BAB 09

1135 Kata
“Selamat dokter Renata atas pencapaiannya!” “Selamat dok!” “Makasih juga udah traktir kita-kita!” “Jangan kasih kendor, dok! Biar kita bisa sering makan-makan gini!” Seruan ucapan selamat itu silih berganti diucapkan oleh rekan-rekan kerja Renata yang saat ini tengah menikmati makan malamnya yang sedikit lebih awal. Ada sekitar lima belas orang yang terdiri dari perawat, dokter koas, dokter resident, dan beberapa staff lainnya. Renata juga tak lupa mengirimkan makanan untuk mereka yang tak bisa ikut karena sedang bertugas. “Terima kasih semuanya! Pesan saja semua yang pengen dimakan, kita puas-puasin hari ini!” balas Renata yang disambut sorakan rekan-rekannya. Semua orang kemudian menikmati sore menjelang malam ini dengan penuh gelak tawa yang terkesan santai. Renata memilih duduk di dekat Adelia agar sahabatnya itu tidak bosan karena tak banyak yang dikenalnya. “Re, abis ini ikut gue ya?” pinta Adelia agak pelan dan hanya didengar oleh sang sahabat. “Mau kemana?” Renata mengernyitkan dahinya penasaran. “Ada deh! Lo ikut aja, gak bakal nyesel!” “Gak mau macem-macem, kan? Awas aja ngajakin gue ke Club lagi!” “Enggak lah, gue bisa gak di bukain pintu sama Ravi kalau main ke Club!” Renata terkekeh dan menyetujui begitu saja permintaan sahabatnya itu. Acara makan-makan itu baru berakhir selepas adzan isya’. Saat setiap orang sudah mulai berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing, Adelia kini menggandeng tangan Renata dan berencana membawanya pergi ke tempat tujuan mereka selanjutnya. ----- Sementara itu di tempat lain, Alvaro yang sejak sore tadi sudah bebas tugas sedang berada di toko kue langganannya. Ia berencana untuk memberi kejutan pada sang tunangan yang seharian ini sengaja diabaikannya dengan alasan sedang sibuk. Padahal itu hanya bagian dari rencananya saja. Setelah mendapatkan kuenya, Alvaro memacu mobil SUV miliknya menuju kediaman keluarga Morisson, calon mertuanya. Tak butuh waktu lama hingga ia mencapai area perumahan mewah dengan pagar-pagar yang menjulang tinggi itu. Satpam keluarga Morisson juga menyambutnya dengan begitu ramah. “Sore pak Hasan!” sapanya pada pria paruh baya berseragam hitam-putih tersebut. “Sore den. Nyari non Daisy, ya?” “Iya nih pak! Ada, kan?” “Waduh, aden gak telfon dulu memangnya?” Alvaro mengernyitkan dahinya meminta penjelasan. “Non Daisy dari pagi di kantor dan belum pulang sampek sekarang, den. Bapak sama ibu juga lagi di luar kota. Mendingan den Alvaro telfon dulu deh atau langsung ke kantornya saja!” “Bukannya hari ini Daisy libur ya pak?” “Wah, saya gak tau ya, den. Tadi pagi non Daisy buru-buru perginya, dijemput sama pak Subrata.” “Bosnya?” Pak Hasan mengangguk mengiyakan. “Yaudah deh pak, kalau gitu saya langsung samperin aja ke kantornya.” “Iya, den! Hati-hati di jalan!” Alvaro memundurkan mobilnya yang tadi sudah siap memasuki pekarangan rumah sang tunangan. Telapak kakinya kemudian menginjak pedal gas dan segera meninggalkan area perumahan elit tersebut. Ada perasaan tidak tenang dalam hatinya yang tiba-tiba datang. Ia selalu merasa bahwa hanya dirinyalah yang mengetahui semua jadwal Daisy karena gadis itu memang selalu memberitahunya. Namun mengapa di hari spesial ini, justru Daisy tak memberitahu apapun tentang jadwalnya? Ah, mungkin saja tunangannya itu tak ingin menganggu pekerjaannya, sebab sejak semalam Alvaro selalu mengatakan jika ia sedang sibuk dengan kasus baru yang sedang dalam tahap penyelidikan. Namun sekali lagi perasaannya berubah tak menentu saat mengetahui jika tunangannya itu pergi dengan bosnya. Terlebih, ucapan Renata beberapa hari lalu seringkali terngiang dalam ingatannya meski ia selalu menampiknya. Ditambah lagi ingatannya saat hari pertunangan mereka, pandangan mata pak Subrata selalu membuat