BAB 5

1777 Kata
Dua hari setelahnya, keadaan Fikri sudah membaik dan pria tampan itu bekerja seperti biasa. Sementara Anis, dia tengah berkeliling di salah satu Mall di Batam, Mega Mall, yang memang lumayan dekat jaraknya dari rumah Fikri. Memang ini adalah kali pertama bagi Anis ia menginjakkan kaki di Batam. Tapi berkat mbah google, ia terhindar dari tersesat. Fikri memang melarangnya untuk bawa mobil sendiri. Tapi, Anis lebih suka bawa mobilnya sendiri dibanding disupiri. Dia memang pernah kecelakaan tapi itu tidak membuatnya trauma. Ia tengah melihat-lihat sepatu sneacker yang terpajang di toko. Sneacker merupakan alas kaki favoritnya. Meski dulu heels dan segala t***k bengeknya selalu ia gilai. Tapi... dengan kondisi sekarang? Heels adalah musibah baginya, salah-salah kaki bisa pincang dua-duanya. "AAAA... GAK MAUUU MBAK... Lea mau itu!!! Ah Mbakkk..." Anis langsung mengalihkan pandangannya dari sneacker bercorak polkadot itu pada seorang anak balita... ah mungkin batita. Anak perempuan dengan kuncir 2 itu merengut manja sambil memeluk kaki seorang wanita yang Anis terka berumur 18-an dan memakai baju khas seorang Baby Sitter. "Tapi itu mahal, Lea... Daddy kamu cuma ngasih uangnya pas-pas'an. Kalau di belikan itu, nanti Dek Kemi nya di beliin apa?" Tanya sang Baby Sitter yang berjongkok tapi tangannya erat memegang kereta dorong bayi. "Adek tan masih kecil. Gak usah dibeliin. Lea mau beli sepatu itu Mbak... sepatunya tantik... Lea suka..." Rengeknya manja sambil memeluk leher Sang Mbak. Sang Babysitter menuntun Lea dan kereta bayinya untuk duduk di bangku coklat yang berada dekat toko tempat Anis mengamati sepatu. "Gak boleh gitu dong, Sayang. Tadi janjinya apa sama Daddy, hayoo? Kalau Rhea beli, adek juga harus beli." Bujuknya lagi. Anis tersenyum, Babysitter itu menurutnya sangat pandai meski ia masih terlampau muda. Dan ia bisa menjaga dua anak sekaligus. Merasa kasihan, Anis mengambil sepatu sneacker kecil dengan corak yang sama dengan miliknya dan membayar kedua sepasang sepatu itu ke kasir. "Huhuhu... Lea mau sepatunya Mbak... huhu..." Isak gadis kecil itu sambil memeluk Sang Mbak kesayangannya. Si Mbak pun mengusap pelan rambut Rhea sambil matanya menatap Kemi Sang bayi laki-laki yang tengah menggesekkan giginya pada mainannya. Gusinya terasa gatal karena gigi yang akan tumbuh. "Hai..." Sapa Anis. Sang  Mbak mendongak dan sedikit tersentak melihat sesosok wanita cantik berdiri dihadapannya. "Ya?" Balas Sang Mbak. Rhea merenggangkan pelukannya pada Mbak kesayangannya dan menatap Anis. "Hai, Princess... tadi nangis, ya? Kenapa?" Tanya Anis sambil berjongkok. "Lea mau sepatu itu, Tante Cantik..." Ujar Lea sambil menunjuk sepatu polkadot kecil yang terpajang di bagian kaca toko, "... tapi Daddy jahat! Mbak cuma di kasih uang sedikit. Huhuhu.... Daddy jahat... huhuhu..." tangisannya kembali pecah dan kembali memeluk Si Mbak kesayangannya. Anis tersenyum, ia mengeluarkan kotak sepatu berwarna pink yang ber-merk toko tersebut. "Tante tadi juga beli sepatu, coraknya sama persis kayak sepatu yang tadi kamu tunjukin. Jadi, Tante beli deh sepatunya... untuk kamu. Jangan nangis lagi ya, Sayang." Ujar Anis sambil mengapus air