Senin pagi, Anis sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia memakai blouse hitam dan celana jeans hitamnya yang tidak terlalu ketat. Serta memakai Blazer dari cafenya, ada lambang cafenya di lengan blazer tersebut. Ia hanya mengenakan sepatu flat putih polos. Dengan keadaan kakinya yang pincang, membuatnya akan kesulitan berjalan setiap ia memakai heels. Rambut ikalnya ia gerai begitu saja. Wanita ini menampilkan sisi girly-nya.
Dia turun menuju dapur pada jam 7 tepat. Fikri sudah duduk di meja makan sambil menyantap roti bakar yang ia persiapkan untuk dirinya dan Anis. Sementara Anis, dia merasa bersalah karena seharusnya ia menyiapkan sarapan. Bukan Fikri.
"Maaf," Ujar Anis saat memasuki ruang makan. Kedua alis Fikri terangkat, "Seharusnya aku yang nyiapin sarapan." Ujarnya polos.
"Uhuk...uhuk...uhukk..."
Fikri langsung terbatuk mendengar ucapan yang sama keluar dari mulut Anis. Ucapan yang dulu pernah Anis katakan setiap ia membuatkan sarapan saat Anis masih tertidur.
"Eh... eh... ini minum dulu." Ujar Anis yang panik sambil memberi segelas air putih.
Fikri langsung meneguk air itu dengan laju. Lalu meletakkan kembali gelas itu di meja. "Kamu sarapan dulu, nanti aku antar sekalian."
Anis mengangguk, "Fik, disini gak ada pembantu, ya?" Tanyanya. Dan Fikri menggeleng, "Terus yang bersihin rumah siapa? Kan rumahmu besar. Masa iya kamu bersihin sendiri?" Ujarnya sambil mengoles selai blueberry kesukaannya.
"Zaman udah canggih sekarang. Rumah ini udah bisa bersihin dirinya sendiri." Jawabnya.
"Kerennnn... kalau gitu, kenapa gak beli robot yang bisa masak aja. Kan enak gak perlu capek-capek buat makanan. Cepat lagi."
"Makanan yang dibuat sama mesin dan manual itu rasanya beda. Pake mesin cuma sekedar buat aja, kurang enak. Kalau manual, ada bumbu rahasianya."
"Bumbu rahasia? Apa?"
"Cinta."
"Aduduhhhhh... kepalaku." Ringis Anis tiba-tiba. Rotinya terlepas dari tangannya, dan teronggok di atas lantai. Kedua tangannya memegang kepalanya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut-denyut. Dan itu menyakitkan. Sangat.
"Anis... kamu kenapa?" Tanya Fikri panik.
"Obat ku tolong... shhh sakit!!!" Ringisnya.
"Dimana?" Tanyanya Fikri makin panik.
"Tas."
Fikri langsung berlari ke ruang tamu dimana tas milik Anis terletak di atas sofa. Ia mengambil obat dalam plastik dan kembali berlari menuju ruang makan. Dia menuangkan air putih dengan tangan bergetar. Lalu mengeluarkan 3 kapsul dari obat yang berbeda dan menyodorkannya pada Anis. Anis langsung meminum obatnya. Saat itu juga, kepalanya langsung berhenti berdenyut.
Fikri menghela nafasnya dengan pelan. Dia sangat takut jika sesuatu terjadi pada Anis. Ia menyuruh Anis untuk mengambil roti baru. Kemudian hanya keheningan yang terjadi di rumah itu.
***
"Kita mau kemana?" Tanya Anis saat mereka melewati cafe.
"Kita ke kantorku dulu."
"Lah, ngapain?"
"Inikan masih jam 8 pagi. Cafe buka jam 10. Kamu kecepatan preparenya." Sahut Fikri sambil tertawa. Saat Anis turun, dia heran melihat wanita itu terlalu cepat berbenah untuk pergi ke cafe. Entah karena ia lupa atau emang ia kerajinan sekarang.
Anis langsung tersentak, dan menepuk jidatnya sendiri, "Ah iya aku lupa! Ya Allah..." Gerutunya. Fikri kembali terkekeh. Dugaannya benar, wanita ini masih saja pelupa meski saat ini ia ‘lupa’.
"Dasar!" Ledek Fikri.
"Hehe... maaf. Kenapa gak ninggalin di Cafe aja. Kan ada pegawai yang tinggal disana?"
"Jam segini mereka masih tidur. Bangun jam 9, bersih-bersih."
"Tapi-"
"Ah sudahlah. Kamu ini bawel, ya." Gerutu Fikri.
"Yeee... baru tau, ya?" Saut Anis.
"Enggak, sih. Udah lama." Jawab Fikri pelan.
Saat tiba dikantor, Anis meminta izin untuk pergi ke kantin karena rasa hausnya.
"Yasudah. Nanti kamu langsung naik aja kelantai 20. Kamu bisa langsung nanya aja ke pegawai dimana ruang aku. Ngerti?" Jelas Fikri.
"Ngerti." Anis langsung berbalik menuju arah kantin yang berada tepat di ujung kantor.
Ia langsung melihat deretan kedai minuman. Ia kagum melihat kantin ini sangat luas. Ia langsung pergi ke kedai yang menyediakan minuman Milkshake.
"Pesan apa, Bu?" Ujar si penjual.
Anis melihat daftar menu. Dia bingung ingin beli yang mana.
"Gak mau pesan yang biasa aja, Bu?" Ujar si penjual kembali.
"Hah? Pesanan yang biasa? Emangnya saya punya?" Tanya Anis bingung. Dan penjual itu mengangguk. Perasaan aku baru pertama kali datang ke kantor ini. Dan baru pertama kali datang ke kota ini. Dan aku punya pesanan biasa? Batinnya.
"Punya. Bubble Blueberry Cheese Shake. Mau pesenan biasa atau yang lain, Bu?"
"Ummm... yang biasa aja, deh. Saya suka blueberry!"
"Oke. Sekalian untuk Bapak gak, Bu?"
Anis kembali heran. Untuk Bapak? Bapak siapa?
"Bapak? Bapak siapa?"
Penjual itu kembali terkekeh, "Ah Ibu, mah. Suka bercanda. Ya untuk suami Ibu lah. Masa Ibu lupa sama suami sendiri?" Jawabnya masih dengan tertawa.
"Lah, Mbak. Saya gak punya suami. Saya masih single."
"Waduh, bukannya Ibu istrinya Bapak Fikri, ya?"
"Gak, kok. Kami aja baru kenal. Cuma temanan aja." Anis mengira kalau mbak penjual ini mungkin salah paham melihat ia tadi datang berbarengan dengan Fikri.
"Aihh...? Ah, pusing kepala saya. Bapak Fikrinya mau dibikinin juga gak, Bu?"
"Bikinin saja. Dia punya pesenan biasa juga'kan?" Tebak Anis. Dan penjual itu langsung mengangguk.
"Jadi totalnya 30.000, Bu."
Anis memberi uang pas, dan penjual juga memberikan struknya. "Silahkan tunggu, Bu. Duduk aja dulu."
Anis pergi mencari kursi kosong. Meninggalkan Mbak penjual tadi bersama rekan kerjanya.
"Bukannya Bu Anis itu istrinya Bapak Fikri, ya?" Tanyanya.
"Iya, saya kaget pas di bilang dia cuma temanan aja sama Pak Fikri. Dan dia bilang mereka baru kenalan kemarin. Perasaan udah 3 tahun lebih, deh."
"Ah tau ah. Pusing pala saya."
***
Anis melangkah menuju lift sambil memegang 2 gelas air. Dia heran, setiap ia melangkah dan melewati orang-orang kantor. Ia selalu di sapa ramah. Dan mereka semua tau namamya.
"Selamat Pagi, Ibu Anis." Itulah sapaannya.
Sampai di lantai 20, ia tidak bertanya pada pegawai, karena dari lift, ia melihat sebuah papan nama kayu tepat di sebrangnya dengan bertuliskan 'direktur'. Ia pun langsung menuju kesana. Ia menatap bingung saat melihat meja sekretaris kosong. Mungkin ada di dalam sedang memberi jadwal atau apalah. Ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Gelak tawa wanita terdengar merdu di telinganya. Dari caranya tertawa aja terdengar anggun.
Seorang wanita duduk di pinggir meja kerja Fikri. Menghadap ke pria tampan itu. Pose wanita itu saat ini, persis seperti sekretaris yang sedang menggoda bosnya. Tapi Fikri tidak terlihat risih. Bahkan dia tertawa mendengar wanita itu membuat lelucon. Yang menurut Anis sama sekali tidak lucu.
"Permisi." Ujarnya Anis. Fikri langsung menatap Anis yang berdiri didepan pintu. Dan sekretarisnya itu langsung berdiri menghadap Anis. Memasang senyum jahilnya.
