Jalanan Gajah Mada malam ini terasa sepi. Mihrima menjalankan mobilnya dengan lambat. Ia tidak ingin buru-buru sampai di tempat janji temu itu. Ia perlu sedikit waktu untuk menenangkan hatinya sebelum sampai di kafe itu. Jemarinya meremas gugup setirnya. Ntah apa yang akan dibicarakan oleh mama mertuanya nanti. Ahhh... Salah. Calon mantan mertuanya. Apa wanita itu masih pantas disebut mama mertuanya? Setelah apa yang terjadi? Mihrima memakirkan mobilnya pas disebelah mobil mertuanya yang ternyata sudah lebih dulu datang. Namun, Mihrima tidak melihat tanda-tanda kehadiran Keenan di kafe ini. Mungkin ibu mertuanya itu memang tidak akan melibatkan pria itu, pikirnya. "Ma," sapa Mihrima kala ia mendekati mama mertuanya yang duduk disudut kafe. Wanita tua itu terlihat muram dibalik makeup da