mata Rhea. Mata Rhea berbinar menatap sepatu yang ia sukai ada dihadapannya dan sudah menjadi miliknya. "Aduhh... Bu. Jangan... saya gak enak... gak usah Bu..." Ujar Sang Babysitter. "Ah gapapa, kok. Kasihan soalnya ngeliat dia nangis tadi. Dan jangan panggil 'Bu', dong. Saya belum beranak. Nama saya Anis. Panggil Kak saja, ya." Ujar Anis ramah. Sementara gadis kecil bernama Rhea itu tengah sibuk duduk di lantai memakai sepatu barunya. "Terima kasih kalau begitu. Saya Silva. Kakak jangan duduk di lantai dong, Sayang..." ujar Babysitter bernama Silva itu. "Jadi duduk dimana, Mbak?" Ujar Rhea. Silva berbungkuk dan menggendong anak jaganya itu untuk duduk dibangku. "Disini kan ada bangku..." ujarnya. Anis tersenyum, matanya beralih pada bayi mungil yang tengah menatapnya di kereta dorongnya. "Ini namanya siapa?" Tanya Anis sambil meraih bayi mungil itu dalam gendongannya. "Namanya Kemio, Kak." Jawab Silva. Anis tersenyum dan mencium gemas pipi gembil milik Kemio. Bayi laki-laki itu tertawa geli hingga gusi-gusi kecilnya terlihat membuat Anis semakin gemas. "Saya mau pergi makan siang. Ikut, yuk. Saya traktir kok. Setelah itu saya temani beli sesuatu deh untuk Kemi." Ujar Anis senang. Silva hanya mengangguk kemudian Sang Babysitter itu menggamit tangan Rhea sambil mendorong kereta bayi Kemio yang berisikan kantong plastik tempat sepatu yang sebelumnya di pakai Rhea. Kini gadis kecil itu memakai sepatu pemberian Anis dengan suasana hati yang gembira. Sepatunya pas di kaki mungilnya. Sementara Anis terlihat enggan melepaskan bayi lucu itu. Ya... dia memang suka dengan anak-anak. Mereka memutuskan untuk makan di restoran yang ada fasilitas bermain untuk anak. Sebenarnya, inisiatif Anis saja, ia ingin membuat Rhea merasa nyaman mengingat Silva bilang Rhea paling susah kalau makan. Kecuali, Bundanya yang suapin. Gadis kecil itu mungkin bisa menambah 2 piring sekaligus jika Sang Bunda yang menyuapinya. Bayi Kemi duduk dikursi bayi sambil Silva menyuapinya dengan bubur nasi yang dibuatnya sendiri. Orang tua bayinya memang sudah membelikan bubur instan untuk Kemi. Tapi menurut Silva bikin bubur sendiri lebih sehat -mungkin karena ia mengambil jurusan kebidanan, dengan nasi dan beberapa sayuran yang sudah direbus dan dihancurkannya. "Kenapa kamu 'nyambil'?" Tanya Anis. "Biasa, Kak.. ekonomi. Saya punya 2 adik yang masih sekolah. Dengan pekerjaan Bapak yang jualan bakso dan Ibu yang hanya jualan gorengan depan rumah, saya harus tau diri untuk mencari nafkah membiyai kuliah saya. Tidak mungkin saya bergantung pada keuangan orangtua saya." "Emangnya Adik kamu kelas berapa? Sekolah negeri gak bayar'kan?" "Iya, Kak, gak bayar. Cuma kebutuhan sehari-hari bagaimana? Adik saya yang kedua baru mau masuk SMA. Kalau paling kecil masih jelas 5 sd." Ujar Silva sambil tersenyum. "Emang kamu di gaji orangtua mereka berapa?" Tanya Anis penasaran. Silva hanya tersenyum. "Pokoknya cukup untuk bayar uang kuliah sama cicilan rumah. Dan sisanya jadi uang jajan saya." Jawab Silva yang merasa tidak enak jika ada yang tanya berapa gajinya. Anis hanya ber-o ria. Pramusaji datang membawa pesanan mereka. Anis memesan Nasi Goreng untuk dirinya sendiri dan Asam pedas