BAB 07

1535 Kata
Tiba saatnya kembali ke Jakarta. Sejak terputusnya sambungan telephone kemarin malam, Alvaro masih belum juga bisa dihubungi sehingga Renata tak bisa memberitahu sang sahabat perihal yang didengarnya saat itu. Namun ia juga masih belum bisa memutuskan bagaimana cara memberitahu Alvaro tanpa menimbulkan keributan. Bagaimanapun, hal ini adalah sensitif dan Renata hanyalah orang luar dalam hubungan Alvaro serta Daisy. Setelah beristirahat selama satu hari, Renata kembali disibukkan dengan rutinitasnya di rumah sakit utama. Pagi ini ia berangkat cukup awal seperti biasanya. Alasannya hanyalah karena udara yang sedikit lebih baik karena kendaraan masih belum banyak yang beroperasi. Saat mencapai café 24 jam di sebelah rumah sakit, tanpa sengaja ia bertemu dengan beberapa pria yang baru saja keluar dengan menenteng beberapa gelas minuman. Merasa saling kenal, mereka pun saling bertukar sapa. “Pagi banget udah berangkat, dok?” tanya pria yang menenteng box tempat minuman. “Iya pak, enak udaranya masih seger.” Jawab Renata sambil terkekeh. “Lembur nih pak?” “Tiga hari belum pulang ini malah.” Pria berusia empat puluhan bernama Hadi itu menjawab sambil menghela napasnya lelah. “Tiga hari?” Renata membeo dengan mata yang terbelalak sempurna. “Kasus besar nih kayaknya.” “Begitulah. Ini detektif Alvaro juga masih interogasi komplotan pelaku.” Balas Hadi. “Ah, pantesan saya hubungin gak nyambung terus.” Renata mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. “Ya sudah kalau gitu dok, kita balik ke kantor dulu.” pamit Hadi sopan. “Iya, pak!” Renata kembali melanjutkan langkahnya yang hanya tinggal beberapa puluh meter hingga sampai tempat kerjanya. Seperti biasa, sebelum memulai shiftnya, Renata menyempatkan diri untuk mempelajari kasus-kasus baru yang ingin dikuasainya. Definisi seorang kutu buku memang sangat tepat disematkan untuk dokter berusia dua puluh sembilan tahun itu. Baru setelahnya ia akan benar-benar fokus di UGD dan bekerja dengan sepenuh hati. >>>>  Tanpa terasa, jam kerja Renata telah usai. Dan lagi-lagi ia enggan kembali ke apartement apalagi rumah. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang istirahat staff dan sejenak merebahkan tubuhnya beristirahat. Detik berganti menit hingga jam. Renata ketiduran saking lelahnya. Ia bahkan baru terbangun saat pintu ruang istirahat itu dibuka dengan keras oleh seseorang dari baliknya. “Oh, maaf terlalu keras, dok!” ujar seorang wanita berpakaian perawat dengan mengangguk sopan. Renata mengucek matanya dan berusaha bangkit dari tidurnya. Bibirnya menyunggingkan senyum dengan kepala yang menggeleng, tanda tidak mempermasalahkan gangguan tersebut. “Jam berapa sekarang?” tanya Renata dengan suara seraknya. “Sepuluh kurang lima belas menit, dok.” Jawab perawat itu seraya berjalan mendekati sang dokter. “Dokter lagi dicariin di UGD.” Ujar perawat itu kemudian. “Ada pasien darurat?” Renata mulai menajamkan netra dan fokusnya. Namun perawat itu malah tersenyum dengan mata yang menyipit. “Biasa dok! Pasien pribadi.” Gadis di akhir usia dua puluhannya itu menghela napas lega. Perlahan ia mulai menapakkan kakinya ke lantai dan mengambil ikat rambut yang tergeletak diatas ranjang lalu menggunakannya secara asal. “Cedera apa?” Renata bertanya sambil meraih snelli miliknya. “Dari yang kelihatan sih keseleo sama ada luka-luka gores.” Jelas perawat itu yang membuat Renata mendengus. “Ya sudah, saya keluar dulu.” Perawat yang bersamanya mengangguk dan tersenyum menatap kepergian Renata. Sang dokter langsung menuju IGD dan menemui seorang ‘pasien pribadinya’. Seorang pria dengan pakaian serba kasual bahkan terlihat agak berantakan kini tengah melambaikan tangan padanya dengan senyum yang tak sedikitpun luntur. Hal itu justru membuat Renata mendengus kesal. “Kenapa lagi?” tanya gadis itu dengan ketus. “Jutek amat sama pasien.” Keluh pria itu tak terima. Renata mendecih seraya mengangkat kaki pria yang tak lain adalah Alvaro itu keatas brankar. Ia memeriksa pergelangan kaki sang sahabat yang terlihat memar dan sedikit membengkak. “Jatuh pas ngejar tahanan kabur.” Jelas Alvaro kemudian. “Cuma keseleo biasa sih ini, tapi tetep harus istirahat biar gak makin parah.” Renata kemudian mulai merawat kaki sahabatnya hingga menutupnya dengan perban. “Makanya hati-hati! Udah berapa kali ini kaki keseleo? Kalau makin parah gimana?” “Mulai deh, ngomel!” Alvaro mendengus kesal. “Lagian siapa juga yang mau keseleo? Gak ada!” “Bukan alasan buat gak hati-hati!” “Iya, iya bu dokter!” “Bisa gak sih lo dirawat dokter jaga aja, gak harus gue? Kalau gue pas lagi gak ada gimana?” “Ada yang lebih nyaman kenapa cari yang belum kenal? Lagian gue tau semua jadwal jaga lo, jadi gue gak pernah kesini kalau lo gak ada.” “Untung gue belum balik!” “Emangnya kapan lo langsung balik abis selesai shift? Lagian kemaren abis libur, hari ini pasti nginep sini!” Renata memutar kedua bola matanya dan membuat si detektif terkekeh. Setelah selesai dengan kaki sang sahabat, Renata berpindah pada lengan kiri pria itu yang kemejanya sudah berubah warna menjadi kemerahan. Melihat kondisinya yang darurat, ia segera mengambil gunting untuk merobek lengan kemeja Alvaro. Namun pria itu malah menahan dan tak mengizinkannya. “Jangan! Baju ini dikasih sama Daisy!” protes Alvaro yang membuat Renata memutar kedua bola matanya. “Angkat yang tinggi kalau gitu biar bisa diobati!” Bukannya menurut, Alvaro malah menampakkan cengirannya dengan gigi putih yang berderet rapi. “Gak bisa, kan? Yaudah, pakai gunting makanya!” Dengan berat hati, akhirnya Alvaro menuruti permintaan sang dokter. Luka goresan itu membuat Renata merasa ngilu. Meski ia sudah seringkali melihat hal serupa bahkan lebih parah, namun tetap saja rasa sakit itu seperti bisa ia rasakan. “Kok bisa sampek separah ini sih Al?” Renata mengambil peralatannya untuk mensterilkan luka yang masih terus meneteskan darah segar itu. “Masih untung gue bisa ngindar dan kena lengan, hampir aja perut gue yang ketusuk!” “Dalem loh ini!” Alvaro meringis saat merasakan dingin dan perihnya alkohol mengenai lukanya. Setelah luka itu steril, Renata kemudian menyuntikkan obat bius lokal dan bersiap untuk menjahitnya. “Yah, ngebekas deh!” Alvaro menggerutu tanpa mengalihkan pandangan dari lukanya yang sedang dijahit. “Mau oplas, biar gak ngebekas?” “Gak lah, dikata-katain plastik ntar sama netizen.” Keduanya sama-sama terkekeh. “Ketangkep lagi gak yang kabur?” tanya Renata kemudian. “Udah dong! Masa’ sampek kayak gini bisa lolos?” jawab Alvaro sambil membanggakan dirinya. “Abis ini masih interogasi lagi?” “Iya, harusnya hari ini kelar tapi gara-gara satu orang itu yang kabur, nambah lagi lemburnya.” “Lukanya tetep diperhatiin, jangan sampek makin parah!” “Siap, dok!” Alvaro terkekeh yang membuat Renata ikut tersenyum. “Berarti tiga hari ini kalian gak ketemu juga dong?” tanya Renata mencoba berbasa-basi setelah memutuskan untuk mengungkapkan yang didengarnya secara halus pada sang sahabat. “Gue sama Daisy?” Alvaro memastikan dan dibalas anggukan Renata. “Sama sekali enggak, hp pun gue gak pegang. Kangen juga gak ngobrol sama dia tiga hari.” Renata telah selesai menjahit luka Alvaro dan menempelkan plaster untuk menutupnya. “Daisy pernah cerita soal pak Subrata gak sih sama lo?” Pertanyaan itu membuat Alvaro mengernyitkan dahinya tak paham. Lalu, ia teringat pada obrolan terakhirnya dengan sang sahabat yang juga menyebut nama Subrata beberapa hari lalu. Alvaro pun menjawab dengan