9. Kecemburuan Istrinya

859 Kata
Pagi itu, di kediaman Mark, istrinya yang bernama Sandra, mendapat sebuah pesan dari seseorang. Sandra, wanita berusia 27 tahun itu terlihat menghela napas panjang. Ia melirik jam di tangannya. Putranya yang sedang berlarian, tertawa saat ada capung yang hinggap di tanaman yang ada dalam pot besar di teras rumah ini. "Bi," Ia memanggil pengasuh anaknya. Seorang wanita berusia sekitar 50 tahun tergopoh menghampiri. "Ya, Nyonya," "Bi, tolong jaga di kecil, aku mau ke kantor sebentar," "Baik, Nyonya." Sandra, dengan berbekal ponsel di tangannya, ia segera mandi dan merias diri. Sudah cukup lama dia tidak pergi ke kantor dimana suaminya saat ini sedang bekerja. Ia telah melupakan berkas-berkas yang menumpuk dan kegiatan lainnya. Dan kali ini, ia tidak bisa lagi menahan diri. Mark, dunianya hampir ia lupakan. Suaminya itu mantan Casanova yang benar-benar mata keranjang. Ia menaklukkannya, dari pandangan gadis-gadis yang mencoba merebut hatinya. Namun, ketika hendak pergi, tiba-tiba putranya merengek minta ikut. Salahnya, sewaktu akan keluar anak itu melihatnya berpakaian rapi. Terpaksa ia menahan diri untuk tidak bertanya langsung sekarang. Masih ada waktu saat dia pulang nanti, gumamnya. Ia memilih menunggu putranya lalu pergi memimpin rapat siang ini. Menemui Mark, ia putuskan untuk bertemu di rumah saja. ** Pukul 15.30 sore. Jadwal Mark Adrian di kantor sudah selesai, tapi ia memilih duduk di mobil mewahnya yang terparkir di basement kantor, bukannya pulang. Ia gelisah, terus melihat jam. Ia harus segera pergi ke rumah sakit. Yang diinginkannya hanya satu, perlu memastikan Erlita baik-baik saja. Ia juga perlu kesana agar Erlita bisa melihat kalau gadis itu telah berhutang padanya. Namun, saat bersiap menginjak pedal gas, ponselnya berdering. Nama Sandra terpampang di layar. Mark menghela napas panjang, menenangkan debaran yang bukan berasal dari gairah, melainkan dari rasa bersalah. "Halo, Sayang," sapa Mark, berusaha terdengar santai. "Mark, aku sudah di rumah," suara Sandra, meskipun lembut, terdengar dingin dan menuntut. "Aku minta kita bicara. Sekarang." Mark tahu ia tidak bisa mengelak. Sandra, istrinya, merupakan wanita berkuasa dengan koneksi yang luas. Menolak berarti membuat sebuah kesalahan. "Baik. Aku pulang sekarang," putus Mark, menyalakan mesin mobilnya dengan gerutuan tersembunyi. Pertemuan dengan Erlita harus ditunda. Lima belas menit kemudian, Mark sudah berada di rumah pribadinya dan duduk di ruang kerja di rumah mewah mereka. Sandra berdiri di hadapannya, bersandar pada rak buku, dengan pose yang sempurna namun memancarkan aura interogasi. Mark tampak tidak tenang, ia pulang dan mandi sebentar tadi. Pakaiannya sudah rapi dan duduk menemui istrinya. "Kenapa kamu terburu-buru sekali?" tanya Sandra, matanya yang tajam menatap lurus ke mata Mark. "Aku tidak terburu-buru, Sandra. Aku hanya... baru menyelesaikan beberapa panggilan konferensi, tadi" jawab Mark, mengontrol nada suaranya. Ia menatap jam tangan mewahnya—jam yang seharusnya sudah ia habiskan untuk melihat Erlita tersenyum berkat bantuannya. "Panggilan konferensi? Begitu mendesak hingga tidak sempat makan siang, atau bahkan membalas pesanku?" Sandra melangkah mendekat, matanya tidak pernah putus kontak. "Aku menelepon kantor mu tadi. Sekretaris mu bilang kamu sangat sibuk dan cukup aktif hari ini. Tidak biasa." Mark menyandarkan punggungnya di kursi kulit. "Aku hanya sedang stres karena penanganan banjir di beberapa properti kita. Kamu tahu sendiri situasinya kemarin." Sandra tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Senyum itu seperti sebuah tanda, yang mungkin cukup berbahaya. "Tentu. Banjir memang merepotkan. Tapi bukan itu yang membuatku ingin bicara, Mark." Sandra mengeluarkan ponselnya, menggesek layarnya, dan menunjukkannya pada Mark. Itu adalah sebuah foto. Foto buram yang diambil dalam keadaan gelap dan basah, tetapi Mark mengenal mobilnya, dan siluet dirinya yang sedang berjuang mengemudi di genangan air, dengan seorang gadis muda di kursi penumpang. Mark merasakan adrenalinnya melonjak. Ia mempertahankan ekspresi tenang. "Aku sempat ke kediaman Tuan Herlambang untuk rapat amal kemarin malam. Kebetulan sekali, saat pulang, sopirku terjebak macet di dekat area Jakarta Timur," jelas Sandra, suaranya tenang, membuat Mark semakin gelisah. "Sopirku mengenal mobil kita, Mark. Dan ia bersumpah ia melihatmu di sebuah gang sempit, di area pemukiman yang sangat kumuh." Sandra menarik ponsel itu kembali, kini berdiri tegak di depan meja Mark. Matanya kini penuh tuduhan, tanpa filter. "Kamu sedang mengunjungi siapa, Mark?" tanya Sandra, suaranya kini dingin seperti es. "Kenapa Presdir Finance Corporation berada di tengah banjir, di pemukiman kumuh, mengantar seorang gadis muda di mobil pribadinya?" Mark harus berakting cepat. Ia tidak boleh menyebut nama Erlita. Tidak sekarang. "Itu urusan pekerjaan, Sandra," jawab Mark, suaranya terdengar meyakinkan. "Salah satu staf baru kita. Rumahnya kebanjiran, dan motornya rusak. Aku kebetulan sedang berada di area itu—" "Kebetulan?" potong Sandra sinis. "Sejak kapan seorang Presdir turun tangan sendiri mengantar karyawan baru di tengah badai? Bukankah kamu punya sopir, Mark? Atau, bukankah kamu baru saja menunjuk Asisten Pribadi baru agar kamu tidak repot dengan urusan kecil seperti ini?" Mark mengepalkan tangannya di bawah meja. Sandra terlalu cerdas, terlalu terbiasa membaca kebohongannya. "Aku hanya menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap karyawan yang baru masuk, Sandra. Itu image yang baik. Dia berada dalam keadaan darurat," bela Mark, berusaha mati-matian terdengar logis. Sandra hanya menggeleng pelan, matanya menyipit. "Aku tidak tahu, Mark. Tapi aku tidak suka. Dan aku perlu tahu. Siapa nama gadis itu?" Pertanyaan itu menghantam Mark seperti palu. Ia sadar, ia tidak bisa lagi lari dari kenyataan. Keinginannya untuk menemui Erlita kini terperangkap di antara tembok kekuasaannya dan kecemburuan istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN