22. Kearoganan Mark

1332 Kata

Erlita menatap ibunya yang kebingungan. Ia duduk dan memegang tangan ibunya. “Bu, ini surat dari Pak Burhan. Kita diminta pergi dari sini,” “Nggak mungkin, mana Pak Burhan? Ibu mau bicara,” Mark yang mendengar itu langsung melangkah maju dan memberikan penjelasan secara halus dan mudah dimengerti. “Bu, maaf sekali tapi, Erlita juga harus segera ke Jakarta. Rumah kalian dikontrakkan tapi akan saya tempatkan di sebuah rumah kecil. Jadi, tolong pengertian ibu agar bersedia ikut kami,” Ibunya melirik ke arahnya, membuat Erlita gelisah. “Er, ini sungguhan?” Erlita mengangguk ragu. Ia nelangsa karena mereka seperti tawanan. Mark benar-benar kejam, dia tidak seharusnya berbuat seperti ini. Satu jam kemudian mereka akhirnya merasa lega, termasuk Mark yang akhirnya bisa bernapas lega karena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN