“Jadi, apa yang kau ingin bicarakan?” Ta menyesal. Harusnya itu yang ia katakan sebagai jawaban. Ta perlu memberitahu Reda bahwa ia tak suka membawa langkahnya ke tempat ini. Sungguh, Ta merasakan sesal yang amat dalam saat ini. Harusnya ia tak setuju saja saat Reda menyarankan agar mereka melakukan pembicaraan serius mereka di atap, sementara pagi ini matahari pasti makin naik dan menghangat. “Ta!” Panggil Reda yang duduk di sofa kepada pria berkacamata yang hanya berdiri mematung seperti tiang bendera untuk upacara. “Kau bilang ingin ---“ Ta mengusap kulitnya yang tersengat cahaya, “Mengapa kau sangat suka tempat ini?! Panas begini akan membuatmu kering seperti ikan asin!” Reda tak menduga jika matahari itu musuh Ta. Lepas ia tergelak mendengar omelan pria itu. Tawanya perlahan m

