"Kenal. Dia Keenan mantan lo'kan? Lo balikan sama dia?"
"Apa?"
Anis tersentak. Sementara Pebri menatapnya heran.
"Lo kenapa? Lo lupa, apa pura-pura lupa?" Tanya Pebri dengan senyum sinisnya.
Anis tersadar, kalau dia gak pernah ngasih tau teman-temannya kalau dia pernah kecelakaan dan membuat sebagian memorinya hilang.
"Ehmm... Peb. Lo masih ingat kan pas gue kerumah lo 2 tahun yang lalu?" Tanya Anis. Pebri mengenyit bingung.
"Gak, yang mana? Kapan lo kerumah gue?" Tanya Pebri.
Anis memutar bola matanya. "Pas rumah lo open house. Inget kagak?"
Pebri mengernyit kembali. Matanya berbinar begitu ia ingat. "Ah, iyaa! Emang kenapa?" Raut Pebri langsung berubah serius.
"Pulang dari rumah lo, gue kecelakaan." Jawab Anis tenang.
Byurrr...
"Eh, Anjir! Pebri, jorok lo! Basah baju gue!!" Teriak Anis kesal. Pebri mengambil tisu dan menyodorkannya ke Anis.
"Sorry...sorry... Gue terkejut. Kok bisa? Terus... Terus...? Lo gak mati kan?" Ujar Pebri panik.
"Menurut lo? Gue hantu gitu?!" Sungut Anis kesal. Tak habis dengan cara kerja otak sahabatnya.
"Hehehe... Sorry... Gue terkejut. Syukur, deh, kalo lo masih hidup." Ujar Pebri dengan senyum konyolnya.
"Ada-ada aja. Back to the story..." kata Anis, "Terus... Bangun-bangun nyokap gue bilang kalau gue amnesia. Awalnya, sih, gue gak percaya. Toh, gue ingat siapa gue, siapa nyokap gue, siapa temen gue. Eh, barusan lo bilang kalau itu cowok mantan gue dan gue gak ingat. Yang artinya gue amnesia gegara kecelakaan itu. Emang sih... Nyokap bilang gue amnesia sebagian."
Pebri menatap panjang ke arah Anis.
"Amnesia? Jenis amnesia Lakunar gitu?" Tanya Pebri memastikan.
Anis mengangkat bahunya. Pasalnya, sang ibu tak memberitahu jenis amnesia apa. Bahkan, ia baru tau kalau amnesia di kelompokkan lagi.
"Ntah, mana gue tau. Lo kan dokter, barangkali lo tau?" Ujar Anis.
"Hhh... Jadi, amnesia lakunar itu penderitanya mengalami hilangnya daya ingat cuma pada peristiwa-peristiwa tertentu aja. Kayak lo, nih. Lo lupa itu cowok Keenan, mantan pacar lo." Papar Pebri. Meskipun baru dokter umum. Tapi, mereka juga mempelajari segala hal itu bukan? Meski hanya dasarnya saja. Tidak seperti spesialis.
"Hmmm... Ya, kali." Jawab Anis tak acuh. Pantas saja sosok Keenan sedikit kaku bila di dekatnya.
"Ehh... By the way, nih ya. Lo kenal sama Fikri?" Tanya Pebri was-was.
"Ohhh... Gue kenal." Jawab Anis singkat.
"Syukurlah..." Balas Pebri lega.
"Ya. Kami baru aja kenal. Nyokap nyuruh gue tinggal di rumah dia disini. Dan beberapa hari yang lalu kami baru aja pacaran. Lo kenal sama dia, ya?" Tanya Anis sambil menyecap cappucino pesenannya.
Mata Pebri membelalak. Untungnya, Anis tidak melihat raut kejut Pebri. "Lo... Pacaran sama Fikri?"
Anis mengangguk. "Iyap. Lo kenal sama dia?" Tanya Anis sekali lagi.
Pebri terdiam sesaat. Kejadian ini memang biasa terjadi. Penderita amnesia lakunar ini, menurut Pebri, pasti tidak pernah mengingat memori yang sangat penting dan berharga dalam hidupnya. Contohnya, ya Anis sekarang ini. Entah kenapa, disaat seperti ini ia ingin tertawa. Kalau saja ia tidak ingat ada orang yang ingin ia tertawakan duduk dihadapannya. Bagaimana mungkin seorang istri memacari suaminya sendiri? Untuk apa menjalani proses pedekate kembali kalau keduanya sudah berjanji sehidup semati? Konyol, menurut Pebri. Tapi mau bagaimana lagi? Anis tengah mengalami amnesia.
"Ya... Dia itu Kakak kelas kita pas SMA. Ingat gak?" Ujar Pebri. Harap-harap Anis mengingat sedikit saja tentang sang suami.
"Hmmm.. Yang mana, ya?"
"Itu loh. Senior paskib kita. Yang galaknya minta ampun. Berasa mau nombak dia pake bambu runcing tuh, dulu gue." Ujar Pebri mengingat masa SMA-nya. Saat mereka berdua pertama kali masuk ekskull Paskibraka sekolah.
"Yang mana sih? Gue lupa." Ujar Anis yang tengah mengurut pelipisnya.
Pebri yang melihat Anis mengurut pelipisnya itu langsung sedikit takut. "Eh... Gak usah di paksa ingat. Entar kepala lo sakit, gue yang di smackdown sama Fikri."
"Ah iya, gue ingat! Iya gue juga dulu kesel banget ama dia. Apa lagi pas dia nyuruh kita bawa telur bulat sama bawang putih buat dimakan. Padahal tuh ya, gue dah bilang sama dia, kalau gak bisa makan telur bulat, alergi. Eh dia malah bilang gini 'kan..." Anis dan Pebri mengambil ancang-ancang.
"Emang makan itu bisa bikin kalian mati? Enggak kan? Makan aja cepat jangan ngebacot!" Ujar Anis dan Pebri serempak. Kemudian mereka tertawa ngakak.
"Gue sih itu gak ambil pusing, gue lebih sebel sama dia pas dia ngetangkap basah kita berdua sama teman kelas kita yang lain, waktu kita lagi sembunyi di belakang kelas pekara kita malas panas-panas baris buat upacara di lapangan. Syukur-syukur ngelaporin kita aja. Ini enggak! Malah permaluin kita di lapangan pas lagi rame ama murid yang lain. Asli dah tu orang. Pen gue tabok waktu itu... Cuma gak berani. Wkwkwk..." Ujar Pebri antusias. Masa SMA adalah topik pembicaraan yang sangat ia suka semenjak lulus dari sana.
"Tapi kok gue bisa nerima dia jadi pacar gue, ya? Gue malah gak ingat kalau dia itu senior kita semasa Paskib dulu. Gak nyangka gue." Ujar Anis.
"Ihhh... Gue malah gak nyangka lo mau nikah ama dia. Tau-tau undangan pernikahan atas nama lo dan dia udah nyampe aja dirumah gue. Kaget gue pas itu." Ceplos Pebri.
Anis mengernyit bingung. Undangan pernikah? Gue sama Fikri?
"Maksud lo apa?" Tanya Anis pelan. Seketika sakit dikepalanya kembali terasa. Lebih sakit dari tadi pagi.
Pebri menatap Anis. Menyadari kesalahannya karena baru saja membuka ingatan Anis secara gamblang. Yang bisa saja, menyakiti Anis karena tidak adanya persiapan untuk menerima ingatan yang hilang.
"Eh... Gue gak maksud apa-apa. Cuma....bercanda kok tadi." Balas Pebri gugup.
Brukkk
"Eh... Anis... Nis... Wehhh.... Tolong..."
Pebri langsung panik begitu tubuh Anis melorot dari kursinya. Bulir-bulir keringat pun menghiasi pelipis Anis.
***
"Lea mau Mommy. Lea mau tinggal sama Mommy. Lea gak mau tinggal sama Daddy lagi. Panggilin Mommy kesini Daddy..." Ujarnya dengan nada terisak.
Dan mendengar itu Fikri tersentak. Tau dari mana anak ini tentang Mommy-nya.
"Sayangg... Rhea tau dari mana punya Mommy?" Tanya Fikri.sambil mengusap kepala putrinya dengan sayang.
"Oom yang di taman yang bilang. Mommy kenapa gak
tinggal sama kita Daddy? Mommy kemana? Kalau Mommy disini, Lea kan punya teman yang bisa ngajakin jalan-jalan. Sama temanin libuwan. Daddy sama Bunda selalu ingaw janji kalau pewgi." Isaknya.
Oom yang ditaman? Ah... Pasti ini ulah Keenan. Mau apa lagi dia? Geram Fikri dalam hati.
"Nanti Daddy bawa Mommy kesini, ya." Ujar Fikri.
"Kapan? Daddy pasti ingaw janji lagi... Hiks... Hikss..." Rhea kembali berbaring menelengkup di kasurnya. Kembali menumpahkan tangis pada bantal yang sudah lembab itu.
"Enggak, Sayang. Janji Daddy kali ini beneran. Daddy bakal bawa Mommy. Daddy gak tau kapan. Tapi Daddy bakal bawa Mommy pulang, ya..." Bujuk Fikri sambil mengangkat tubuh putrinya kedalam gendongannya, "... Sekarang makan, ya. Abis itu siapin baju. Daddy mau ngajak kamu, Bunda sama Dedek Kemi berenang ke Duta Mas. Oke?" Ucap Fikri.
"Beneran, Daddy? Asikk..." Pekik Rhea girang dalam gendongan Fikri.
Rhea duduk manis di meja makan setelah menyikat gigi dan cuci muka. 'kan mau pewgi bewenang. Ngapain mandi. Mandi disana aja...' ucap gadis cilik itu saat sang Bunda menyuruhnya mandi.
"Daddy... Minjem hp Daddy!" Ujar Rhea di sela-sela makannya.
"Untuk apa, sayang?" Tanya Fikri sembari memberikan ponselnya.
Tangan mungil Rhea mencabut baterai Hp Fikri dan menyimpan baterai beserta hpnya itu kedalam tas disampingnya.
"Untuk jaga-jaga kalau temen Daddy nelpon dan nyuwuh Daddy kewja. Hawi ini adalah hawi pamily time. Jadi, Daddy hawus mikiwin keluwawga bukan kewjaan. Oke?" Ujar Rhea dengan ucapannya yang terdengar bossy.
"Oke, sayang. Ayo habiskan makanan kamu." Ujar Fikri.
Untuk sekarang tidak apalah mengeyampingkan pekerjaannya. Biar saja tugasnya menumpuk. Toh, cuma sehari saja. Kebahagiaan putri semata wayangnya lebih penting dari yang lain. Dan juga, dia ingin putrinya melupakan sebentar tentang Mommynya. Karena Fikri belum sepenuhnya menggapai hati Mommy-nya Rhea, Anis.
Saking asiknya bermain air dan hp Fikri yang dalam kondisi mati. Membuat seseorang disisi lain bingung bukan main.
Sedari tadi, Pebri sibuk menghubungi Fikri. Tapi apalah daya saat suara operator wanita memberi tahu bahwa hp Fikri tidak aktif. Ia juga menelpon Mihrima, sama seperti Fikri, hpnya juga mati. Ntah apa yang mau dilakukannya saat ini. Anis tak kunjung bangun, dokter pun enggan menjelaskan kondisi Anis yang sekarang pada Pebri. Dikarenakan, Pebri bukanlah anggota keluarga.
***
Jam menunjukkan pukul 06.15. Anis melajukan motor matic nya dengan pelan meski jalan raya masih lengang. Lima belas menit ia telah sampai di lingkungan sekolahnya yang bernama Tiban Kampung. Meski masih jam setengah 7, seperti dugaan Anis, jalan menuju sekolahnya macet. Hari pertama sekolah dan kerja membuat jalan yang hanya dua arah itu macet parah. Belum lagi mobil penduduk yang terparkir di tepi jalan.
Anis mulai cemas, jalanan sama sekali tidak bergerak karena macet. Belum lagi jam tujuh kurang lima belas, siswa baru sudah harus berkumpul di lapangan sekolah, alamat bisa dihukum dia kalau datang telat. Anis terus menatap kedepan dan kebelakang, sekiranya dia menemukan salah satu siswa baru yang akan sama terlambatnya dengannya. Tapi nihil. Sepertinya mereka sudah dari jam 6 tadi disekolah? Mungkin, dalam hati Anis.
"Dek..."
Anis menoleh kebelakang saat sebuah suara laki-laki memanggilnya.
"Iya, Bang?" Jawab Anis. Laki-laki itu memakai baju osis juga. Sepertinya dia kakak kelasnya, pikir Anis.
"Jalanan macet. Kamu anak baru kan? Jangan sampai telat!"
"Iya, saya tau, Bang. Cuma dari tadi jalan gak gerak."
Laki-laki itu menunjuk kebelakangnya. Anis baru sadar kalau abang kelasnya itu membonceng seorang perempuan. Sebayanya, siswi baru juga.
"Temanku juga siswi baru. Kami mau lewat jalan motong. Kamu mau ikut sekalian, gak?" Tanya abang kelasnya itu.
Mata Anis berbinar. "Mau, Bang!"
"Ayo!"
Anis mengikuti abang kelasnya itu saat memasuki gang kecil. Dari spion, ia juga melihat beberapa kakak kelasnya di belakang. Tepat pukul 7 kurang 20, ia sampai di parkiran sekolah. Ia menghela napasnya lega karena masih ada 5 menit sebelum mereka berkumpul.
"Bareng, ya?"
Anis menoleh, menatap siswa baru yang dibonceng abang kelasnya tadi. Anis mengangguk senang.
“Aku Anis. Anisa Yudhistira. Nama kamu siapa?” Tanya anis pada gadis itu.
“Aku Embun. Mihrima Embun Pagi.”
.