Bab 38 Aku yang hendak membuatkan Mas Alka sarapan berjalan mendekat. Kudengar ada perseteruan dengan lawan bicaranya di balik telepon itu. Aku tahu, dia sedang berbicara dengan mama mertuaku—wanita yang dicintainya selain aku. Aku menggeleng pelan. Lalu duduk di dekatnya yang kini tengah berjalan bolak-balik sambil berbicara dengan ibu mertuaku. Mas Alka penutup panggilan. Aku mulai mengajaknya berbincang. “Mama kenapa?” tanyaku. “Sertifikat tanah dan rumah yang dulu disimpan Mas Hamdan, ternyata digadai ke bank. Mama baru tahu sekarang karena ada orang menagih ke rumah. Mas Hamdan telat bayar cicilannya,” ujarnya sambil menghela napas. “Kita ke rumah mama sekarang kalau gitu,” ajakku. Khawatir Mas Alka hanya tidak enak denganku makanya dia menolak ke sana. Namun, di luar dugaan kep

