“Re, kenapa?” manik mata Alvaro bergerak secara acak. Ia sungguh tidak paham dengan reaksi ini. “Ini salah, Al. Ini salah,-” “Re,-” panggil Alvaro sekali lagi dengan lembut. “Ini salah.” Renata terus mengulang-ulang kalimatnya sambil menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Alvaro langsung diliputi rasa bersalah. Tak bisa pria itu pungkiri jika ia memang terbawa suasana. Dari yang seharusnya hanya berpura-pura untuk mengelabuhi wartawan yang mengikuti mereka, malah menjadi kebablasan hingga Alvaro bergitu menikmatinya. Namun Renata juga tak menunjukkan penolakan serta membalas pagutan itu meski awalnya cukup ragu. Lalu dimana salahnya? Mereka sama-sama menikmati proses itu sebelumnya. Melihat Renata yang kembali menangis, Alvaro berniat memeluk gadis itu lagi untuk menenangkan dan meredam

