BAB 6

1192 Kata
Malam ini, Fikri menebus janjinya untuk mengajak wanita itu dinner. Tapi, dandanan wanita itu tidak se-antusias saat menyambut dinner yang gagal itu. Dia hanya memakai dress hitam lengan panjang selutut dan memakai sepatu flat nya. Fikri tengah menunggunya di bawah, ia tertegun melihat penampilan Anis saat wanita itu turun dari tangga. Ntah kenapa pria itu jadi salah tingkah melihat Anis yang sangat cantik malam ini, ya... sebenarnya wanita itu setiap hari cantik, si. Tapi, Fikri merasa ada yang berbeda dari penampilan Anis. Wanita itu sangat berbeda malam ini. Dan pria itu menyadari kalau perbedaan itu datang dari suatu benda berkilau yang melingkari jari manis Anis. Fikri tersenyum kecil, rasa bahagia mulai menyebar dalam hatinya. "Selamat Malam Nona Yudistira. Kamu kelihatan sangat cantik malam ini." Anis memegang tangan Fikri yang terulur, "Terima kasih, Tuan Fikri. Kamu juga lumayan." "Lumayan?" Tanya Fikri menyeringai. Fikri meraih kunci mobilnya. Dan menggenggam tangan Anis, mengiringnya berjalan agar tidak terjatuh. Mereka sampai di salah satu restoran. Untung saja Anis tidak memakai dress yang formal, karena restoran yang mereka datangi hanya restoran biasa dengan nuansa  feminim? Anis menatap restoran dari dalam mobil. Ia merasa kenal dengan tempat ini. Kayaknya pernah kesini, deh. Kapan ya? Ia sedikit.tersentak saat Fikri sudah berdiri di depannya dan tengah membukakan pintunya. "Ayo?" Ujar Pria itu lembut. Anis tersenyum lembut, ia kembali meraih tangan Fikri  dan menggandeng lengan pria itu saat berjalan masuk. Fikri membukakan pintu untuk Anis, "Setelahmu." Ujarnya membiarkan Anis masuk terlebih dahulu. Baru saja akan duduk di kursi yang telah di pesan Fikri. Seorang Pria bersetelan jas dengan nametag di d**a kanannya yang bertuliskan  manager, datang menghampiri keduanya. "Fikri? Sudah lama tidak datang kemari." Sapanya sambil memeluk Fikri sejenak. "Iya, om. Baru sempetnya sekarang." Jawab Fikri. Pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya menatap Anis yang berdiri di belakang Fikri. Menyadari tatapan itu, Anis tersenyum pada pria itu. "Anis'kan? Gimana kaki kamu? Om denger kamu kecelakaan ya 2 tahun yang lalu?" Tanya pria itu sambil memeluk Anis juga. Kening wanita itu mengernyit bingung. Dia sama sekali tidak kenal dengan pria itu. "Baik, Om. Alhamdulillah... om tau dari mana?" Tanya Anis menyesuaikan suasana. Anis melihat pria paruh baya yang tengah menatap Fikri. "Ya dari su-" "Om! Tolong sajikan makanan yang biasa ya, om. Udah lapar banget, nih." Ujar Fikri memotong ucapan pria paruh baya itu. "Siap, boss! Sebentar, ya..." Fikri menarik bangku untuk Anis. Lalu duduk di sebrang wanita itu. "Fik, itu tadi siapa?" Tanya Anis. "Oh, dia pamanku, dan pemilik restoran ini. Kita biasa manggil dia Om Felix." Jawab Fikri santai. "Biasa?" Koreksi Anis terhadap ucapan Fikri. Fikri sedikit tersentak, "mmm... maksudku 'bisa'." Anis menganggukkan kepalanya. "Cincin kamu bagus. Aku baru liat kamu make cincin. Perasaan kemarin nggak pake?" Tanya Fikri. "Ohhh... aku baru nemuin cincinnya. Ibuku yang suruh pake." Jawabnya sambil mengelus cincin yang melingkar manis di jarinya. Fikri kembali tersenyum dalam hati. Rona bahagia muncul di wajahnya. "Kayaknya aku pernah kesini, deh." Ujar Anis tiba-tiba. Fikri mengernyit. "Oh, ya?" "Ya... ahhh... iya, aku pernah kerja disini. Udah lama banget... sampai lupa deh, hehe." Fikri menaikkan kedua alisnya. "Pantesan Om kamu kenal sama aku. Tapi aku lupa sama dia." "Terus kenapa kamu berhenti kerja disini?" Tanya Fikri.dengan was-was. "Karena.... apa ya? Ga tau." Pelayan datang membawakan makanan mereka. 2 piring  Spagetti dan 2 gelas  lemontea. "Ayo makan!" Ajak Fikri. Wanita dihadapannya terdiam memikirkan sesuatu. "Anis?" Panggil Fikri. Anis berusaha mengingat kenapa dia berhenti dia restoran ini. Entah kenapa dia tidak ingat. "Anis?" Panggil Fikri lagi sedikit cemas saat melihat kening  wanita itu berkeringat. Ia berusaha dengan keras mengingatnya. Memang bukan hal yang penting si. Tapi dia ingin sekali mengingat alasannya itu. Kepala berdenyut sakit, ia memegang kepalanya. Matanya terpejam menahan sakit. "Nis, kamu gak pa pa? Anis?" Panggil Fikri ia tengah.berjongkok di samping wanita itu. "Aku gak papa. Aku lapar." Jawab Anis setelah sakit dikepalanya reda. Fikri menganggukkan kepalanya. Ia kembali duduk dikursinya. Anis mulai menyuapi spagetti miliknya. Dia masih bingung, setiap dia ingin mengingat sesuatu, kepalanya pasti selalu berdenyut. Anis mengangkat kepalanya menatap Fikri. Wanita itu tersenyum kecil melihat saus yang belepotan di sudut bibir Fikri. Anis meraih tissu dan mencondongkan badannya ke depan. Melapkan sudut bibir pria itu dengan pelan. Seandainya Anis tau, kalau saat ini hati pria itu loncat-loncat kegirangan di dalam sana. Fikri menangkap tangan Anis di wajahnya. Anis tersipu malu saat Pria itu mengecup lembut tangannya. Dan segera menarik tangannya dengan cepat. "Aku mau ketoilet dulu." Ujar Anis cepat dan langsung beranjak pergi ke toilet. Di toilet, ia menepuk-nepuk kedua pipinya di depan cemin. Jangan merah... jangan merah.... Ia tertawa sendiri akhirnya. Apa gue udah kecantol ya ama dia? Ah... Nis.... lo tu baru ketemu sama dia... masa udah suka aja si??? Di tempat lain, Fikri yang asik-asiknya mikirin Anis yang tersipu karenanya, tak sengaja menangkap sosok wanita yang tengah mendorong stroller bayi dan anak perempuan berumur 2 tahun yang berjalan di samping  stroller. Lho... lho... ngapain mereka disini? Kalau Anis lihat bisa hancur rencana. Malah bawa Rhea lagi... batinnya. Fikri beranjak dari kursinya dan mendekati mereka yang baru saja duduk di pojok restoran. "Daddyyyy!!!!!" Pekik anak perempuan yang bernama Rhea. Ia langsung berlari dan memeluk kaki Daddy-nya. Fikri meraih putri kesayangannya dalam gendongannya. Sontak Rhea langsung bergelayut manja di leher Fikri. "Bun... kesini kok gak bilang mas dulu." Ujar Fikri pada wanita yang bersama Rhea, Mihrima. "Sorry, Mas. Rhea ngotot pengen kemari. Jadi terpaksa