"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Yudhistira binti Ismail Yudhistira dengan seperangkat alat salat di bayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAHH!"
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Mihrima Embun Pagi binti Sakti Bara dengan seperangkat alat salat dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAHHH!"
***
Anis tersentak bangun dan langsung terduduk. Keringat bercucuran di pelipisnya. Kepalanya berdenyut sakit. Mimpi yang aneh itu sungguh mengusik kerja otaknya.
Ya Tuhannn... Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Kenapa disana aku sedang melangsungkan ijab qabul? Siapa pria itu? Batin Anis.
Anis mencoba menggapai gelas.di nakas. Pandangannya yang terasa buram, membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang akan dia ambil.
Anis langsung menghempaskan badannya untuk berbaring kembali. Kepalanya semakin berdenyut sakit. Air mata pun keluar dari ujung matanya.
"Ibu...... Sakittt...... Ibu......" Rintihnya.
Fikri yang kebetulan mau membangunkan Anis langsung terkejut saat mendengar rintihan Anis di balik pintu. Dengan cepat ia membuka kamar Anis dan langsung menghampiri wanita itu.
"Aniss... Kamu kenapa?" Tanya Fikri panik.
"Sa...kit. Ke...pala sa...kit." Ujar Anis terbata-bata.
"Kita kerumah sakit." Ujar Fikri dan berniat menggedong Anis.
"Gak... us...sah... Ambilin obatku... Di tas."
Dengan sigap Fikri merogoh tas Anis dan menemukan sekantung plastik kecil warna biru yang berisi obat pereda sakit di kepalanya, kalau kalau ingatannya kembali dan membuat kepalanya sakit.
Fikri menyodorkan obatnya dan segelas air yang diambil di dapur, tentu saja dengan langkahnya yang tergopoh-gopoh. Setelah meminumnya, Anis kembali membaringkan badannya. Fikri mengusap pucuk kepala Anis dengan lembut.
"Hari ini gak usah ke cafe, ya? Istirahat saja dirumah." Ujar Fikri terus mengusap pucuk kepala Anis.
Anis mengangguk perlahan. Fikri mau beranjak dari ranjang Anis tapi wanita itu menahan pergelangan tangannya.
"Temenin aku tidur dulu sebentar, ya? Baru pergi ke kantor." Ujar Anis pelan.
Fikri tersenyum dan kemudian mengangguk. Ia naik keranjang dan berbaring di sebelah Anis. Anis memeluk Fikri dan berbaring di d**a pria itu. Fikri menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Anis dan dirinya. Fikri mengusap kepala Anis dengan pelan sampai wanitanya itu tertidur dengan lelap. Perlahan, Fikri bangkit, kembali kekamarnya setelah mengecup kening Anis.
Ia menatap ponselnya di atas meja kerjanya. Ada 5 misscall dari Mihrima. Dengan kebingungan, jemari panjangnya mengutak-atik ponselnya. Kembali menghubungi Mihrima.
"Assalammualaikum, Mas..." sapa Mihrima, cemas.
"Walaikumsalam. Ada apa, Bun?" tanyanya.
"Mas, Rhea ngambek. Nggak tau karena apa. Dari tadi malam, sih. Dia gak keluar kamar. Dia belum makan dari tadi malam." Ujar Mihrima.
Fikri tersentak. Tumben-tumbennya putri kesayangannnya itu ngambek. Hanya 2 hal yang bisa bikin putrinya ngambek. Janji yang yang tidak ditepati dan keinginan belanjanya tidak dituruti --jangan ditanya, meski ia masih kecil, ia sangat antusias untuk menghabiskan uang Daddy-nya--.
Seketika Fikri tahu apa yang tengah diambekin oleh putrinya. Kemarin ia berjanji untuk menetap di rumah sampai waktu makan malam. Tapi, karena emosi yang terlanjur tersulut begitu mendengar nama 'Keenan', ia langsung lupa dengan janjinya pada putrinya itu.
"Oke... Mas kesana." Jawab Fikri akhirnya.
Fikri menghembus perlahan nafasnya. Kupingnya panas setiap mendengar nama Keenan. Tapi ia yakin, kalau Keenan yang di maksud putrinya itu adalah Keenan yang sama. Musuh bebuyutannya. Fikri yakin kalau Keenan mendekati anak-anaknya karena ada maksud tertentu.
Kali ini, Fikri tidak akan memberi Keenan kesempatan lagi. Dia akan menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Keenan memberikan 'cintanya' kepada Fikri. Dan Fikri tidak akan mengembalikan 'cinta' itu kepada Keenan lagi. Apa lagi mengambil anaknya itu.
Fikri memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya dan Mihrima. Ia melangkah dengan cepat menuju lantai 2, dimana kamar putrinya berada. Mihrima tampak berdiri di depan kamar Rhea dengan Kemi dalam gendongannya.
"Rhea.... Sayang... Ayo keluar, Nak. Makan dulu. Nanti sakit." Ujar Mihrima sambil mengetuk pintu dengan tangannya yang bebas.
Kemi menatap heran sang Bunda yang sedari tadi asik mengetuk pintu kamar sang kakak. Tangan mungil itu terangkat, meraba-raba pintu kayu dan melakukan hal yang sama persis bundanya lakukan, ia memukul pintu itu dengan lucu.
"Aaaa...aaaa..." celotehnya, seolah-olah memanggil sang kakak untuk keluar.
"Bun... Biar Mas saja. Kamu mandiin Kemi aja dulu." Ujar.Fikri yang sudah berdiri di samping Mihrima.
Mihrima mengangguk dan membawa putranya ke kamarnya untuk dimandikan.
Fikri mengambil kunci cadangan di laci meja tepat di depan pintu kamar Rhea. Dengan pelan ia membuka kamar Rhea secara perlahan.
Ia mendekati Rhea yang tengah berbaring telungkup, bahunya bergetar. "Sayang..." Panggil Fikri sambil membelai rambut putrinya.
"Hikss... Hikss... Daddy jahat... Huhuhu... Bunda..." Isaknya, masih dalam posisi yang sama.
Fikri menghela nafasnya pelan. Dia sadar, sudah banyak janji yang ia ingkari pada putrinya. Mau bagaimana lagi? Ini demi masa depan putrinya. Dia juga tidak mau Keenan terlalu masuk ke dalam kehidupan putrinya lagi. Semuanya sudah cukup.
"Maafin Daddy ya, Sayang."
Hanya itu yang keluar dari mulut Fikri. Ia tidak bisa membuat janji lagi. Putrinya terlalu pintar untuk di bodohi. Rhea bangkit. Matanya yang sembab menatap Fikri dengan tatapan memelas.
"Lea mau Mommy. Lea mau tinggal sama Mommy. Lea gak mau tinggal sama Daddy lagi. Panggilin Mommy kesini, Daddy..." Ujarnya dengan nada terisak.
Dan mendengar itu Fikri tersentak. Tau dari mana anak ini tentang Mommy-nya.
***
Kringg...
Anis terbangun. Kepalanya sudah tak sakit lagi. Ada pesan masuk dari salah seorang sahabatnya.
From: Pebri
Lo gak lupa kalau hari ini kita janjian buat ketemuan'kan?
Ahhh... Anis lupa. Ia ada janji dengan sahabatnya kemarin. Untuk ketemuan di Cafe-nya.
To: Pebri
Sorry, gue lupa. Bentar, gue prepare dulu.
Anis segera bangkit dan beres-beres. Ia memanggil supir untuk mengantarnya ke cafe-nya.
"Tapi, Non. Den Fikrinya bilang, Non gak boleh keluar karena sakit." Ujar sang supir.
"Saya udah sehat kok, Pak. Nanti biar saya ngomong sama Fikri-nya biar bapak gak kena marah." Jawab Anis.
Setelah supir mengangguk. Anis langsung masuk kedalam mobil. Perjalanan awalnya mulus-mulus saja saat menuju gerbang komplek. Sampai suara decitan ban terdengar. Mobil berhenti.
"Kenapa, Pak?" Tanya Anis membuka kaca jendelanya.
"Bannya bocor, Non." Ujar supir yang tengah berdiri di belakang mobil.
Anis keluar dari mobilnya. "Yaudah, saya naik taksi aja, Pak."
"Eh, jangan, Non. Saya ganti bentar bannya. Saya bawa peralatannya, kok."
"Gak apa-apa, Pak. Teman saya udah nunggu. Enggak enak sama dia."
"Okelah, Non." Balas supir itu ragu-ragu.
Anis berjalan sedikit untuk keluar dari kompleknya. Cukup lama juga ia berdiri di tempat menunggu taksi sampai sebuah Audi hitam berhenti tepat di depannya berdiri.
"Keenan?" Ujar Anis saat melihat sosok yang baru saja turun dari mobil itu.
"Kamu mau kemana? Resto, ya? Bareng aku aja. Aku juga mau kesana." Ujar Keenan.
Iyain aja, deh. Daripada Pebri ngomel-ngomel ntar. Batinnya.
"Oke." Jawab Anis. Keenan tersenyum senang dan kemudian membukakan Anis pintu mobilnya.
Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Hanya keheningan yang mengiring perjalanan mereka. Keenan ingin membuka suara. Menanyakan beberapa hal pada wanita disampingnya. Tapi ia ingat perkataan detektif yang sengaja ia sewa. Anis tidak boleh di sodori pertanyaan tentang masa lalunya. Setidaknya, sampai ingatannya benar-benar membaik.
"Makasih, ya." Ujar Anis begitu mereka masuk kedalam Restorannya. Mereka berpisah. Keenan mengambil pesanannya di kasir. Sementara Anis menghampiri sahabatnya yang duduk sendiri di pojok Resto. Anis tersenyum geli melihat mulut sahabatnya yang tengah komat-kamit.
"Hoyyy..." Ujar Anis.
Pebri melirik Anis sebentar, lalu memutar bola matanya. "Ngaret, lo!" Ketusnya.
Anis terkekeh. "Sorry, mobil gue bannya bocor tadi. Hehe... Untung aja ada tebengan makanya langsung bisa kesini."
Anis duduk dihadapan Pebri. "Lo nebeng sama siapa?" Tanya Pebri.
"Tuh orangnya." Anis menunjuk Keenan yang keluar dari Resto nya.
Pebri menatap Keenan dengan lekat. "Itu Keenan'kan?" Tanyanya.
Ani mengangguk. "Iya. Lo kenal?" Tanya Anis.
Kembali Pebri menatap Anis dengan lekat.
"Kenal. Dia Keenan mantan lo'kan? Lo balikan sama dia?"
"Apa?"
.