Hujan turun deras malam itu. Di jalanan yang becek dan sepi, mobil tua yang dikendarai Raka melaju tanpa lampu utama menyala. Setiap beberapa detik, ia menatap spion, memeriksa apakah mobil hitam di belakang masih mengikuti. Nafasnya berat, tegang. “Raka, mereka masih ngikutin, ya?” suara Aruna terdengar serak, sedikit bergetar. Ia menatap kaca belakang, samar-samar tampak cahaya lampu kendaraan yang terus membuntuti. “Diam,” ucap Raka pelan tapi tegas. “Jangan panik. Pegang sabuk pengamanmu.” Aruna menggigit bibirnya, kedua tangannya memegang erat dashboard. Ia bisa mendengar degup jantungnya sendiri beradu dengan suara mesin tua yang meraung di bawah guyuran hujan. Hanya suara derap air, denting logam, dan napas terburu yang mengisi ruang mobil. Seketika, suara tembakan terdengar—dua

