BAB 06

1278 Kata
Alvaro mulai disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Adelia juga begitu menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga yang secara penuh merawat putri kecilnya. Sementara Renata kembali larut dalam pekerjaan serta persiapan ujiannya. Dua minggu setelah acara pertunangan itu, Renata harus berangkat ke Cirebon untuk mengisi jadwalnya yang telah ditukar dengan Jonathan. Seperti biasa, ia begitu menikmati perjalanan dinas yang berlangsung selama tiga hari dua malam ini. Karena selain bekerja, ia biasanya juga menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di kota udang tersebut. Ya, meskipun lagi-lagi ia akan berkelana seorang diri, namun tak mengurangi sedikit pun antusias Renata. Sayangnya, dokter wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu harus menunda rencananya. Hal ini dikarenakan saat menjelang malam begitu banyak pasien darurat yang berdatangan. Meskipun seharusnya jam kerja Renata sudah berakhir, namun Renata adalah seorang workaholic yang begitu mencintai pekerjaannya, ia lebih memilih tinggal di rumah sakit. Beberapa ratus meter dari tempatnya bekerja memang sedang ada kecelakaan beruntun, sehingga tidak aneh jika kebanyakan korban dibawa ke rumah sakit ini. Dengan staff yang hanya berjumlah beberapa orang, membuat semua tenaga medis kewalahan. Renata yang seorang fellow memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada dokter jaga resident, sehingga ia bertugas untuk membagi-bagi pekerjaan yang terus berdatangan. Saat tak ada lagi tangan yang bisa menolong korban, Renata mulai menggulung jas putihnya dan mendekati brankar yang di dorong oleh petugas penyelamat. Terdapat seorang pria paruh baya dengan setelan jas dan kemeja putih yang telah kusut dan terkena sedikit noda darah. Pria itu masih memiliki kesadaran yang cukup karena hanya menderita cedera ringan. “Masih terasa pusing, pak?” tanya Renata saat menjahit luka robek di pelipis pasiennya. “Masih dok.” Jawab pria paruh baya itu sambil sesekali meringis meskipun sudah diberikan bius lokal. “Sebaiknya dilakukan CT-Scan supaya mengetahui kondisi kepala bapak secara pasti.” “Lakukan saja, dok!” “Baik, pak. Saya akan meminta perawat untuk mengantarkan anda ke ruang radiologi setelah selesai menjahit pelipis bapak.” Renata melanjutkan pekerjaannya dengan begitu teliti. Jahitan yang dibuatnya juga sangat rapi, mengingat hal ini sudah ia lakukan ribuan kali jika dihitung dengan saat masih kuliah dulu. “Apa tidak ada wanita yang datang mencari saya, dok?” tanya pria paruh baya itu kemudian. “Istri bapak?” Renata balik bertanya. “Bukan. Dia masih muda, umurnya masih dua puluhan.” “Oh, maaf.” Jawab Renata canggung. “Setahu saya tidak ada, pak.” SSRAAAKKK Gorden pembatas dibuka dari luar. Nampak seorang perawat pria berdiri dibaliknya dan segera mendekat pada Renata. “Dok, pasien di bed sebelah baru saja datang dan tidak ada dokter yang kosong.” Jelas perawat itu. “Sebentar lagi selesai.” Jawab Renata segera menyelesaikan pekerjaannya. “Kondisinya bagaimana?” “Pasien berusia 53 tahun, seorang pejalan kaki yang terserempet mobil lalu jatuh ke parit. Ada beberapa luka robek serta bahunya mengalami dislokasi.” Jelas perawat itu singkat. “Sudah selesai. Kamu daftarkan bapak ini untuk pemeriksaan CT-Scan dan sekalian antarkan ke ruang radiologi!” “Baik dok.” “Mari pak!” Seru Renata berpamitan dengan ramah. “Terima kasih dokter.” Renata kemudian beranjak untuk menengok pasien lainnya. Namun ia harus berhenti sesaat saat bertatapan dengan seseorang yang begitu dikenalnya. Keduanya cukup terkejut saat melihat satu sama lain, namun Renata segera tersenyum ramah pada orang dihadapannya. “Kok lo ada disini?” tanya Renata sambil membenarkan ikatan rambutnya. “Oh, iya kak, ada kerjaan. Kebetulan bos gue terlibat kecelakaan, jadi mau jengukin.” Jelas orang itu yang tak lain adalah Daisy, tunangan sahabat Renata. “Kak Rena lihat pria paruh baya umurnya lima puluhan, namanya pak Subrata?” “Oh pak Subrata? Barusan gue yang ngrawat, ada dibalik tirai ini kalau mau nemuin.” “Makasih, kak!” “Yaudah, gue lanjut kerja dulu.” Daisy langsung menemui pria paruh baya yang adalah bosnya itu dengan terburu-buru. Ia bahkan terlihat sangat cemas dimata Renata. “Sedekat itu ya hubungan bos dan karyawannya?” Batin Renata sambil mengedikkan bahunya tak mau ambil pusing. Dokter fellow itu langsung kembali merawat pasien dislokasi yang ada di sebelah bed pak Subrata. Sesekali terdengar rintihan kesakitan dari pasien Renata yang tangannya terpelintir akibat jatuh ke parit itu. Renata kemudian berusaha mengembalikan posisi tulang pasiennya dengan dibantu oleh perawat yang berjaga. Namun kemudian, samar-samar ia mendengar obrolan dari bed sebelah tempat Daisy dan bosnya berada yang hanya dibatasi oleh tirai. “Pak, jangan dulu! Temennya tunangan