"Ini kamarmu."
Anis mendecak kagum, dia sangat menyukai interior kamarnya. Sesuai selera gadis itu.
"Kamu suka kamarnya?" Tanya Fikri di belakangnya.
"Sangat. Terima kasih." Ujar Anis masih menatap sekeliling kamarnya. Fikri tersenyum.
"Berbenahlah, lalu kamu bisa istirahat. Nanti malam akan kuajak ke kafe kita."
Anis kembali mengangguk. "Eh... eh..," panggil Anis saat melihat Fikri berbalik, "-aku tahu ini rumahmu, dan aku sekedar tamu yang sedang menumpang. Jadi... jika kamu berani menyentuhku, aku akan membunuhmu, mengerti?" Ancam Anis yang membuat Fikri menahan tawanya.
"Baiklah, Nyonya. Dan tolong jangan panggil aku 'eh'. Aku punya nama. Namaku Fikri." Balasnya dengan tersenyum.
"Ya ya ya. Suka hatimu. Bangunkan aku kalau sudah mau maghrib. Aku gak bisa bangun sendiri." Ujar Anis sambil melepas sepatunya.
Fikri mengernyit, "Ini rumahku dan kamu pikir aku pembantumu? Bangun aja sendiri. Kalau gak, aku akan menyirammu." Balasnya dan langsung berbalik meninggalkan Anisa yang merengut.
Sial, ini laki nyebelin banget sumpah! Batinnya.
***
Fikri menggeleng di samping ranjang Anis. Adzan sudah berkumandang. Dan gadis di hadapannya masih asik bermain dalam mimpinya. Posisi rumah Fikri memang pas di hadapan masjid. Maka tak heran jika suara azan sangat keras dan jelas dari depan rumah. Ditambah, kamar Anis yang memang berada di lantai dua yang berpas-pasan dengan toa Masjid.
Kebiasaanmu belum hilang rupanya. Batin Fikri.
Terbesit sebuah ide yang selalu ia gunakan dulu saat membangunkan Anis. Tangannya menyendok air dengan gayung merah muda dari dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Kamar yang ditempati Anis memang tidak memiliki kamar mandi dalam. Fikri mencelupkan tangannya ke dalam gayung. Menyemprotkan tetesan air di tangannya pada wajah Anis. Anis menggeliat merasakan percikan air di wajahnya. Matanya terbuka. Dan memandang kesal pada Fikri.
"Apa-apaan sih?" Gerutu Anis mencoba untuk duduk.
"Bangun! Dasar tukang tidur! Kita akan ke kafe setelah solat magrib!"
Anis mendengus, "Tapi gak perlu percikin air di wajahku kan?"
"Kan tadi sudah kubilang. Kalau kamu gak bangun sendiri, aku akan menyirammu. Cuma, karena aku baik, makanya aku percikin air di wajahmu."
Anis memutar bola matanya. "Terserah!"
Fikri mengerutkan keningnya, menatap pakaian Anis yang belum berganti semenjak datang tadi. Wanita itu belum berbenah?
"Kamu belum mandi, ya?" Tanya Fikri. Anis menatapnya, menggelengkan kepalanya dengan cengiran absurd-nya, "Mandi sana! Kamar mandi ada di lantai bawah. Dekat dapur."
Fikri langsung membalikkan badannya ke lantai bawah untuk menonton tv. Dia akan menunggu Anis berbenah baru akan mengajak wanita itu sholat berjama'ah bersama.
Anis langsung turun ke kamar mandi di dekat dapur. Kamar mandinya berukuran sedang. Hanya ada bak mandi, closet serta washtafel.
"Pfftt... padahal pengen berendam di bathup." Gumamnya sambil melepas satu persatu pakaiannya. Melemparkan pakaiannya kedalam ember khusus untuk pakaian kotornya. Karena di ember itu bertuliskan namanya Anis. Pria itu memang menyiapkan segala keperluan Anis.
Dia merutuki kebodohannya saat ia telah selesai mandi. Handuk. Dia lupa bawa handuk. Bisa saja di berlari dengan keadaan telanjang, tapi jarak antara kamar mandi dengan kamarnya jauh. Dan harus melewati ruang tamu. Sementara disana, Fikri asik menonton tv. Tidak ada cara lain, ia harus meminta tolong.
"FIKRIII?" teriaknya. Tak ada sahutan.
"FIKRIII? HELLOWWW?"
"Ya?" Anis menghela nafasnya saat mendengar jawaban dari suara pria itu.
