BAB 08

1570 Kata
Setelah perdebatan malam itu, baik Renata maupun Alvaro lebih banyak menghindari satu sama lain. Obrolan pun hanya terjadi jika ada orang lain di antara mereka, contohnya saat sedang ada Adelia. Seperti sore ini saat ibu beranak satu itu meminta mereka untuk bertemu di cafe favorit mereka untuk berkumpul seperti biasa. Sudah ada Adelia beserta putri dan suaminya yang ditemani Alvaro, sementara Renata lagi-lagi terlambat seperti biasanya. “Tunangan lo mana? Gak diajak?” tanya Adelia seraya meminum earl grey tea miliknya. “Lagi ada sidang hari ini.” Jawab Alvaro singkat. “Sampek sore banget begini?” Ravi, suami Adelia tampak terkejut. “Sering kok kalau emang kasusnya berat banget.” “Terus-terus, persiapan kalian gimana? Bulan depan loh temen gue gak lajang lagi!” Seru Adelia menggoda. “Tinggal finishing sama fitting beberapa kali lagi.” Jawab Alvaro bersemangat. “Gak sabar banget gue, tapi gugup juga.” “I know that feeling, man!” Ravi dan Alvaro terkekeh bersama. Disaat yang sama, datanglah seseorang yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Ia terlihat melambaikan tangannya pada para sahabat dan mempercepat langkahnya “Sorry telat lagi.” Ujar gadis itu seraya mengambil tempat kosong yang tersedia, agak berjauhan dengan Alvaro. “Kita belum lama, kok.” Balas Ravi sambil tersenyum. “Yah, Olivia tidur! Padahal gue pengen nguwel-nguwel dia daritadi.” Keluh Renata sambil mengerucutkan bibirnya. Ia sama sekali tak menatap Alvaro yang terus memperhatikannya. Gadis itu memang tipe yang memendam rasa kesalnya terlalu lama dan pertemuan terakhirnya dengan Alvaro memang meninggalkan kesan sangat buruk untuknya. “Lo kelamaan, sih!” balas Adelia terkekeh. “Baru kelar briefing anak-anak koas barusan.” Jelas Renata sambil merapikan rambut coklatnya yang sejak tadi tergerai. “Oh ya, gue punya berita bagus!” “Apaan?” Adelia menyahut. “Sebelumnya gue mau bilang terima kasih dulu sama laki lo, tuan Ravindra Bagaskara atas kesempatannya telah memberikan rakjel ini kesempatan untuk menjadi staff terbaik selama tiga kali berturut-turut!” Renata menatap suami sahabatnya itu dengan berbinar-binar. Terlihat sekali betapa bahagianya ia mendapatkan penghargaan yang setiap tiga bulan sekali di berikan oleh tempatnya bekerja tersebut. Alasan ia mengucapkan terima kasihnya pada Ravi adalah pria itu merupakan salah satu direktur yayasan rumah sakit Harapan yang cukup berpengaruh. Sehingga tidak heran jika Renata kerap kali bersikap formal pada pria berusia tiga puluh tahun itu. “Wah, dapet lagi lo?” puji Adelia tak kalah bersemangat. “Gak sia-sia rupanya sampek lupa pulang.” Seloroh Alvaro dengan nada mencibir. “Sirik bilang bos!” balas Renata santai. “Bukan gue yang milih lo. Gue malah rekomendasiin yang lain biar lo gak semakin workaholic, tapi suara gue kalah banyak dari direksi yang lain.” Ujar Ravi seraya menyesap espresso dicangkirnya. “Tetep aja, thank you so much! Lumayan bonusnya kali ini. Ikut makan-makan yuk weekend ini sama anak-anak UGD yang lain!” “Asyik! I’m in!” seru Adelia menyetujui. “Gue gak ikut deh, gak enak sama yang lain ntar bakalan canggung kalau gue ikutan. Sama Adel aja!” ujar Ravi. “Weekend ulang tahunnya Daisy, gue gak bisa ikutan juga.” Alvaro juga menolak. “Yaudah, kalau gitu girls time?” Renata menaik-turunkan alisnya pada Adelia. “Pastinya!” kedua sahabat perempuan itu terkekeh bersamaan. Obrolan mereka terhenti sementara karena pelayan tengah menyajikan makanan berat yang sebelumnya sudah dipesankan oleh Adelia. Mereka kemudian menikmati makan malam yang sedikit lebih cepat itu dalam suasana yang santai dan hangat. Meski sesekali masih terasa aura tegang antara Alvaro dan Renata, namun mereka masih bisa menikmati waktu bersama ini dengan tenang berkat Adelia seperti biasanya. “Oh ya Re, kalau lo gak pulang dari rumah sakit biasanya ngapain disana?” Tanya Ravi yang juga sudah paham rutinitas dokter itu dari sang istri. “Paling baca-baca kasus, latihan operasi, atau kadang-kadang juga bantuin dokter jaga.” Jelas Renata. “Kenapa emangnya?” “Sebenernya ini masih rahasia karena baru dirancang proyeknya, tapi yayasan mau bikin acara kesehatan di stasiun TV gue. Kalau lo mau, gue pengen rekomendasiin elo.” “Acara apa, pa?” tanya Adelia pada suaminya yang diangguki Renata. “Acara tips-tips kesehatan gitu. Kayak kalau dulu ada dokter Oz, kita nanti juga ada improvenya dari acara itu. Tapi sekarang konsepnya masih dimatengin sama management.” “Kenapa gak pake’ artis-artis yang juga lulusan kedokteran?” tanya Renata. “Kita butuh wajah baru lah Re! Kayaknya image polos dan kutu buku lo cocok!” Alvaro menahan tawanya saat Ravi mengatai sang sahabat polos, karena setahunya Renata memang tak sepolos itu. Hanya saja keadannya yang single seumur hidup membuat gadis itu terlihat polos di mata orang awam. “Ketawa, ketawa aja! Gak usah ditahan malah keluar dari belakang!” sindir Renata. “Abis, bisa-bisanya omes kayak lo dikatain polos!” Alvaro benar-benar mengeluarkan tawa nyaringnya dan membuat Ravi heran. “Iya, pa, Renata ini mukanya gak sepolos otaknya.” Adelia menambahi. “Jangan-jangan lo m*sum juga sama pasien lo?” “Terusin aja jatuhin pasaran gue!” protes Renata sambil mencebik. “Eh, elo dipasarin? Bukannya dari kemaren-kemaren gue tawarin ke temen-temen gue, lo masih nolak dengan alasan klasik ‘sibuk’? Lo kan udah janji mau nemuin mereka kalo gue kenalin!” Renata memang masih sering mengelak setiap kali Adelia mengiriminya undangan kencan buta dengan rekan-rekan ibu beranak satu. Padahal Adelia sudah memilih calon-calon terbaik untuk dipasangkan dengan sahabatnya yang jomblo karatan itu. Namun tetap saja Renata kukuh dengan pendiriannya yang enggan berkencan. “Lo jodohin Rena?” tanya Alvaro kaget. Pasalnya ia memang tak tahu menahu mengenai rencana itu. “Kenapa gak bilang-bilang? Gue kan bisa bantu milihin! Lagipula, cuma pria yang bisa menilai kepribadian pria lainnya. Bukankah begitu, tuan Bagaskara?” Ravi menjentikkan jarinya setuju. “Tapi tenang aja bro, cowok-cowok yang dipilihin nyonya gue ini juga udah lolos seleksi kita berdua kok. Sayangnya aja dokter Rena masih belum mau.” “Abisnya, gue sibuk!” “Mencari-cari kesibukan lo itu, bukan beneran sibuk!” tegur Adelia. “Tapi sebelum kesitu, balik lagi ke masalah acara TV tadi. Lo mau gak gue rekomendasiin? Daripada berkeliaran di UGD terus tiap hari nyari-nyari kerjaan, kan?” Renata menopang dagunya dengan kedua telapak tangan yang saling bertaut. Pelipisnya terlihat berkerut tanda ia sedang berpikir cukup keras. “Wajah lo itu masih fresh dan tipe-tipe yang bakal banyak disukai sama penonton. Terus acara ini nantinya juga gak bakal terlalu ganggu kerjaan utama lo, kok Re! Tugas