“Ngeri?” Adelia mengernyitkan dahinya. “Kayak yang itu?” Renata mengikuti arah telunjuk Adelia yang tertuju pada pintu ruang syukuran. Gadis itu seketika menghela napasnya lelah seraya menepuk jidatnya. Kedua sahabat itu melihat seorang pria paruh baya sedang bertanya pada seseorang yang kemudian menunjuk keberadaan mereka. Pria paruh baya yang memakai rompi seragam salah satu ekspedisi kurir itu segera mendekat dan melakukan tugasnya, mengantarkan satu buket bunga putih yang dirangkai dengan begitu cantiknya, Gardenia. “Dokter Renata?” tanya kurir itu memastikan. “Iya. Buat saya, pak?” “Ini tanda terimanya, dokter.” Bapak kurir itu menyerahkan buket serta kertas untuk ditanda-tangani oleh Renata. Seperginya kurir itu, Renata langsung memberikan bunganya pada Adelia dan hanya mengambi