"Ambilin handukku di dalam koper, dong. Lupa bawa." Pintanya. Tapi tak ada jawaban, membuat wanita itu bingung. "Fikri?" Panggilnya.
"Gak. Gak bakal aku ambilin kalau kamu gak bilang 'tolong'."
Dari dalam Anis mendengus sebal. Pria ini banyak mau sekali. "Tolong?" Ujar Anis memohon.
Fikri tersenyum, menyuruh Anis untuk menunggunya sementara ia naik ke atas untuk mengambil handuk Anis. Fikri menemukan kotak beludru merah di dalam koper Anis. Rasa penasaran, membuat Fikri mengambil dan membuka kotak beludru itu. Senyumnya mengembang seketika, ia mengelus perlahan benda yang berada dalam kotak beludru milik Anis.
Tok..tok..tok..
Anis membuka pintu kamar mandi dengan was-was dan wajah kesalnya. "Huh. Kenapa lama sekali, sih?" Gerutunya sambil menyambar handuk merahnya.
Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu melilitkan handuk itu ke tubuhnya. Handuknya lumayan pendek. Panjangnya hanya sampai setengah paha.
Anis memutar kenop pintu. Dia tak bergeming saat Fikri masih berada di hadapan kamar mandinya. Sorot mata laki-laki di hadapannya sangat dalam. Apalagi, ia menatap kaki jenjang milik Anis yang terekspos. Belum lagi, Anis yang memakai handuknya agak longgar, hingga belahan dadanya terlihat jelas di mata Fikri.
Fikri menelan ludahnya, sifat laki-lakinya bangun saat melihat Anis, "Umm... aku... aku mau ke toilet, permisi." Fikri langsung menerobos masuk dan mengunci pintu.
Wajah Anis langsung merona ketika Fikri menatapnya seperti tadi. Bodoh...Gerutunya dalam hati sambil menepuk jidatnya. Dia langsung berlari ke kamarnya.
***
Seusai solat, mereka langsung pergi ke cafe milik ibu Anis di daerah Jodoh. Anis berdecak kagum saat melihat interior cafe minimalist, tapi ada kesan feminimnya.
"Hmmnm.. setahuku ini bukan selera ibuku." Ujar Anis menatap Fikri.
Fikri tersenyum. "Ya, aku memberikan sentuhan mininalis. Orang sini lebih suka hal yang berbeda. Terlalu feminim atau minimalis sudah biasa bagi masyarakat sini." Tutur Fikri sambil membuka pintu sebuah ruangan di belakang.
"Ini ruanganmu."
Anisa mengernyit, ruangan ini khusus untuk pemilik/pengelola cafe. Tapi bukannya dia hanya seorang pengawas berkedok ehm pelayan? Meski ia tak mau.
"Tapi, ibu bukannya..."
"Ya, aku sudah bilang pada ibumu. Kamu saja yang kelola. Lagi pula, aku juga mengurus perusahaan keluarga. Aku gak punya waktu buat kelola. Tapi kamu harus memberi laporan padaku tentang cafe ini. Paham?" Potong Fikri. Dan Anis mengangguk.
"Besok kamu sudah bisa menjalankan pekerjaanmu. Sekarang, mari kuperkenalkan pada pegawai disini." Ajaknya.
Fikri menuntun Anis ke dapur. Dia akan memperkenalkan wanita itu pada chef-chef handalnya yang juga teman SMP-nya. Para Chef yang sedang sibuk memasak, terlihat terkejut dengan kedatangan Fikri. Para Chef yang berjumlah 6 orang itu segera menghentikan pekerjaannya. Dan menghampiri Fikri dan Anis.
"Wah, Fik... Akhirnya lo..."
Chef pria itu langsung menghentikan ucapannya saat melihat Fikri menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Ehm... ini manager baru Cafe ini. Anak dari pemilik Cafe. Namanya Anisa Yudhistira." Ujar Fikri dengan intonasinya yang kaku.
"Hai." Sapa Anis. Senyumnya mengembang.
"Hai, Bu Anis." Ujar keenam pria itu. Fikri menahan tawanya. Dia tahu kalau sahabatnya itu tengah mencandai Anis dengan memanggilnya 'Bu'. Padahal usia mereka lebih tua dari Anis.
"Hai, Bu. Saya Aria." Ujar pria yang tadi berbicara.
Mereka menjabat tangan Anis satu per satu.
"Saya Ronald."
"Saya Beni."
"Saya Theo."
"Lukas."
"Nicholas."
Anis hanya bisa tersenyum. Keenam pria ini memang pada tampan-tampan. Pantesan, meski hari sudah malam, cafe nya masih ramai oleh pengunjung yang kebanyakan para anak muda. Mungkin karena mereka mau cuci mata.
"Ayo, kita kenalan sama yang lain." Fikri mengajak Anis untuk keluar.
Keenam chef tadi langsung menatap satu sama lain setelah bos mereka keluar. Tawa yang semenjak tadi mereka tahan, langsung keluar begitu saja dengan kerasnya.
"Kesian banget tuh sohib lo!" Ujar Aria sambil memukul tangan Lukas.
"Sohib lo tuh!" Balas Lukas yang sebal karena tangannya dipukul.
"Gila, ya. Setelah 2 tahun dia nunggu. Dan akhirnya balik lagi. Yaaaa.. meskipun dia kagak inget." Ujar Beni sambil kembali melakukan pekerjaannya.
"Ya... kita doain saja. Semoga otak kakak ipar kita bisa bener." Kata Theo sambil menggoreng ikan.
"Aminnnn... biar si babang gak galon mulu mikirin dia." Jawab Lukas.
Mereka kembali mengerjakan masakannya sambil bersenda gurau. Dan topik kali ini adalah Fikri.
***
Setelah berkenalan dengan para pegawai. Fikri menuntun wanita itu ke meja cafe yang kosong. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Dan mereka belum makan malam.
"Kamu makan malam 'kan?" Tanya Fikri memastikan.
"Ya iyalah. Masa enggak?" Jawab Anis asal.
"Siapa tahu kamu gak makan malam. Cewek kebanyakan 'kan gitu. Takut gendut."
"Sorry. Aku sayang kesehatan. Kalau pun gendut, kan bisa olahraga. Iya kan?" Ujar Anis dengan senyumnya yang mengembang.
Fikri gemetaran saat melihat senyum manis di hadapannya. Jantungnya berdetak kencang. Masih sama seperti dulu. Ia akan bertingkah seperti orang jatuh cinta pada pandangan pertama setiap melihat wanita di hadapannya tersenyum.
"Ehm. Mau makan apa?" Tanyanya menyodorkan menu.
Anis memperhatikan menu makanan. Menu disini campur. Makanan Indo, China, Jepang, Western.
"Ummm... pengen tempe tahu bacem."
"Minumnya?"
"Air putih hangat saja."
Fikri mengangguk. Lalu tangannya melambai ke pelayan. Pelayan itu mendekat dan membawa buku kecil di tangannya.
"Pesan apa Pak, Bu?" Tanyanya ramah.
"Tempe tahu bacem 1 porsi. Asam pedasnya satu tapi kasih tahu 3 potong ya, kayak biasa."
"Minumnya?"
"Air putih hangat 2. Nasinya kasih bawang goreng ya diatasnya."
Pelayan tadi mencatat pesanan. Kemudian dia mengangguk. "Baik, Pak. Tunggu sebentar ya."
Pelayan tadi pergi kearah dapur.
"Kamu yang milih pegawai disini, ya? Kelihatannya baik-baik semua." Tanya Anis.
"Iya. Sudah seharusnya gitu kan? Makanya banyak pengunjung yang datang."
Anis mengangguk dan menatap kesekelilingnya. Cafe milik ibunya ini sangat ramai, bahkan cafe-cafe cabang yang lain tidak seramai ini.
"Cafe tutup jam berapa? Sudah pukul 9 masih rame aja." Tanya Anis.
"Pukul 10. Tapi pegawai pulangnya pukul 11. Soalnya harus beres-beres dulu."
"Bukanya?"
"Pukul 10 pagi."
"Kok tutupnya malam sekali? Kan pegawainya ada yang cewek? Gak kasihan kalau mereka pulang malam-malam?" Ujarnya
Fikri tersenyum kembali. Anis memang tidak berubah sedikitpun.
"Mereka tinggal di lantai paling atas, lantai 3. Aku sudah izin pada ibumu, agar para pegawai tinggal di cafe, bagi yang mau. Terutama cewek-cewek. Di cafe ini kan pegawai kita pada banyak cewek semua. Paling yang cowok cuma Chef dan beberapa pelayan. Jadi, cuma cowok-cowok saja yang pulang."
Anis mengangguk dan ber-o ria.
Makanan mereka sudah tersaji di hadapan saat mereka berbicara. Anis berdiri dan pergi mencuci tangannya. Wanita ini sejak kecil makan dengan tangannya sendiri. Makan dengan tangan lebih terasa enak daripada memakai sendok. Mereka berdua memakan makanannya dalam hening.
=====