gelengan kepala yang terkesan ragu. “Waktu itu lo juga nyebut-nyebut pak Subrata, ada apa emangnya?” Renata menghela napasnya panjang seraya duduk diatas brankar kosong disamping Alvaro. Keduanya kini tengah berhadap-hadapan dan orang lain seperti tak terlihat di mata mereka. “Lo percaya gak kalau gue bilang Daisy punya hubungan sama pak Subrata?” tanya Renata hati-hati. Namun Alvaro malah terkekeh karena pertanyaan itu. “Jelas ada hubungan, lah. Bos sama karyawan, dan Daisy bilang dia salah satu karyawan terbaik di lawfirmnya.” Gadis itu menghela napas sekali lagi lalu menundukkan kepala dengan jemari yang kini saling bertaut. Ia tengah memilah kalimat terhalus dan terbaik untuk menyampaikan hal ini, karena bagaimanapun tak ada orang lain yang lebih paham dari rasanya di khianati daripada Renata sendiri. “Lo kenapa sih, Re? Bikin takut aja!” Alvaro menghentikan tawanya dan memberikan perhatian penuh pada sang dokter. “Mereka ada affair di belakang lo.” Lirih Renata yang hanya didengar oleh Alvaro. “Bercanda lo gak lucu!” pria itu mendengus kesal. “Gue gak lagi bercanda, Al. Gue liat sendiri betapa paniknya Daisy waktu pak Subrata masuk IGD dan setelah ketemu, interaksi mereka bener-bener gak sepantasnya atasan dan bawahan. Pasien gue aja sampek protes!” jelas Renata dengan volume yang terkontrol agar tak terdengar oleh orang lain. “Maksud lo?” “Lo pernah skinship sejauh apa sama tunangan lo?” “Kok malah balik tanya? Gak usah berbelit-belit deh, Re!” “Sejak mereka ketemu, pak Subrata kedengeran manja banget ke Daisy. Lama-kelamaan, suara obrolan mereka hilang dan yang kedengeran cuma suara decakan dan desahan sampek bikin orang-orang lainnya risih.” “Lo gak usah ngarang cerita! Daisy gak mungkin begitu sama gue.” Nada Alvaro sedikit meninggi, namun ia masih bisa mengontrolnya. “Lagian mana buktinya kalau tunangan gue seperti yang lo tuduhkan?” “Gue denger sendiri karena gue ada di bilik sebelah mereka, Al!” “Denger doang? Cuma denger gak bisa dijadiin barang bukti, Re! Dan kalaupun Daisy emang seperti kata lo, gak mungkin dia sebodoh itu dengan ngelakuinnya di tempat yang jelas-jelas bakalan ketahuan.” Pria itu tak terima dengan tuduhan sang sahabat. “Lo emang sahabat gue Re, tapi Daisy tunangan gue dan gue percaya sama dia!” “Rasa percaya lo belum tentu beneran dijaga sama dia. Apa salahnya sih dengerin kesaksian gue?” “Karena kesaksian lo sama sekali gak berdasar, Renata! Cuma ngada-ngada! Jangan mentang-mentang lo sering denger tante Gita ngobrol kayak gitu, terus semua obrolan ujungnya kesana!” Renata tersulut emosinya karena Alvaro menyebut-nyebut nama mamanya. Ia turun dari atas brankar dengan keras dan kesal. Matanya menatap Alvaro tajam dengan wajah dan rahang yang mengeras. Tak pernah sekalipun ia membayangkan Alvaro akan menggunakan kartu keramat itu saat sedang berdebat dengannya. “Memang nyokap gue bukan orang bener, tapi paling gak lo gak perlu nyenggol hal itu karena lo sendiri tahu betapa bencinya gue sama affair!” seru Renata tajam dengan suara yang hanya didengar oleh sang sahabat. Gadis itu hendak melangkah pergi, namun berhenti sesaat dan kembali menatap Alvaro untuk memberikan kalimat terakhirnya. “Semoga Daisy memang seperti yang lo yakini dan pendengaran gue salah. Karena gue gak mau lo ngerasain sakit yang sama dengan yang gue rasain setiap harinya!” Alvaro hanya menatap datar punggung sang sahabat yang kini melenggang pergi meninggalkannya. Dalam hatinya ia tahu jika Renata bukanlah sosok yang suka mengada-ngada, berbicara tanpa dilandasi fakta. Namun, Alvaro tetap yakin pada pilihannya jika Daisy tidak mungkin setega itu padanya. Apalagi, hari pernikahan mereka sudah semakin dekat. >>>> 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN