya, air matamu terlalu berharga anak muda.” Ujar wanita itu begitu Alvaro membukakan jendelanya.
Alvaro memang terlihat begitu kacau dengan air mata sakit hati yang masih jatuh membasahi pipinya. Ia membersihkan sisa air mata itu dengan punggung tangannya secara kasar.
“Terima kasih nasehatnya!”
Wanita itu membalik tubuhnya dan bersandar di pintu mobil Alvaro. Pandangannya menerawang dan ia terlihat begitu tegar meskipun hatinya juga sama hancurnya dengan pria di balik kemudi ini.
“Sudah hampir satu tahun mereka bermain kucing-kucingan.” Ujar wanita itu yang membuat Alvaro mendongakkan kepalanya.
“Saya memata-matai mereka beberapa bulan terakhir. Kamu sendiri, bagaimana kamu mengetahuinya?”
“Saya bahkan tidak punya petunjuk apapun nyonya.”
“Oh, jangan panggil saya nyonya. Panggil saja bu Hesti.”
“Baiklah, bu Hesti.” Alvaro menghela napasnya panjang. “Rencananya kami akan menikah sebulan lagi. Beberapa hari yang lalu, sahabat saya melaporkan hal ini tapi saya tidak percaya dan malah menuduhnya mengada-ngada.”
“Kamu harus minta maaf padanya!”
Alvaro mengangguk pasti. “Benar. Hanya karena membela tunangan saya yang tidak bisa dipercaya itu, saya sampai bertengkar dengannya.”
“Jangan sedih berlarut-larut. Untung kamu masih belum menikahinya. Tuhan masih sayang padamu.”
“Terima kasih bu Hesti.”
“Dasar pria tak tahu malu itu! Dia pasti memberikan iming-iming posisi tinggi di lawfirm, padahal dia bukan siapa-siapa tanpaku.”
Alvaro terkekeh miris. “Lalu apa yang akan terjadi pada mereka, bu?”
“Saya sudah mengusir keduanya dan tidak peduli mereka mau seperti apa. Capek saya ngurusin tukang selingkuh kayak Subrata itu.”
“Bener ya bu, orang selingkuh itu gak cuma sekali?”
Bu Hesti menghela napasnya dan berbalik menatap Alvaro. “Banyak orang yang gak pernah selingkuh sama sekali, mas. Tapi gak ada orang yang selingkuh hanya satu kali.”
Kalimat itu membuat Alvaro kembali teringat pada ucapan Renata. Seringkali sahabatnya itu berkata demikian setiap kali mereka membicarakan mama gadis itu.
“Yasudah, saya duluan! Semoga kamu bisa ditemukan dengan wanita yang lebih layak menjadi pendamping kamu nantinya!” bu Hesti menepuk bahu Alvaro pelan sebelum meninggalkan pria itu kembali sendirian.
Alvaro memantapkan hatinya, ia menghela napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mulai menjalankan mobil SUV berwarna silver miliknya.
Selama dalam perjalanan ia mencoba menghubungi orang yang saat ini begitu memenuhi pikirannya. Beberapa kali nada dering tersambung terdengar oleh telinganya, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia mengulang sekali lagi namun hasilnya masih tetap sama.
“Oh iya, dia bilang kan mau makan-makan buat perayaan.” Alvaro menepuk jidatnya sendiri saat baru teringat pada rencana sang sahabat beberapa hari lalu.
Merasa jika menyusul kedua sahabatnya itu tidak akan membuatnya bisa langsung mencurahkan isi hatinya, ia pun membelokkan arah mobilnya menuju satu tempat yang begitu familiar untuknya. Bukan rumah, bukan pula kantor polisi tempatnya bekerja, melainkan sebuah gedung pencakar langit tempat Renata tinggal.
Me 17.55
[Cepetan balik! Ajak Adel juga! Gue di apartemen lo.]
Pesan itu terkirim, namun hingga hampir pukul delapan malam belum juga di baca oleh Renata. Alvaro yang tengah kesal itupun memilih untuk tidur di ranjang sang sahabat dan enggan pergi sebelum ia bisa meminta maaf secara langsung pada dokter itu.
-----