“Mas Ardi?”
Ardi, dia merupakan kenalan Erlita yang bekerja di toko dekat rumahnya. Orangnya tampan, sederhana, dan selalu membuat Erlita merasa nyaman, meskipun hubungan mereka tidak pernah jelas.
Keduanya dekat dan mereka saling suka, tetapi Ardi terlalu malu atau ragu untuk melangkah lebih jauh.
Jadilah hubungan keduanya seperti sebuah hubungan yang biasa saja namun spesial tanpa kejelasan yang pasti.
“Er, aku dengar ibumu sakit. Jadi .. aku ijin sebentar supaya bisa kesini,”
Ardi membawa buah tangan sederhana, senyumnya tulus, tetapi matanya penuh pertanyaan.
Ia sudah mendengar desas-desus di gang tentang mobil mewah yang mengantar Erlita.
Setelah menyapa Ibunya, Ardi menarik Erlita menjauh sedikit dari ranjang. Pria itu sepertinya sedang merasa risau, entah karena apa tapi yang jelas Ardi tengah memikirkan tentang Erlita.
"Erlita," bisik Ardi, raut wajahnya tampak khawatir, tetapi ada sedikit cemburu yang terselip.
"Aku dengar dari tetangga, kamu diantar pria dengan mobil mahal semalam. Siapa dia? Kekasihmu?"
Pertanyaan itu membuat pipi Erlita terasa panas. Kekasih? Jelas tidak. Tetapi ia tahu, di mata Ardi dan tetangga, penampilan Mark sangat mencolok.
Pria itu memang mengantarnya, secara tidak sengaja tapi kenapa semua jadi kelihatan runyam.
Erlita menunduk, memainkan ujung selendang Ibunya. Ia merasa canggung menceritakan kejadian semalam, terutama pada Ardi.
"Bukan, Mas Ardi," ucap Erlita, suaranya pelan dan sedikit malu. "Orang itu adalah Tuan Mark, atasanku di kantor. Kebetulan motorku macet karena banjir, dan dia menawarkan untuk mengantar sampai ke rumah."
Erlita menekankan kata 'menawarkan' untuk menjelaskan bahwa itu murni bantuan, bukan urusan pribadi.
Ia juga tidak berani menyebutkan bagaimana atasannya itu memaksanya, atau bagaimana Mark yang juga membayar biaya rumah sakit.
Ardi menghela napas lega, tetapi kekhawatiran itu belum sepenuhnya hilang.
"Atasan? Tapi dia sangat peduli sampai repot-repot mengantar kamu dan ibumu ke sini. Orang kaya tidak biasa seramah itu, Er," komentar Ardi, mencoba mencari celah.
Erlita mendongak, menatap mata Ardi. Ia tahu Ardi menyukainya, dan ia membalas perasaan itu.
Tetapi Mark, pria itu kan memang sangat dingin dan berkuasa, tidak mungkin akan menyukainya. Meski kini telah menembus kehidupan sederhananya.
"Dia memang baik, Mas. Dan dia itu seorang Presdir. Aku hanya Aspri-nya sekarang," jawab Erlita, mencoba mengakhiri percakapan.
Ia tidak ingin Ardi tahu betapa posesif dan intensnya perhatian Mark di kantor. Atasannya itu selalu memperhatikan apa yang dia lakukan, apa yang dia alami dan rasakan.
Ardi mengangguk, namun tatapan matanya masih penuh kecurigaan. Ia hanya bisa pasrah. Ia tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan selain perasaannya yang tulus, sementara ada sang Presdir, yang telah menunjukkan kekuatan dan kekayaannya di saat Erlita sedang membutuhkan.
“Mas, duduk dulu ya, aku mau mengambilkan minum untuk Ibu. Sekarang keadaan ibu jauh lebih baik.”
“Aku mau langsung pulang saja, kebetulan toko sedang ramai. Er, nanti aku kirim pesan, kamu baca dan langsung balas, ya?”
Erlita mengangguk tersenyum, kali ini ia merasa senang, dalam hati ia berkata kenapa Ardi tidak dari dulu intens mendekatinya dan berkirim pesan.
Setelah tahu ada yang datang ke rumah meski seorang atasan, Ardi langsung bersikap ramah dan terus memperhatikannya.
**
Ibunya sudah mulai membaik meski harus istirahat penuh tidak boleh pulang selama beberapa hari ke depan.
Erlita membuat surat ijin tapi ternyata atasannya, sang Presdir menyuruhnya untuk fokus pada kesehatan ibunya saja.
Sejujurnya, Erlita takut kalau-kalau nanti ada masalah di belakang. Karena ia baru saja bekerja jadi asisten pribadi pria itu tapi sudah banyak mendapat perlakuan istimewa dari atasannya.
Sedangkan Mark, di kantornya ia selalu memikirkan Erlita dan tidak bisa fokus. Setiap saat ia selalu mengirim pesan pada gadis itu tapi kadang baru dibaca setelah beberapa jam kemudian. Mark berdiri di sisi jendela sambil memandang jalanan yang ramai dan lalu lalang kendaraan bermotor.
Ia merasakan hampir saja mulai gila kalau tidak bertemu dengan Erlita. Entah apa yang menjadi pesona gadis itu hingga ia tak bisa bekerja dengan baik sampai saat ini.
Pintu ruangannya diketuk, Mark menoleh, ternyata klien yang kemarin yang ingin bertemu. “Tuan Mark, Tuan Hans sudah tiba dan minta rapat diadakan sepuluh menit lagi,”
Sekretarisnya meletakkan sebuah berkas untuk dibacanya sebelum rapat diadakan. Mark segera menyambar berkas itu dan hanya membolak balikkan saja kertas didalamnya.
“Oh ya, Tuan, Nyonya Sandra minta uang dua puluh juta. Hari ini katanya harus ditransfer sekitar sorean,”
Mark menggaruk kepalanya, ia merasa pening jika istrinya sudah minta transferan, tapi apa yang bisa dia lakukan.
Sandra memiliki segalanya, dia juga yang memiliki saham terbanyak di perusahaan ini.
“Aku akan pergi setelah rapat nanti. Tolong kamu transfer saja, tapi jangan bilang kalau aku keluar kantor lebih awal,”
“Baik, Tuan,”
Mark merasa ia harus menjaga waktu agar Sandra tidak curiga padanya.