Tawaran Ta sungguh manis. Selama ini Reda tak pernah berkhayal untuk hal demikian. Sekelas perusahaan permata ternama seperti Abinaya saja belum mencanangkan untuk membangun galeri besar selain koleksi mereka sendiri, apalagi untuk menyelenggarakan pameran permata internasional di negara ini. Namun, Ta yang biasa, tak punya uang ataupun pengetahuan tentang permata malah nekat melakukannya. Reda terharu, bagaimana pria yang selama ini dianggapnya remeh ternyata orang pertama yang mau memberinya semangat untuk tidak sekedar berharap besar, tetapi juga membuka jalan untuk Reda menggapainya. Membangun galeri permata dengan Reda sebagai tuan rumahnya. “Jadi, bagaimana pendapatmu?” tanya Ta menunggu. Reda masih sangsi untuk menggelar euforia. Ada beberapa hal yang membuatnya ragu untuk begitu