aku lagi ada disini!” terdengar suara lirih Daisy yang tidak nyaman. “Dikit aja, sayang. Aku kangen banget sama kamu sampek nyusulin kesini. Eh, malah truk didepan ngerem dadakan. Belum pernah ngrasain dituntut kayaknya.” suara kalem dan berwibawa pak Subrata yang tadi didengar oleh Renata entah lenyap kemana, hingga berganti menjadi begitu manja. “Iya, makanya aku langsung nyusulin kesini, pak! Aku khawatir banget waktu bapak telpon tadi.” “Beneran?” terdapat sedikit jeda dari pembicaraan bisik-bisik itu. “Kalau gitu kasih dikit dulu dong, sayang! Biar cepet sembuh!” “Eugh…pak!” Entah apa yang dilakukan oleh seorang pak Subrata hingga Daisy terdengar melenguh yang membuat telinga Renata semakin panas. Suara-suara disebelah menjadi semakin tak senonoh hingga Renata tanpa sadar menggenggam tangannya begitu erat serta rahangnya mengetat. Moodnya bahkan langsung menurun karena ia teringat pada sahabatnya yang mungkin tak mengetahui kegilaan ini. “Dok, Mas, gak bisa negur yang sebelah, ya? Ganggu banget suaranya.” Protes pasien Renata padanya dan juga perawat pria yang membantunya. “Maaf atas ketidak-nyamanannya, bapak!” Renata mencoba kembali menguasai perasaannya dan tersenyum ramah pada sang pasien. “Dim, tolong ya?” pinta Renata pada perawat bernama Dimas yang membantunya. “Iya, dok!” “Oh ya, jangan nyebutin namaku sama sekali ke mereka!” Dimas mengernyit tak paham, namun kemudian segera mengiyakan. Ia pun berlalu dan tak lama kemudian suara tak senonoh disebelah telah berhenti. “Sering ada yang begitu, dok?” tanya pasien Renata yang luka-lukanya masih diobati oleh dokter wanita itu. Renata hanya tersenyum tanpa menjawab dengan pasti. Ia bukanlah seseorang yang suka membicarakan orang lain atau bergosip istilahnya. Sehingga diam selalu menjadi pilihannya. >>>>  Selesai dengan pekerjaannya dan mentransfer pasien-pasien yang butuh perawatan lebih lanjut pada ahlinya, akhirnya Renata bisa menghirup udara segar di luar rumah sakit. Waktu telah menunjukkan hampir tengah malam ketika ia mengulet didepan rumah sakit. Dengan memesan taksi online, ia segera kembali ke hotelnya untuk beristirahat. Namun bukannya langsung membersihkan dirinya, Renata malah meraih ponsel dari dalam tas. Ia mengetik sebuah pesan yang ia kirimkan pada seseorang. Me 00.05 AM [Udah tidur?] Ia melemparkan ponselnya keatas ranjang dan mulai membersihkan dirinya. Tak butuh waktu lama, sepuluh menit kemudian ia telah selesai mandi dan berganti pakaian santai sebelum kembali meraih ponselnya. Dengan santai Renata melemparkan tubuhnya keatas kasur dan dalam posisi tengkurap ia mulai mengotak-atik ponselnya. Sebuah pesan balasan telah diterimanya sejak beberap menit yang lalu. Al 00.08 AM [Belum, kenapa?] Renata tak membalas pesan tersebut, ia malah menekan gambar gagang telephone berwarna hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menunggu hingga beberapa kali deringan sampai panggilan itu diangkat. “Ada apa?” tanya suara pria diseberang yang tak lain adalah Alvaro. “Tumben belum tidur?” Renata balik bertanya. “Lagi tugas. Lo sendiri belum tidur? Bukannya jam kerja lo udah selesai dari tadi sore?” “Hectic banget ada kecelakaan beruntun.” “Udah selesai, tapi? Gak ada yang sampek meninggal, kan?” “Udah dan gak ada. Cuma beberapa cedera berat sampek harus dioperasi.” “Syukurlah!” “Oh ya, gue ketemu Daisy disini.” Dengan rasa was-was Renata menceritakan pertemuannya. “Dia kecelakaan juga?” terdengar nada cemas Alvaro dari seberang sana. “Nggak. Pak Subrata, bosnya yang kecelakaan. Daisy jengukin katanya.” Jelas Renata yang masih ragu menceritakan apa yang dilihatnya. “Kok bisa ada bosnya? Tadi pagi dia bilang ke Cirebon sendiri nemuin klien, gitu.” Renata kembali menimbang, apakah ia akan bercerita melalui sambungan telfon atau saat bertemu secara langsung. Pasalnya hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dengan sembarangan untuk dikatakan. “Eum, soal itu Al,” “Kenapa?” “Daisy sama pak Subrata,-” “Gue telfon lagi ntar! Target udah muncul. Lo langsung tidur aja!” Alvaro memotong ucapan Renata dan tanpa menunggu respon sahabatnya, sambungan telephone telah diputus sepihak. Renata pun menghela napasnya lelah. Ya, ia lelah dengan semua drama pengkhianatan yang seperti sedang mengelilinginya. Entah perbuatan buruk apa yang pernah gadis itu lakukan hingga hidupnya menjadi seperti ini. Ia benar-benar tak sampai hati jika harus menyampaikan apa yang didengarnya pada sang sahabat. Karena lebih dari siapapun, Renata tahu betapa sakitnya dikhianati oleh orang terkasih dan paling dipercaya. Apalagi, sebenatar lagi Alvaro dan Daisy akan menikah. Namun, sepahit apapun fakta yang akan disampaikannya, akan lebih baik daripada membiarkan sang sahabat tenggelam dalam hubungan beracun yang tak lagi sehat itu. >>>> 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN