BAB 4

1474 Kata
"Kamu mau jadi Pacar aku?" Anis tersentak kaget saat kalimat itu keluar dari mulut Fikri. Ntah angin apa yang membuat Fikri mengatakan itu pada Anis. "Hah?" Ujar Anis pelan. Wajahnya cengo, dan membuat Fikri terkekeh. "Kamu mau jadi Pacar aku?" Ulangnya. Entah kenapa Anis merasa sulit bernapas saat mendengar kata itu. Tangannya masih terkalung di leher Fikri. Ini aneh, menurutnya. Bagaimana bisa seorang pria mengajaknya berpacaran, sementara mereka baru bertemu kemarin? "Tapi ini terlalu cepat. Kita baru bertemu." Jawab Anis. "Emangnya kenapa?" "Apa alasannya?" Fikri tersenyum, dia sudah tau kalau Anis akan bertanya kenapa. Fikri juga tau kalau dia terlalu buru-buru, "Karena aku cinta sama kamu." Jawab Fikri. Dia mempererat pelukannya di pinggang Anis. "Wow... kita baru bertemu, dan kamu udah cinta aja sama aku? Apa ini namanya cinta pada pandangan pertama, hmmm?" Canda Anis sambil mencoba untuk tertawa meski ia sebenarnya sangat gugup. "Iya. Aku cinta kamu saat kita pertama kali ketemu." Anis semakin gugup, "Jadi kamu mau jadi pacar aku?" Tanya Fikri sekali lagi. Anis menghela nafasnya, "Fikri, ini terlalu cepat. Kenapa kita gak pdkt-an aja dulu?" Ujar Anis. "Pdkt? Kita bukan anak SMA, Nis. Sebenarnya aku mau langsung ngajak nikah, cuma karena aku tau kamu butuh waktu, makanya pacaran aja dulu. Mau ya?" Anis menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu ini gila ya? Masa langsung ajak nikah." "Ya makanya aku ngajak pacaran." "Gak ah. Aku mau pdkt dulu. Titik!" Fikri terdiam, PDKT? Yaudah lah gak apa. Yang penting kamu tetap milikku, sayang. Batinnya. "Oke. Karena kita lagi PDKT, aku mau nanti malam kita kencan. Karena nanti malam kita kencan aku mau kamu dandan yang cantik, ya?" Ujar Fikri mantap sambil melepas pelukannya. "Oke. Kita dinner di cafe aja, kan?" Tanya Anis. Fikri menaikkan kedua alisnya. "Enggak, dong. Nanti aku jemput jam 7. Kamu pulang dari cafe jam 5 aja. Nanti aku jemput di rumah." "Okelah." Tok...tok...tok... Suara ketukan pintu terdengar buru-buru. Fikri langsung melepas pelukannya pada pinggang Anis dan menyuruh masuk yang mengetuk itu. Anis memutar kedua bola matanya saat melihat Mihrima sang sekretaris penggoda masuk. Tapi anehnya, wajah wanita cantik yang terlihat sombong tadi terlihat panik dan ketakutan. "Ya Mihrima? Ada apa?" Tanya Fikri yang masih berdiri di tempatnya, sedangkan Anis berdiri dia sampingnya. "Engg... anu pak. Itu... anu..." ujar Mihrima tergagap sambil mencuri lirikan takut pada Anis. Dia tidak bisa mengatakan sebenarnya, karena ada Anis. "Kenapa? Ngomong yang jelas. Apa ada masalah?" Tanya Fikri pelan. Mihrima meremas kedua tangannya, pasti dia akan mendapat amukkan dari Fikri jika ia katakan. "Iya, Pak. Itu... ah! Ada rapat dadakan dari pemilik saham. Jadi kita harus segera kesana. Ayo, Pak. Dia butuh kita... eh maksudnya mereka butuh kita. Soalnya kalau kita gak dateng dia bakal nyabut sahamnya." Ujar Mihrima sambil menarik-narik tangan Fikri. Anis yang melihat merasa bingung. Mihrima terlalu berlebihan, menurutnya. "Oke. Anis, kamu ke cafe sama supir, ya?" Ujar Fikri dan Anis mengangguk. Mihrima langsung menarik tangan Fikri keluar. Mereka langsung menaiki lift khusus direksi agar Anis tidak mendengar pembicaraan mereka. "Ada apa Mihrima? Tidak ada rapat kan?" Tanya Fikri. "Gak ada. Tapi... tapi Mas jangan marah, ya?" Ujar Mihrima takut-takut. "Iya. Mas gak marah. Ada apa?" Ujar Fikri pelan. "Itu... tadi pengasuh nelpon. Dia bilang Rhea demam tinggi, Mas." Ujar Mihrima. Fikri langsung melototkan matanya kearah