pakai nasi untuk Silva. Awalnya Silva menolak dibelikan itu, tapi karena tadi Anis dengar Silva suka asam pedas, jadi dipesan kan lah untuk wanita muda itu. Anis menyelesaikan makanannya dan bangkit untuk memanggil Rhea yang sibuk bermain plosotan dengan teman barunya. "Rhea, Sayang... ayo makan dulu..." Panggilnya saat Rhea tengah mengambil posisi untuk seluncuran. "OKEE... HIYYYY ACIKKK...." ujar nya sambil merosot ke bawah, "... Bental ya... mau mamam dulu..." teriaknya girang. Anis akui meski Rhea baru mau menginjak umur 3 tahun dia kelihatan seperti anak berumur 5 tahun. Dia lumayan tinggi dalam usianya dan ucapannya tidak terlalu cadel bahkan bisa di bilang lancar jika sedang berbicara. Anis bahkan salut pada Bunda Rhea yang mungkin telah mengajarkannya berbicara dengan lancar sejak dini. Karena ia tau kalau Silva baru saja menjadi Babysitter keduanya 1 bulan yang lalu. Dan lihat lah? Kedua anak kecil ini cepat akrab dengan Silva. Orang-orang disekitar kedua anak ini memang orang-orang yang luar biasa. Batinnya. Setelah menyelesaikan makanannya. Mereka pergi ke toko bayi untuk membelikan mainan atau sesuatu untuk Kemi. Ntah kenapa Anis ingin terus berada didekat kedua anak kecil itu. "Tante... adek mau dibeliin apa?" Ujar suara lucu Rhea. "Hm? Apa ya? Tante juga gak tau. Bagusnya apa?" Jawab Anis. "Kita beliin boneka teddy bear guiedeeeee... warna coklat. Adek pasti suka." Ujar gadis kecil itu dengan tangannya yang bergerak untuk menggambarkan betapa gedenya boneka yang ia maksud. "Adeknya yang suka? Atau kamunya yang suka?" "Hehehe... aku yang suka... Mbakkk kita beli itu, yuk..." Rhea langsung memeluk kaki Silva dengan tatapan memohonnya. "Tadi kan dah dibeliin sepatu." "Tapi tan gak pake uang Daddy. Dan Tante tantik yang beliin. Berarti Rhea juga beli dong, ya..." Anis kembali tersenyum dan menawarkan diri untuk mentraktir kedua anak itu membeli sesuatu. Ia membelikan Kemi 2 pasang sepatu. Dan Rhea ia belikan boneka yang ia tunjuk tadi. Mereka kembali duduk di bangku yang berada di depan toko. Silva tengah pergi ke toilet. Kemi tampak asik bermain dengan mainannya. Sementara Rhea? Ia tertidur pulas sambil memeluk bonekanya. Anis merangkul bahu Rhea takut anak itu jatuh. Seorang wanita paruh baya dengan putranya melintas didepannya. Wanita paruh baya itu berbalik dan melangkah ke kereta bayi Kemi. "Bayinya lucu sekali..." ujar wanita paruh baya itu. Anis hanya tersenyum saat wanita paruh baya itu mengelus pipi gembil milik Kemi. Sedangkan Putranya hanya menatap datar. Tidak ada ekpresi yang dikeluarkan Pria tampan itu. "Namanya siapa?" Tanya wanita paruh baya itu. "Kemio, Bu." "Ahhh... dia mirip sekali seperti Putra saya saat masih bayi. Saya merasa seperti baru melahirkan saja..." Ujar wanita itu sambil mengusap lembut bahu Pria tampan itu. Pria itu membalas senyuman Ibunya saat si Ibu menatap lirih pada Putranya itu. "Boleh saya gendong bayinya?" Tanya wanita paruh baya itu. "Ohhhh.. boleh tentu saja. Asal jangan di bawa pulang... hehe.." Canda Anis. Wanita paruh baya itu berbungkuk dengan mengulurkan tangannya untuk menggendong Kemi. Tapi ekspresi bayi itu berubah menjadi takut dan tangisan kencang pun keluar dari