Olive berdiri memeluk tangan di depan d**a, mengantri di kantin untuk membeli roti isi. Rambutnya diurai begitu saja dengan penjepit kecil hitam mempercantik penampilannya. Ia mengernyitkan dahi, memikirkan apa yanh tidak sengaja ia dengar kemarin di rumah. Mengenai obrolan kakeknya dan Annita. Kakeknya memberikan restoran dan bakkery sekaligus sebagai hadiah. Dan juga uang modal bisnis, tentu saja Olive tidak bisa menerima ini dengan hati yang tenang. Apalagi setelah mendengar mereka membicarakan masalah itu seperti sengaja dirahasiakan. Rasanya sangat menjengkelkan, tidak tahu apa-apa. Dan malah mendengar mereka berbicara, sengaja bertemu berdua agar membicarakan perihal rencana mereka. "Ck, gak bisa dibiarin." "Apanya?" Olive sontak mendongak menatap Anas di depannya yang kini b

