Reda rasa kakinya amat berat. Namun, tak ada pembicaraan lain lagi yang bisa dijadikan alasan. Buntu pikiran Reda saat ini. Ta bahkan tak lebih jauh membujuknya untuk tetap tinggal. “Aku pamit, Ta.” Reda berbalik lalu menjauh dengan langkah berat, pelan, serta kecil. Ta tahu Reda enggan. Tetapi tetap Ta memilih kebodohannya. Ta terpaku, tak akan ia mencegah Reda dari keputusan besar itu. Mendadak saja wanita berambut gelap itu berbalik, “Ada apa?” tanya Ta heran. Reda melewati Ta, “Memu! Dia milikku.” Ta sampai tersenyum di belakang Reda yang berlari masuk rumah secara tergesa. Tak bisa ditepisnya bagaimana boneka beruang itu bisa menjadi masalah sendiri bagi Reda nanti. Tak lama Ta memang melihat Memu di pelukan Reda. “Kau yakin Arthur mengizinkanmu membawanya?” “Aku yakin Arth

