Mereka berdua sedang di atap, duduk diam tanpa pembicaraan. Ta mencoba menelaah sekitarnya, seolah mencari satu hal untuk dikagumi atau alasan untuk betah duduk menghalau udara malam. Hanya ada tembok tinggi bangunan sebelah, hamparan atap rumah sejauh mata memandang dengan lampu-lampu penerangan dan sebuah pohon yang jauh di ujung pandangan mata. “Ta...!” “Hm?” “Apa yang harus kulakukan?” tanya Reda terlontar. “Ibumu, bagaimana beliau mengalihkan hasratnya?” Ta mengerjap. Tersadar bahwa sosok Reda yang menengadah ke langit adalah alasannya untuk tetap duduk di sana. Ta tak suka udara malam, tapi jika di dekatnya ada Reda, maka malam juga bisa menunjukkan selimut hangatnya. “Mungkin aku bisa sepertinya,” kata Reda pelan, menerawang. Ta menatap pula langit malam dengan bintang-b

