From: Mas Fikri
Kamu istirahat aja kalau kakimu sakit. Kalau perlu, sekalian aja pulang.
Anis tersenyum membaca pesan dari Fikri. Setelah keduanya resmi berpacaran, Fikri langsung berubah. Berbagai aturan keluar dari mulutnya. Tidak boleh bawa mobil sendiri. Kalau sudah sampai di resto harus kabarin. Kalau mau pergi harus kabarin. Sedikit kesal memang, tapi apa boleh buat. Anis sudah menerima pria itu untuk menjadi kekasihnya.
Anis merasa aneh sekaligus geli dengan status mereka saat ini. Mereka baru saja bertemu. Bahkan Fikri masih orang asing bagi Anis. Anis belum sepenuhnya mengenal Fikri. Bahkan, nama panjang pria itu saja dia tak tahu.
To: Mas Fikri
Siap, 86!
Anis melangkah keluar untuk melihat para pengunjung restonya. Restonya sangat ramai karena memang sedang jam makan siang. Matanya tak sengaja menatap seorang pria yang berdiri di dekat kasir sambil memainkan ponselnya. Anis mengerutkan keningnya saat merasa pria itu tidak asing di matanya.
Ahhh... Iya. Itu kan cowok yang kemarin di mall. Batinnya.
Anis melangkah mendekati pria itu. Merasa ada yang memperhatikan dan mendekatinya, pria itu mengangkat kepalanya. Ia sedikit terkejut saat melihat Anis yang berada dihadapannya.
Anis tersenyum ramah, "Maaf, Pak. Disana ada bangku khusus untuk menunggu kalau bapak memesan makanan yang dibungkus." ujar Anis sambil menunjuk bangku panjang di samping pintu masuk.
Pria itu berdehem sejenak, kemudian memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
"Tidak usah, terima kasih. Saya lebih suka berdiri." Jawab pria itu dengan nada suara yang kaku.
"Pak Keenan, ini pesenannya." Ujar salah satu pegawai yang bernama Feby.
Pria itu tersenyum kaku sambil menambil pesanannya dan membayar dikasir. Anis terus memperhatikan gerak-gerik pria dihadapannya.
"Ambil saja kembaliannya." Ujar pria itu lalu membalikkan badannya kembali menatap Anis.
"Saya Anis. Pemilik restorannya, terima kasih telah berkunjung." Ujar Anis sambil menyodorkan tangannya kehadapan pria dihadapannya.
"Keenan. Dengan senang hati. Mari, Bu Anis." Ujar pria itu yang bernama Keenan. Ia melangkah keluar dengan cara jalannya yang terlihat anggun dimata Anis.
Keenan masuk kedalam mobil audi hitamnya. Meletakkan bungkusan makanan di bangku sampingnya. Ia belum menjalankan mobilnya. Ia masih menatap sosok Anis yang masih setia berdiri di depan pintu masuk restorannya yang terbuat dari kaca.
Keenan menyandarkan badannya di sandaran mobil dengan helaan nafasnya yang bergitu berat. Hatinya tidak tenang. Hatinya tidak tenang dari pertama kali mereka berjumpa setelah 2 tahun di mall beberapa hari yang lalu.
Tentu saja pria itu mengenal Anis. Dia mengenal Anis dengan baik. Dan mengetahui apa yang terjadi pada wanita itu. Apalagi saat melihat gadis cilik yang tidur di samping Anis sambil memeluk boneka beruang raksasanya. Gadis cilik yang ia rindukan.
My little princess... Dia sudah besar... Batinnya kala itu saat melihat sosok Rhea.
Tapi, Keenan bingung dengan sosok bayi mungil yang berada di dalam kereta bayi. Ntah anak siapa itu, tapi ntah kenapa perasaannya tidak enak saat melihat bayi itu. Dan ntah dorongan dari mana tangannya terulur untuk menggendong bayi itu. Sebelum beranjak dari tempat mereka, Keenan menatap sekilas kearah Anis, berusaha untuk menahan diri untuk meminta ampun pada Anis.
Keenan membuka matanya, diiringi dengan bulir air yang mengalir keluar dari matanya. Matanya memerah. Dadanya juga sesak.
Tangannya meraih satu pasang sepatu bayi yang tergantung di dalam mobilnya. Ia mengendus dengan perlahan sepatu bayi berwarna abu-abu. Menghirup aromanya dalam-dalam. Wangi khas bayi menyeruak masuk kedalam hidungnya. Sepatu bayi yang baru sekali di pakai.
Daddy janji... Daddy akan bawa kamu dan mommy pulang. Daddy akan datangi kalian suatu saat nanti. Dan kita akan berkumpul lagi. Daddy... Janji...sayang. Batin Keenan yang mulai mengendarai mobilnya dan melirik sekilas kearah Anis yang masih setia di depan pintu kaca.
***
Anis kembali keruangannya bersamaan dengan mobil Keenan yang telah menjauh. Dia bingung saat mobil pria itu tidak bergerak dari depan restonya. Makanya Anis tidak juga beranjak sambil memperhatikan mobil pria itu.
Siapa tau dia lagi ngawasin resto gue. Karena dia pengen rampok resto gue? Hiyyy... Mending gue lihat dulu deh. Batin Anis.
"Bi, Bisa keruangan saya sebentar?" Panggil Anis saat ia melihat Feby tengah istirahat. Gadis itu mengangguk dan mengikuti Anis dari belakang.
Gadis yang bernama Feby itu duduk dikursi sebrang kursi Anis.
"Kenapa ya, mbak? Gaji saya udah keluar? Tapi bukannya in masih pertengahan bulan?" Cerocos Feby begitu saja. "Atau jangan-jangan... Mbak mau pecat saya? Waduhhh... Jangan dong, Mbak. Tar anak saya mau saya kasih makan apa?" Lanjutnya dengan panik.
Anis tersenyum geli. Gadis berumur 18 tahun dihadapannya ini memang lucu. Karena bakatnya itulah banyak pelanggan yang datang ke restonya merasa terhibur dengan sikap lucu Feby saat gadis itu tengah melayani pembeli.
"Apaan sih, Bi? Gak usah lebay deh. Saya lagi gak ngasih jatah gaji karena gajimu dan yang lain kan udah dikasih. Saya juga gak berniat mecat kamu dan lagi... Pleaseee.... Kamu belum punya anak. Kecuali kamu mau saya aminin ucapan kamu tentang punya anak, toh kamu udah nikah... Saya aminin aja, ya." Canda Anis.
Feby menatap horror. Dia memegang dadanya seolah terkena serangan jantung.
"Pleasee... Deh, Mbak. Lebih baik Mbak pecat saya dibanding Mbak doain saya hamil anak suami saya. Ih Jijay nauzubillah... Ya allah. Nikahnya aja kepaksa, dih." Feby meringis jijik.
Anis terkekeh geli.
"Gak boleh, gitu. Kamu memang gak mau hamil anak dia sekarang, tapi nanti? Yang ada kamu ngemis-ngemis minta dihamili lagi."
"Gak, dih. Ah bodo lah. Mbak ada apa manggil saya?"
"Ah iya jadi lupa. Mbak cuma pengen nanya. Itu yang pelanggan tadi, yang namanya Keenan itu, kamu kenal sama dia? Kok tau namanya?" Tanya Anis penasaran.
"Kenal lah, Mbak. Pak Keenan itu pelanggan tetap di resto kita. Dia tiap hari datang kesini, kok. Ya... Meski gak pernah makan disini, selalu di bungkus pesenannya." Cerocos Feby.
"Pelanggan tetap? Kok Mbak gak pernah tau?" Tanya Anis heran.
Feby memutar bola matanya malas. "Ya iyalah gak tau. Mbak kan kerjaannya di dalam ruangaannn mulu. Macam anak gadis ngambek. Atau gak, Mbak bakal berkeliaran keluar pas resto lagi rame-ramenya."
Anis manggut-manggut.
"Dia kerja dimana?" Tanya Anis lagi.
"Pak Keenan kerjanya di Antara's Hotel , ituloh hotel itu." Tunjuk Feby keluar jendela ruangan Anis. Tampak sebuah hotel bercat putih di luar ruangan Anis. Hotel megah yang berdiri kokoh tak jauh dari resto-nya.
"Tinggalnya di?" Tanya Anis lagi masih menatap bangunan hotel yang rasanya pernah ia lihat.
"Tinggalnya di daerah Tiban, Mbak. Komplek Mekar Sari blok B. No 98. Komplek paling elite itu, loh."
"Dia sudah menikah belum?" Tanya Anis tanpa ia sadari. Tapi matanya masih menatap gedung itu.
"Hmmm... Pertanyaan sulit. 2 tahun lalu dia pernah menikah. Ntah apa yang terjadi istrinya pergi dari rumah dan hilang tanpa jejak. Pak Keenan sudah menyewa beberapa orang untuk mencari istrinya tapi istrinya sangat lihai dalam bersembunyi, sooo... Status Pak Keenan gak jelas sampai sekarang. Dia belum resmi bercerai dengan istrinya tapi banyak yang bilang beliau Duren, alias Duda Keren." Ujar Feby.
Anis menatap Feby dengan kening makin berkerut. "Dia punya anak?" Tanya Anis.
Feby tampak berpikir sejenak, is mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagunya sendiri. Hal yang paling menjijikkam bagi Anis disaat Feby bertingkah seperti itu.
"Mungkin aja. Pak Keenan sering mendapat kiriman barang-barang bayi dari orang misterius. Mungkin orang itu istrinya Pak Keenan atau orang suruhan istri Pak Keenan. Kemungkinan anaknya perempuan." Balas Feby.
"Kamu tau darimana?" ujar Anis.
Feby tergelak. "Wahhh... Mbak lupa? Kalau saya ini ensiklopedia berjalan?" Balas gadis itu.
Anis tersenyum kecut saat teringat bahwa gadis ini adalah seorang stalker. Gadis ini saat tertarik pada seorang pria dia akan mengorek apapun tentang kehidupan orang yang ditaksirnya. Heran, padahal dia sudah punya suami yang selalu setia menunggu cintanya.
"Yaudah balik kerja sana. Husss..." usir Anis sambil mengibas tangannya.
"Dikata kucing kali ya..." Gerutu Feby sambil keluar dari ruangan Anis.
Hmmm... Mungkin Pak Keenan tadi bukan berniat untuk mencuri. Tapi tengah berdiam sejenak memikirkan istrinya. Ahhh... Tapi kenapa gue jadi penasaran tentang hidupnya yang sebenarnya ya? Batin Anis.
***
From: Anis
Siap, 86!
.
.
Fikri tersenyum senang membaca pesan dari kekasihnya. Ahhh... Kekasihnya... Rasanya ia tidak percaya bahwa dengan mudahnya ia memacari Anis.
Fikri bangkit dari kursi kebesarannya. Perutnya sudah berontak untuk diisi makanan. Matanya menatap sosok Mihrima yang tengah melamun di depan komputernya. Tangannya melambai-lambai di depan wajah Mihrima.
"Bun? Oi..." Panggilnya sambil mengguncang bahu Mihrima.
Mihrima tersadar dari lamunan dan menatap Fikri kaget. "Eh... Mas... Maaf, Mas. Gak denger, hehehe..." Sahutnya. Wanita itu manggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ngelamunin apa? Ngelamunin Mas ya?" Fikri menaik-turunkan alisnya dengan senyuman jail khasnya.
Mihrima memutar bola matanya dengan malas. Meringis jijik menatap pria tampan sekaligus aneh dihadapannya. Pria itu selalu bersikap aneh jika dihadapannya. Fikri menjadi orang yang sangat jail bila di dekat orang yang ia sayangi.
"Hadehh, Mas... Jangan ke ge er-an, deh. Aku cuma mikirin anak kita. Kira-kira mereka lagi apa ya dirumah?" Jawab Mihrima.
Fikri mengerutkan keningnya dalam menatap wanita cantik yang tengah duduk cantik di kursinya. Kalo emang mikirin anak-anak. Kenapa harus kayak orang banyak beban gitu sih mukanya? Batin Fikri.
"Yaudah. Kita makan siang dirumah, yuk. Mas kangen sama anak-anak. Udah lama gak pulang kerumah, hehehe..." Tangan Fikri terulur. Mihrima menyambut tangan Fikri dengan senyuman manisnya. Sebelah tangannya yang tidak dalam genggaman Fikri terulur untuk mengambil Hp-nya di meja.
Fikri dan Mihrima turun dari mobil dan berjalan beriringan kedalam rumah mereka.
"Assalammualaikum." Ujar keduanya saat memasuki rumah.
"DADDYYYY!!!!"
Fikri berlutut menyambut pelukan putrinya. Ia mengusap pelan pucuk kepala putrinya dan membawa putrinya dalam gendongannya.
"Sil, tolong bilang ke bibi siapin makan siang, ya. Sekalian bikinin juga untuk Rhea dan Kemi." Ujar Fikri lembut sambil membawa putrinya ke kamar Kemi.
"Baik, Tuan." Sahut Silva.
"Daddyyy... Lea senenggg, deh, Daddy pulang. Daddy gak pewgi lagi tan?" Tanya gadis kecil itu sambil memainkan kerah baju ayahnya.
Fikri mencium gemas pipi gembil milik putrinya. "Daddy juga senang. Tapi ntar malam Daddy mau pergi lagi. Boleh, ya?" Ujar Fikri. Ia menurunkan putrinya di tepi ranjang saat ia sudah sampai di kamar Kemi.
Kamar yang berukuran sedang. Dilengkapi box bayi milik Kemi.dan ranjang berukuran queen size di tengah ruangan. Ada beberapa lemari kecil juga beserta mainan bayi itu. Kamar bernuansa abu-abu ini terlihat adem dengan lantainya yang dilapisi karpet berbulu.
"Kenapa? Daddy kok tiap malam gak tiduw disini lagi sama Lea, Bunda dan adek? Daddy udah gak tayang sama kami lagi?" Tanya Rhea. Gadis kecil itu menatap sedih kepada sayang ayah.
Fikri mengalihkan pandangannya menatap Mihrima yang tengah mengganti popok Kemi di tengah-tengah kasur. Mihrima membalas tatapan dengan menggidikkan bahu.
Fikri menarik nafasnya perlahan. "Daddy sayang, kok, sama Rhea, Bunda dan adek. Sayang banget malah. Suwer deh. Daddy lagi banyak kerjaan aja. Rhea ngertikan, nak?" Ujar Fikri sambil mengancungkan dua jarinya membentuk peace.
Rhea mengangguk, tapi tatapannya masih saja lesu.
"Tapi... Daddy bakal disini dari sekarang sampai nanti sore. Jadi Rhea gak usah sedih, ya." Lanjut Fikri sambil menangkup pipi gembil putrinya. Rhea tersenyum dengan binaran matanya yang kembali. "Daddy mau ganti baju dulu. Sebentar ya."
Fikri kembali ke kamar Kemi setelah mengganti pakaian kerjanya dengan kaos oblong warna abu-abu dan celana pendek coklatnya. Ia menjaga Kemi dan Rhea sementara Mihrima turun kebawah untuk membantu di dapur. Rhea berbaring di sebelah kirinya. Sementara Kemi tengah bermain sendiri di sebelah kanannya.
"Daddy... Tadi pas Lea jalan-jalan di taman sama mbak. Ada om ganteng. Baikkk... Banget. Om gantengnya ngajakin Lea main. Om gantengnya beliin Lea es kwim. Om gantengnya juga gendong-gendong Adek." Ujar Rhea sambil memeluk leher ayahnya yang juga sedang berbaring di tengah-tengah mereka.
Fikri mengernyitkan dahinya.
Pukulan kecil terasa di perutnya. Putranya itu rupanya tengah memukul-mukul perutnya dengan cekikan lucunya. Matanya berbinar saat Rhea menceritakan 'Om Ganteng' itu. Fikri memegang pinggang putrinya yang masih memukul-mukul kecil perutnya.
"Oh ya? Siapa nama om gantengnya?" Tanya Fikri diiringi senyuman dan masih menatap putranya yang kini tengah mengemut jempolnya.
"Siapa, ya? Siapa, dek? Nama oomnya?" Tanya Rhea pada adiknya.
Bayi mungil itu kembali menepuk-nepuk perut ayahnya dengan cekikan kecilnya. Matanya kembali berbinar.
"Iiiii....aaaaa.....iiiiii....aaaaa...." sahut Kemi dengan suaranya yang menggemaskan.
Fikri mengusap pucuk kepala putranya yang menjelang 7 bulan.
"Ohiya... Namanya Om Keenan."
***
Rhea dan Kemi tertidur seusai makan siang. Mihrima yang tengah membantu Silva dan Bibi Sum -pembantu rumah mereka- sedikit terkejut saat Fikri menghampiri tiba-tiba.
"Ada apa, Mas?" Tanya Mihrima was-was saat melihat ada hawa panas yang keluar dari aura Fikri.
"Silva, dengarkan saya. Saya gaji kamu buat jaga anak-anak saya. Bukannya membiarkan dia main dengan orang asing. Jangan pernah memberikan anak-anak saya izin untuk main dengan pria asing apalagi pria yang kalian temui di taman tadi pagi. Atau saya akan pecat kamu. Ngerti?" Ujar Fikri begitu saja.
Silva menunduk takut. Ini pertama kalinya ia dimarahi oleh Fikri. Dan dia ketakutan karena aura mencekam yang dikeluarkan pria itu
"Maaf, Tuan. Baik saya tidak akan izinin anak-anak main dengan orang asing. Apalagi pria itu." Ujar Silva ketakutan.
"Emangnya kenapa, sih, Mas?" kata Mihrima yang merasa kasihan kepada Silva.
"Gak papa. Kita balik ke kantor sekarang!" Perintah Fikri sambil meninggalkan dapur.
Mihrima mendengus sebal. "Emangnya Pria itu siapa namanya? Kok Fikri sampe segitunya?" Tanya Mihrima pada Silva.
"Namanya-"
"SEKARANG, MIHRIMA!!!" Teriak Fikri di dasar tunggu.
Mihrima kembali mendengus sebal. "Bising banget, sih. Ntar anak-anak bangun, tau!" omel Mihrima sambil mengikuti langkah Fikri di belakang untuk mengganti pakaian mereka terlebih dahulu.
=====