"Oh ya, Nis. Kenalin ini Mihrima, Sekretarisku. Mihrima ini Anis. Anak pemilik Cafe yang kemarin ku ceritakan." Ujar Fikri santai. Kedua wanita cantik itu langsung mendekat dan bersalaman.
Dasar, kelihatan banget tipe sekretaris penggodanya. Baju ketat, Blazer ketat, rok ketat. Make up tebal. Situ ondel-ondel? Batinnya. Ntah kenapa hatinya benar-benar panas melihat wanita yang menurutnya penggoda itu.
"Hai." Sapa Anis.
Mihrima hanya tersenyum. Ia mengambil berkas-berkas yang baru saja di tanda tangani oleh Fikri.
"Saya permisi dulu, ya Pak." Ujar Mihrima dengan centilnya dan mengedipkan sebelah matanya pada Fikri.
Anis menatap aneh kearah Mihrima. Fix dia emang penggoda. Dia melewati Anis begitu saja.
"Sekretarismu itu kayaknya genit, ya." Ujar Anis sambil meletakkan minuman untuk Fikri.
"Dia gak gitu kok. Cuma iseng aja." Katanya, "Nis. Perasaan aku gak minta minuman, deh." Ujarnya kembali sambil meraih gelas yang berisi Cappucino Cheese Shake kesukaannya. Dan langsung meminum minuman yang sudah lama tak ia minum itu.
"Tadi Mbak kantin yang nawarin. Aneh tau, gak? Padahal aku baru datang kesini dan dia bilang aku punya pesanan biasa? Dan pas banget aku emang suka sama minuman ini." Fikri langsung menatap Anis dengan was-was. Takut kalau kepala wanita itu kembali sakit.
"Terus tau, gak? Dia bilang kamu itu suami aku!"
Byurrrrrr....
"Iuhhh... Fikri! Jorok!"Pekik Anis kaget saat tiba-tiba Fikri menyemburkan air dalam mulutnya ke baju Anis.
"Sorry... sorry..." Fikri bangkit dan langsung membersihkan cipratan air di blouse area dadany, tanpa sengaja. Anis yang merasa dilecehkan karena tangan Fikri berada di dadanya langsung melakukan ancang-ancang.
"FIKRIII!!!!!"
PLAKKKK
Anis langsung menampar Fikri yang terbengong mendapat tamparan itu.
"Kurang ajar! Kamu nyari kesempatan, ya? Kamu udah janji! Ihhhhhh..." Pekik Anis sambil memukul d**a Fikri.
"Sorry...sorry... aku gak sengaja."
Anis masih memukul-mukul d**a Fikri. Fikri langsung menahan tangan wanita itu. Pegangannya sangat erat sampai Anis kesusahan untuk melepas genggaman.
"Jangan di pukul lagi. Sakit tahu!" Ujar Fikri dengan suaranya yang sangat dalam.
Jantung Anis langsung berdetak dengan cepat. Sorot mata Fikri sangat tajam. Membuat bulu kuduknya merinding.
"Fikri..." lirih wanita itu saat Fikri mendekati wajahnya.
"Hm?" Gumam Fikri. Ia menatap bibir Anis.
"Kamu mau apa?" Tanya Anis. Ia semakin takut saat Fikri memiringkan kepalanya.
"Mau aku? Aku mau cium kamu."
Cup.
Anis langsung memejamkan matanya begitu merasakan bibir kenyal Fikri menyentuh bibirnya. Melumat bibirnya dengan lembut. Awalnya Anis menolak, karena Fikri seenaknya menciumnya. Melecehkannya kembali. Mengambil ciuman pertamanya yang seharusnya hanya ia lakukan bersama suaminya. Tapi, ia menikmati lumatan bibir Fikri yang terasa lembut dan berhati-hati.
Dejavu. Batinnya.
Ia merasa Dejavu. Ia seperti pernah berciuman seperti ini. Anis membalas ciuman Fikri. Tangannya mulai melingkar di leher Fikri. Membuat Fikri bersorak ria dalam hatinya karena wanita di hadapannya menikmati ciumannya. Meski awalnya dia menolak.
Fikri melepaskan ciumannya dan menatap Anis dalam. Anis terlihat belum puas, bahkan ia kaget saat Fikri melepas ciuman mereka.
"Kamu mau jadi pacar aku?"