Alvaro merasa tak enak dan kesal. Sekali lagi pria tiga puluh tahun itu menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran buruk yang mulai berdatangan. “Tidak! Gue percaya Daisy gak bakal kayak yang Rena bilang! Kita pacaran udah hampir tiga tahun dan gak pernah ada yang janggal. Jadi mana mungkin?” gumam Alvaro yang terus mencoba berpikir positif. “Gue percaya Daisy. Gue percaya tunangan gue. Gue percaya calon istri gue!” Tak lama kemudian, mobil berwarna silver itu memasuki area perkantoran yang menjadi lokasi firma hukum tempat Daisy bekerja. Terlihat sepi karena ini memang hari sabtu. Ditambah lagi waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore, wajar saja jika hanya ada segelintir orang yang berada di tempat itu. Hanya security, cleaning service, dan beberapa orang lainnya yang memang sedang bekerja lembur di akhir pekan. Alvaro memang baru beberapa kali mengunjungi gedung pencakar langit ini, namun ia hafal betul dimana ruangan sang tunangan berada. Begitu lift terbuka, ia segera memasukinya dan memencet tombol angka 18 dimana firma hukum itu berada. Tangan kanannya membawa sebuket mawar merah yang jumlahnya sama dengan usia Daisy yang hari ini genap dua puluh enam tahun. Sedangkan tangan kirinya menenteng kotak kue yang tadi dibelinya. Sesekali tercetak lengkungan senyum dari wajahnya yang dihiasi lesung pipi di pipi kirinya. TING Pintu lift terbuka dan Alvaro dengan langkah tegapnya berjalan menuju ruangan Daisy yang begitu dihapalnya. Lantai tempat kerja sang tunangan begitu sepi dan temaram. Bahkan suara langkah kaki Alvaro pun terdengar nyaring di sepanjang lorong yang membuktikan bahwa hampir tak ada kehidupan di tempat itu. Sayangnya, semakin dekat ia dengan ruangan tunangannya, suara-suara lain mulai mengisi rongga telinganya. Suara barang berjatuhan, meja atau kursi berderit, dan yang membuatnya semakin penasaran adalah suara helaan napas serta desahan yang begitu membahana. “Gak mungkin! Ya Allah, semoga aku salah denger. Ini pasti pikiran buruk yang lagi godain buat jadi gak waras, kan?” gumamnya pada diri sendiri. Suara itu terpusat dari balik pintu sebuah ruangan tepat dimana langkah kaki Alvaro berhenti. Hatinya sudah bergemuruh mendengar semua itu secara langsung. Ia tak bisa melihat keadaan di dalam karena jendela kaca yang membatasi setiap ruangan yang ada disana telah ditutup dengan gorden abu-abu yang cukup tebal. Beberapa kali Alvaro mencoba menenangkan hatinya, menghirup napas panjang dan mengeluarkan perlahan secara berulang-ulang. Matanya pun menutup, namun suara it uterus terdengar begitu nyaring di indra pendengarannya. Tak tak tak tak Perhatiannya beralih kearah lorong dekat lift yang tadi dilewatinya. Ia melihat seorang wanita yang wajahnya tak begitu terlihat karena membelakangi sumber cahaya. Wanita itu berjalan dengan langkah tegap dan anggun mendekat pada Alvaro yang masih termangu didepan pintu yang semakin berisik dibaliknya. Wanita dengan setelan formal berwarna merah dan tas tangan dari brand ternama itu berhenti didepannya. Tangannya yang dibalut sarung tangan berenda berwarna hitam terangkat dan melepaskan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Saat melepaskan kacamatanya, wanita itu sambil mengibaskan rambutnya yang tergerai dengan tatanan yang mewah yang mungkin harganya jutaan. Tampilannya menunjukkan jika wanita itu bukanlah wanita sembarangan dan cukup berwibawa. Seulas senyum menghiasi bibir merah menyala wanita itu yang juga disambut oleh Alvaro. Sebelum mengulurkan tangannya pada Alvaro, ia membuka sarung tangan berbentuk jarring berwarna hitam yang melekat di telapak tangannya. “Mau masuk kedalam?” Alvaro mengangguk pasti. “Tunggu dulu! Kita masuk bersama!” -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN