Laki-laki jangkung itu menghela napas ngos-ngosan, keringatnya pun bercucuran pada pelipis. Sesekali ia mengusapnya dengan punggung tangan. Matanya mulai mengerjap sayu dengan pandangan kabur. Sebenarnya sangat beresiko kalau ia memaksakan diri kecapean begini. Memforsir tenaganya sampai seluruh tubuhnya kelelahan berdiri. Tapi, ia juga tidak punya pilihan lain selain lari pagi begini. Kalau terus-terusan berada di rumah sakit atau mengurung diri di kamar, rasanya ia akan lebih cepat mati karena banyak pikiran. Makanya hari ini, ia memutuskan untuk melepas penat dan rasa frustasinya dalam bentuk olahraga. Langkahnya perlahan memelan dengan kepala yang bergerak ke samping, menatap kaca restoran di depannya yang menampakan sepasang orang duduk berhadapan kini. Dengan berbicara panjang leb