Mihrima. "WHATT?!" Pekiknya kaget. Mihrima memasang wajah melasnya. Pasti Fikri akan meledak jika tau 'putri semata wayangnya' sakit. "Arghhhh... Mihrima! Mas kan udah bilang, kamu jaga aja Rhea di rumah...." geramnya sambil mencubit pipi Mihrima yang sedikit chubby itu dengan gemas. "Aduh... duh... sakit masss... Aku kan juga mau kerja." Gerutu Mihrima sebal karena pipinya sakit. "Buat apa kamu kerja? Kan udah ada Mas..." ujarnya kembali geram. Tapi Mihrima hanya diam. *** Jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Ia sudah siap dengan dress full skirt nya yang berwarna biru dongker. Ia mengenakan sepatu flat dengan warna yang sama, dan rambutnya ia kepang italia, dengan polesan tipis di wajahnya. Wanita itu duduk di ruang tamu menonton reality show kesukaannya. Drttt... drttt...drttt... "Assalammualaikum." Sapanya setelah mengangkat telpon dari ibunya. "Walaikumsalam. Apa kabar, nduk?" "Baik, Bu. Ibu apa kabar? Maaf, Bu. Anis lupa telpon buat kabarin ke Ibu." "Baik. Gak apa, Ibu juga sibuk disini. Oh ya, Nak. Fikri baik gak sama kamu?" "Baik kok, Bu." Ujarnya. Karena memang sejauh ini baik. Ya, kecuali tadi siang. "Baguslah. Oh iya, Nak. Ibu masukkan kotak beludru kecil kedalam kopermu. Ketemu tidak?" Anis tampak berpikir, "Gak tau, Bu. Anis belum keluarin baju dari koper. Males... hehe. Bentar ya Anis liat dulu." Dia kembali naik ke atas dan membongkar isi kopernya, "Ketemu, Bu." Ujarnya. Anis memegang kotak beludru merah itu dengan heran. "Buka, Nak. Tapi dipakai terus, Yah. Anggap aja jimat keselamatan kamu. Oke? Biar Ibu tenang disini." Ujar ibunya. Anis membuka kotak beludrunya. Matanya berbinar menatap sebuah cincin yang indah. Cincin yang berbentuk seperti lilitan ranting dan dilapisi berlian. "Cantik banget, Bu." Ujar Anis senang sembari memakainya di jari manis kirinya. Kemudian menatap kagum jarinya yang terhias cincin itu. "Iya dong. Sudah dulu ya, Nak. Ibu sibuk. Assalammualaikum." Sambungan terputus disaat suara Fikri terdengar dari lantai bawah. Anis langsung menarik tas slempangnya dan turun ke bawah. Ia mengernyit bingung saat melihat Fikri dengan tampang yang kusut. Rambut berantakan, Jas yang sudah berpindah di tangannya, Bajunya yang keluar serta kusut dimana-mana. Bahkan Fikri terlihat seperti bangun tidur. "Kamu udah siap, ya? Maaf ya aku berantakan gini. Aku berbenah dulu boleh?" Tanya Fikri dengan suaranya yang serak seperti bangun tidur. Anis mengangguk, "Boleh." Ujarnya dengan tersenyum. Fikri langsung naik keatas dengan lemas. Badannya terasa tidak enak setelah menemani Putrinya, Rhea, tidur. Sepertinya Fikri tertular demam dari Putrinya itu. Kepalanya terasa berat dan hawa dingin menyerangnya. Ia mencoba menggapai handuk tapi, BUG... Tubuhnya langsung terjatuh di lantai kayunya. Suara dentuman pun terdengar di telinga Anis. Ia langsung berlari ke atas menuju kamar Fikri. "Astagfirullahhh.... Fikri? Kamu kenapa?" Pekiknya saat melihat Fikri terlentang di lantai dengan tangan kanannya yang menekuk menutup wajahnya. "Sini aku bantu baring di kasur." Ujar Anis memegang bahu Fikri dan menuntunnya untuk berbaring. "Kamu panas banget. Bentar ya aku ambil kompresan dulu." Ujar Anis dengan panik. Ia langsung berlari terburu-buru untuk mengambil kompresan. "Nahhh... ada yang gak enak, gak? Badannya..." Ujar Anis setelah meletakkan handuk basah di kening Fikri. Fikri mengangguk pelan, "Dingin. Perut aku mual." Ujarnya pelan. "Kamu ada minyak kayu putih?" "Ada, di laci." Tunjuk Fikri. Anis langsung membuka laci. Dan menemukan minyak kayu putih disana, "Sebentar, ya." Ujar wanita itu. Ia kembali lagi ke dapur. Mengupas bawang merah, dan mengirisnya. Kemudian ia masukkan kedalam mangkok kecil yang sudah berisi minyak kayu putih. Anis kembali ke ke kamar Fikri. "Ummm... kamu bisa pake minyaknya sendiri kan?" Tanya Anis malu-malu. Fikri tersenyum mendengarnya, "Enggak bisa. Kan aku lagi sakit." Ujarnya manja. Anis menggarukkan kepalanya, "Yaudah, deh. Buka bajunya." Ujarnya malu-malu kembali. "Gak bisa, Nis. Badanku sakit-sakit semua." Anis mendengus mendengarnya. Tapi ia tetap membuka kancing baju Fikri dengan tangannya yang bergetar. Sementara Fikri, ia tersenyum geli melihat ekspresi Anis yang malu-malu. Anis mengoles minyak tadi ke perut Fikri. Gila, kotak-kotak semua... malah keras lagi... Batinnya. Dia belum pernah melihat pria bertelanjang d**a. Apalagi pria yang mempunyai keindahan tubuh seperti Fikri. Seksi. Memikirkan itu saja membuat kedua pipi gadis itu memerah menahan malu. Fikri menangkap semburat merah di kedua pipi Anis. Dia hanya tertawa dalam hati melihat Anis malu-malu kucing. "Maaf, ya. Kita gagal kencan malam ini." Ujar Fikri merasa bersalah. "Gak apa, kok. 'Kan masih ada lain waktu. Lagian kamu kan sakit. Gak mungkin kan di paksa?" Balas Anis sambil tersenyum. "Nis, punggungku pegel-pegel. Pijitin, ya?" "Enggg... yaudah balik badannya." Fikri langsung tidur tengkurap. Pinggangnya pegal karena seharian harus menggendong Rhea yang merengek minta di gendong. "Kalo susah, duduki aja pinggang aku." Ujar Fikri. "Enggak, kok. Ntar makin sakit." "Kan nanti bisa kamu pijitin lagi." "Yaudah," Anis naik keatas kasur dan menduduki pinggang Fikri, "Maaf, ya." Anis kembali memijat punggung Fikri dengan minyak yang ia racik tadi. Anis memang ahlinya memijat. Pijatannya memang tepat di tempat yang terasa pegal itu. Sekilas Fikri melihat ke arah belakang untuk melihat Anis. Tetapi matanya terhenti di kaki Anis yang putih mulus. Duduk diayas badan Fikri membuat dress yang di pakai wanita itu tersingkap menampilkan paha putihnya. Fikri menelan salivanya sendiri. Kenapa disaat kayak gini dia malah suguhin pahanya yang indah itu? Argghhhh... Batinnya frustasi. "Nis, udah agak enakkan. Mending kamu tidur aja, udah malam." Ujar Fikri tiba-tiba. Anis yang tidak mengerti apa-apa hanya mengangguk dan keluar dari kamarnya. Fikri menghela nafasnya pelan. Berada disamping Anis membuat hasratnya muncul. Tapi ia sadar, ini bukan waktunya ia memenuhi hasratnya pada wanita itu. Nanti aja... lo mesti sabar, Fik. Kalau dia udah nerima lo jadi cowoknya, lo bisa menuhin hasrat binatang lo itu! Batinnya. Baru saja akan tertidur, hp nya berdering. Ia menatap nama yang sedang menelponnya 'Mihrima'. "Assalammualaikum." Sapanya. "Daddyyyy... huhuhu... Daddy kok tinggalin adek? Huhuhu..." isak tangis putrinya membuatnya tersenyum. "Maaf ya, sayang. Daddy lagi banyak kerjaan. Daddy gak bisa pulang malam ini. Kamu tidur sama Bunda aja, ya." "Tak auuuu... hhiksss.... aunya ama Daddyyyy... tak auu ama Bunda... Daddyyy pulanggggggg...." Fikri memijit kepalanya yang terasa pusing. "Daddy gak bisa sayang. Daddy juga lagi sakit kayak kamu. Kalau Daddy udah sembuh nanti Daddy pulang, ya." "Daddy atittt? Daddy udah mamam obat?" Tangisan tadi berubah jadi panik. "Udah sayang. Daddy janji, kalau Daddy udah sembuh. Nanti Daddy ajak Adek sama Bunda makan di tempat biasa, oke? Sekarang Adek bobok dulu ya, Nak. Bilang sama Bunda jangan lupa kunci pintu sama jendela." "Oke Daddy... lup yuuu muahhh. Samuikum." "Love you, too. walaikumsalam."    =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN