7. Pria Berjas Hitam

842 Kata
Mark mendekati Erlita, ia melihat semuanya, yang terjadi pada karyawannya. Gadis itu kebingungan dengan kondisi ibunya, melihat rumah yang didiami Erlita, Mark semakin trenyuh dan merasa iba. Ibunya Erlita ternyata sakit-sakitan, dan ia merasa bersalah jika tidak membantunya. "Erlita, dengarkan aku," ujar Mark, menyentuh bahu Erlita dengan tangan yang kuat. "Ibumu butuh dokter sekarang. Tidak ada waktu untuk panik. Kita harus membawanya ke rumah sakit." Erlita mendongak, matanya penuh air mata. “Tuan Mark, Anda disini?” Mark mengangguk dan meminta Erlita membawa ibunya ke rumah sakit. “Ibumu butuh penanganan dari dokter. Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini,” "Tapi Tuan... di sini banjir. Tidak ada ambulans yang mau masuk ke gang ini. Kami tidak punya mobil." Mark menatap wajah Erlita, dan kemudian ke Ibunya yang tak sadarkan diri. "Aku punya mobil, aku ada disini, untuk membantumu," kata Mark, nadanya cukup tegas, seperti memerintah. "Angkat dia." Mark segera berbalik kepada dua pria tetangga yang berdiri di dekatnya. "Pak, saya minta bantuan untuk bantu angkat ibunya Erlita ini ke mobilku. Tolong cepat, ya!" Perintahnya tidak terbantahkan. Semua bersedia tapi hanya dua orang yang dibutuhkan Mark untuk membawa tubuh ibunya Erlita. Dalam hitungan detik, dengan bantuan dua tetangga yang terpukau oleh kehadiran orang asing berjas mahal itu, Ibunya Erlita diangkat perlahan. Mark mengabaikan jok mobil mewahnya yang kini basah dan kotor oleh air banjir. Ia membuka pintu belakang, membantu menidurkan Ibunya Erlita di sana. "Kamu duduk di depan, Erlita. Kamu harus memberiku arahan ke rumah sakit terdekat dan terbaik," perintah Mark, menatap Erlita. "Dan jangan khawatir soal biaya. Aku yang urus semuanya. Tugasmu hanya fokus pada Ibumu." Kata-kata Mark bukan sebuah perintah tugas untuk menyelesaikan pekerjaan,, melainkan sebuah kepedulian yang benar-benar peduli pada Erlita. Sedangkan yang dirasakan Erlita saat ini, antara kelelahan dan panik, hanya bisa menurut. Dalam situasi darurat seperti ini, Mark Adrian yang berkuasa, tampan, dan penuh gairah itu tiba-tiba berubah menjadi satu-satunya penyelamat yang bisa diandalkan. Erlita memasuki mobil, membiarkan Mark mengendalikan sepenuhnya situasi yang kacau balau itu. Perjalanan ke rumah sakit segera dimulai, meninggalkan rumah Erlita yang terendam dan tetangga yang tercengang di belakang. Mungkin di antara mereka bertanya-tanya, siapa pria yang pulang bersama Erlita. Tidak banyak yang tahu kalau Erlita sudah menjadi seorang asisten pribadi seorang Tuan Presdir. ** Pagi hari di kantor yang suasananya tampak ramai namun terasa hampa bagi seorang Mark Adrian. Meja di luar ruangannya, yang biasanya dihiasi tumpukan berkas rapi dan dihuni oleh sosok Erlita yang fokus, kini kosong. Bahkan keheningan pintu ganda ruangannya terasa lebih dingin tanpa kehadiran gadis itu. Mark tak berselera untuk bekerja padahal tidak biasanya ia seperti ini. Mark mencoba bekerja, tetapi ia menjadi sangat reaktif, rasa malas menyelimuti hatinya. Ia kesulitan menemukan berkas tender yang dibutuhkan karena sudah terbiasa Erlita yang menyiapkannya di urutan pertama. Kopi paginya datang dari pantry, yang dibuat oleh office girl baru yang canggung, dan rasanya tidak seenak buatan tangan Erlita. Mark menyadari betapa cepatnya ia menjadi tergantung pada Erlita, bukan hanya untuk pekerjaan, tetapi untuk keberadaannya. Ia menekan interkom, nadanya terdengar frustasi. "Panggil sekertaris utama, sekarang." Saat sekertaris utama masuk, Mark berbicara dengan nada berkuasa yang tajam dan penuh ketegasan namun dingin. "Erlita tidak masuk hari ini karena alasan darurat keluarga. Aku tidak bisa bekerja seperti ini. Kamu harus menugaskan seseorang sementara untuk menangani jadwal, telepon, dan terutama, filing berkas-berkasku. Harus segera." Mark tahu ini adalah sebuah kebohongan yang dibuat-buat. Alasan tidak bisa bekerja seperti ini hanyalah sebuah alasan yang tidak masuk akal. Ia merasa ada yang kurang saat Erlita tidak ada. Ia jadi kebingungan tanpa melihatnya, melihat wajah gadis itu. Ia sudah mengirim pesan singkat pada Erlita pagi tadi, yang hanya dijawab singkat bahwa Ibunya masih dalam observasi. Kepastian tentang kondisi Erlita adalah satu-satunya hal yang menahannya untuk tidak langsung menyusul ke rumah sakit. ** Sementara Mark sibuk dan kewalahan di kantor, Erlita sedang sibuk mendampingi Ibunya di kamar rawat inap kelas sederhana. Erlita yang minta agar ibunya dirawat di kelas tiga saja, ia mewanti-wanti Mark sang atasan agar tidak memasukkan ibunya ke kamar VIP karena ia tidak mau tinggal berdua saja di kamar. Ia penakut dan suka keramaian. Jadilah ibunya akhirnya dirawat di ruang kelas tiga. Tapi kemudian malah akhirnya dipindah lagi ke ruang kelas yang lebih nyaman agar Mark bisa datang dan menjenguk ibunya dengan penuh ketenangan. “Biar kamarnya disini saja, aku mau privacy, kalau kamu menolak, sebaiknya kamu pulang dan biarkan perawat yang menjaganya,” Mark berkata seolah ia dan ibunya ini adalah orang yang seharusnya dijaganya. Tapi akhirnya Erlita cuek saja, ia memilih untuk tidak berdebat dan menurut saja. Meskipun lelah dan khawatir, kini ia harus mengurus segala keperluan Ibunya dan menyambut kerabat serta tetangga yang berdatangan untuk menjenguk. Suasana ruangan itu hangat, penuh perhatian dari para tetangga yang terkejut melihat Mark Adrian—pria berjas mewah yang mereka lihat semalam—yang ternyata telah mengurus administrasi dan menempatkan Ibu Erlita di kamar yang relatif nyaman. "Erlita, kamu sungguh beruntung sekali," bisik Bu Idah, salah satu tetangganya yang menjenguk. "Pria semalam itu siapa, Nak? Dia yang mengurus administrasi kamar dan semuanya? Kelihatan kaya sekali." Erlita bingung mau menjawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN