Annita menipiskan bibir, meneguk ludah sesaat sembari menatap seseorang yang kini duduk di hadapannya dengan raut masam. Sejak tadi sosok berkerudung itu memeluk tangan di depan d**a dengan melempar tatapan angkuh. "Bisa-bisanya kau tidak memberi kabar pada orang yang sudah membesarkanmu selama ini, ya?" Annita mengulum bibir, menatap lurus tantenya tanpa berekspresi. "Tante selama ini telah banyak berkorban untuk kau dan kakakmu. Sampai merelakan kehidupan aku yang tenang agar bisa tinggal bersama kalian," Annita diam saja, mengerjap-ngerjapkan matanya samar, mendengarkan saja apa-apa yang tantenya katakan padanya. "Pengorbanan aku terlalu banyak, sampai tidak bisa aku jabarkan satu-persatu. Jangankan untuk membalas budi, sekedar menanyakan kabar aku, kakakmu dan ommu, kau tidak sudi