aku iya-in." Jawab Mihrima. "Ihhh... Daddyyy jangan malahin Bundaa...." ujar Rhea sambil memukul mulut Fikri. Fikri menangkap tangan mungil Rhea. Dan menciumnya dengan lembut. "Daddy... gak marahin Bunda, sayang. Daddy cuma bilangin aja." Fikri mengecup sekilas pipi gembil putrinya. "Emang kenapa si, mas?" Tanya Mihrima yang tengah membenarkan posisi bantal putranya, Kemi. Fikri melirik kearah toilet. Anis belum keluar. "Mas kesini sama Anis." Mihrima tersentak mendengarnya, "Sumpah demi apa?" Ujarnya kaget. Fikri memutar bola matanya. "Sumpah demi anak-anak kita." Balasnya. "Waduhhh... sayangnya Bunda... kita pulang aja, yuk. Bunda masakin  spagetti kesukaan kamu, deh. Ayo, nak." Bujuknya pada Rhea. Rhea menganggukkan kepalanya dengan senang saat mendengar  spagetti kesukaannya. "Ayo, Dad... kita puyang." Ajak Rhea. "Kamu duluan aja, ya. Daddy lagi kerja." "Aahhh... Daddy puyanggg... daddy puyanggg..." Rhea semakin erat memeluk leher Fikri. "Iya nanti Daddy pulang ya, nak. Daddy kerja dulu, oke?" Rhea memanyunkan bibirnya. "Oce. Tapi ntal malam Daddy bobok sama Lea ya..." "Siap, Bos!" Balas Fikri dan memberi tanda hormat pada putrinya. Rhea beralih dalam gendongan Mihrima. Fikri membungkuk di depan stroller bayinya. "Dada.... sayang..." ujarnya gemas kepada Kemi. Bayi mungil itu  tertawa geli saat mendapatkan beribu ciuman dari Fikri. "Hati-hati, ya." Ujar Fikri kemudian, pria itu mengecup kening Mihrima dan Rhea. Anis muncul disaat Mihrima dan anak-anaknya keluar dari restoran. Fikri bernafas lega. Untung saja tadi Anis lama di toiletnya. "Kok lama?" "Gapapa." jawab Anis. Mereka langsung pulang begitu makanan telah habis. Di dalam mobil Anis berusaha meredakan jantungnya yang berdebar.kencang, ntah kenapa.  Fix! Gue udah cinta ama dia... batinnya. Gak mungkin kan jantungnya berdebar kalau dia gak punya rasa apa-apa? Dia sendiri pun sebenarnya merasa bingung kenapa dia sangat mudah mencintai Fikri. Dan dia juga sadar, kalau rasa itu telah ada saat Fikri menjemputnya di Bandara. Dia juga nyaman berada di dekat pria itu. Sangat nyaman. "Fik..." Panggil Anis. "Ya?" Anis meremas kedua tangannya. Gila! Kami baru satu kali kencan! "Tawaran kamu kemarin... tentang hubungan kita..." Fikri menajamkan telinganya tapi matanya tetap menatap jalanan. "Aku mau." Decitan ban mobil mekakkan telinga Anis dan gadis hampir saja mengahantukkan kepalanya di  dashboard kalau saja Fikri tidak menahan badannya. "Ehhh... eh... maaf.. maaf... kamu gak papa'kan? Ada yang luka gak? Kepalamu gak terhantuk'kan?" Tanya Fikri panik. Anis tersenyum.  "Aku gak papa. Makasih." Fikri berdehem sejenak. "Jadi? Kamu mau jadi istri aku?" Ujarnya senang. Anis mengernyit bingung. Kok istri, sih? "Istri? Kan kamu ngajakin jadian?" Ah.. iya ya. Batin Fikri. "Oke. Jadi kamu mau jadi pacarku?" Anis mengangguk malu sambil menundukkan kepalanya. Fikri tersenyum senang. "Oke, sayang. Saatnya kita pulang kerumah." Ujar Fikri yang tengah mengelus rambut Anis. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN