Reda baru saja membuka mata saat detik berikutnya senyuman Ta menyapa. “Selamat pagi,” sapanya riang. Reda menguap lebar sebelum membalas, “Selamat pagi, Ta.” “Kau masih lesu?” Tentu, bahkan suaranya terdengar tak sangat jelas, terseret oleh rasa malas. Reda berusaha mengubah posisi jadi duduk bersandar seperti Ta. “Wajar, bukan. Aku baru saja bangun.” Reda terkejut ketika tiba-tiba saja Ta menyeka rambutnya yang menjuntai. Tapi itu belum seutuhnya, lebih membola lagi matanya karena mendadak Ta mendekatkan wajah mereka. “T---Ta, kau mau ap---“ Tapanuli Kahiyang adalah manusia cerdas yang cepat sekali mempelajari satu hal. Kemarin pagi Reda memberinya ciuman pagi singkat, maka pagi ini Reda menemukan pria itu tanpa kacamatanya menempelkan bibir mereka dengan intensitas tiga kali