lo juga gak susah karena cuma jadi narasumber aja. MCnya nanti kita cari wajah baru juga. Kan bosen kalau MC yang itu-itu terus padahal banyak anak muda yang berbakat juga.” Ravi terus membujuk. “Gue pikir-pikir dulu deh, Vi. Gak buru-buru, kan?” “Nggak sih, tapi jangan kelamaan mikirnya. Anggota direksi yang lain mungkin juga bakal ngajuin kandidat yang lain. Kalo lo lebih cepet menyanggupi kan gue bisa sambil ngumpulin pasukan buat dukung elo!” “Yaudah, gue itung dulu ntar untung-ruginya. Kalau udah gue kabarin lo lagi!” Ravi mengangguk menyetujui. Keempat pria dan wanita itu saling berbincang santai seperti biasanya. Hingga beberapa lama kemudian mereka memutuskan untuk segera menyudahi pertemuan. Adelia tentu pulang bersama dengan suami dan putrinya. Sedangkan Renata yang biasanya menumpang Alvaro, hari ini memilih pulang sendiri dan menolak tawaran sahabat prianya itu. ----- Keesokan paginya, Renata yang pulang ke apartemen telah siap dan rapi sejak pukul 5.30 tadi. Saat ia membuka pintu apartemennya, netranya dikejutkan oleh sebuah benda cantik berwarna dominan putih dan hijau di lantai. Sebuah rangkaian bunga yang tak Renata ketahui jenisnya. Gadis itu mengambil buket bunga yang terdapat kartu ucapan di sela-selanya. Diraihnya kertas itu lalu membuka dan membaca tulisan yang terukir indah tersebut. “Congratulation! Kau berhak mendapatkan penghargaan itu karena kau memang yang terbaik dari semua yang ada di dunia ini. – Sincerely, your secret admirer” Renata mengetatkan rahangnya dengan wajah yang menegang. Tangan kanannya yang memegang kartu ucapan itu perlahan meremasnya hingga terbentuk bola lalu melemparkan kartu itu ke tempat sampah tak jauh dari depan unit apartemennya. Saat akan membuang buket bunga di tangan kirinya, gadis itu melihat seorang cleaning service dan sebuah ide terbersit di kepalanya. “Bu, kesini deh!” panggil Renata sambil mengayunkan tangan kanannya. Petugas kebersihan yang seorang wanita berusia empat puluhan itu berjalan mendekat dengan sopan. “Ada apa neng?” “Ini buat ibu saja. Kalau gak suka boleh dibuang kok!” Renata mengulurkan buket bunga tersebut dengan senyum terbaiknya. “Kok buat ibu sih neng? Bagus loh bunganya, masih seger juga ini!” “Gak apa-apa bu, saya gak suka bunga.” Jawab Renata santai. “Yasudah, kalau gitu saya berangkat kerja dulu ya, bu?” Gadis itu segera melangkah menjauh diiringi ucapan terima kasih ibu petugas kebersihan. Sebenarnya, bukan Renata tidak menyukai bunga. Ia hanya merasa takut menerima bunga-bunga yang sering berdatangan tanpa diketahui pengirimnya itu. “Itu stalker gak bosen-bosen gangguin hidup gue? Udah belasan tahun juga masih kelihatan batang hidungnya, beraninya main belakang. Siapa tahu tuh bunga ada guna-gunanya? Kan serem!” Renata merancau sendiri dengan bulu kuduk yang mulai berdiri saat tengah berada di dalam lift apartemennya. Bukan hal yang aneh Renata mengatakan jika pengirim bunga itu adalah stalker. Mengingat saat pertama kali ia mendapatkannya adalah sejak empat belas tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku kelas satu SMA. Bunga-bunga itu terus berdatangan di hari-hari pentingnya yang bahkan hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya. Benar-benar seperti penguntit yang sangat sempurna menyembunyikan dirinya. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN