Reda masih tertegun di meja makan. Makan siangnya belum selesai sementara Ta sudah menghilang. Reda jadi memikirkan ulang kalimat yang Ta katakan sebelum pria bermata empat itu beranjak. Ta hidup belasan tahun hanya dengan ibu tanpa sosok ayah sedikit pun. Ta hidup dengan wanita dewasa yang pernah dijamah pria, pernah melakukan aktivitas seperti halnya yang akrab bagi Reda. Reda sadar ia sedang dibandingkan, juga Reda sukarela membandingkan dirinya dengan ibu Ta. Itukah alasan Ta dikebiri? Reda menggeleng keras. Bukan Ta yang harus ia pikirkan saat ini, melainkan kata-kata yang membekas olehnya. Ibu Ta belasan tahun, di sini. Reda mengedarkan pandangan ke sekitar, tempat dulunya Ta dan sang ibu hidup dan beraktivitas. Hidup dengan satu anak semata wayang tanpa bantuan seorang pria, benar