mulutnya. "OEKKK...OEKKKK...OEKKKK...OEKKK..." Pekik tangisan Kemi. Sang wanita terlihat kaget dan makin ingin menggendong Kemi untuk menenangkannya. Tapi apa yang terjadi? Kemi malah mencak-mencak di kereta dorongnya membuat kereta dorongnya bergoyang-goyang. Bayi itu terlihat takut dan tidak ingin disentuh oleh wanita paruh baya itu. Anis berusaha menenangkan Kemi saat para pengunjung mulai melihat kearah mereka. "Kemi... sayang... cup...cup... jangan nangis ya..." Ujar Anis menenangkannya. Tapi Kemi sama sekali tak menghiraukan. Anis mengangkat kepalanya saat Pria tampan itu mengambil Kemi dari kereta dorongnya. Pria tampan itu menggendong Kemi dan berusaha menenangkan bayi itu. Dan benar saja, Kemi langsung terdiam. Bahkan bayi mungil itu memeluk erat leher Pria tampan itu. "Maaf, ya. Sudah bikin anak kamu nangis. Kayaknya anak kamu takut sama saya." Ujar wanita paruh baya itu menyesal. Dia juga bingung mengapa bayi itu takut padanya. Pria tampan itu kembali meletakkan Kemi dalam kereta bayinya. Kemi terlihat sedih saat Pria tampan itu melepasnya. Keduanya pamit mepanjutkan kegiatan berbelanja mereka di Mall. Sebenarnya hanya ibunya saja yang berbelanja. Anis menatap Kemi dan membandingkan wajah Kemi dengan pria tadi. Keduanya memang mirip. Sangat malah. Bukan hanya wajahnya saja. Matanya yang bulat, bulu matanya yang lentik, Bola matanya yang berwarna hazel. Persis seperti pria tadi. Bahkan Anis sempat beropini 'mungkin' pria tadi adalah Ayah Kemi tapi... bagaimana mungkin? "Duhh maaf ya, Kak... lama. Antri tadi di dalam sana." Ujar Silva yang muncul. "Santai aja. Oh ya... aku antar pulang yuk. Nunggu taksi kelamaan. Rhea udah tidur soalnya." "Ahh terima kasih, Kak. Dari tadi ngerepotin mulu." "Santai aja." Ujar Anis sambil menggendong Rhea dan boneka besar miliknya. Saat tiba dirumah, Anis membaringkan Rhea di tempat tidurnya. Anis mengusap pelan rambut Rhea setelah ia lepas kuncir 2 nya. Ada rasa enggan untuk meninggalkan Rhea. Perasaan yang aneh, padahal baru saja bertemu. "Met bobo, Sayang. Semoga kita ketemu lagi, ya..." Ujarnya sambil mengecup kening Rhea dengan lembut. Anis akan bangkit tapi gerakannya terhenti saat melihat pigura photo yang terpampang di nakas. Foto Rhea yang tengah mengucap perut wanita hamil. Anis mengernyitkan dahinya berusaha mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu wanita itu. "Mihrima...?" Anis tersenyum, rupanya Mihrima sudah menikah dan Rhea beserta Kemi adalah anak-anaknya. Tapi... kenapa Mihrima tidak sopan dengan Fikri? Pikirnya. Anis menggidikkan bahunya. Wajah Rhea memang mirip dengan Mihrima. Cantik... eh? Batinnya. "Kemi sudah tidur, ya?" Tanya Anis menyusul Silva di kamar Kemi tepat disebelah kamar Rhea. Dia menatap Kemi yang terbaring memeluk boneka kelincinya dan masih memakai sepatu. "Sepatunya kenapa gak di lepas, Sil?" Tanya Anis. "Dia kalau tidur memang suka pakai sepatu, Kak. Kalau tidak dia akan menangis." Anis terkekeh. "Aku pulang dulu, ya. Udah mau maghrib. Terima kasih sudah menemani saya." "Ah kak... seharusnya saya yang berterima kasih." Ujar Silva. Anis tersenyum dan segera keluar untuk pulang.  =====    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN