Reda bercermin. Banyak bekas merah yang bibir Arthur tinggalkan di tubuhnya, dari leher hingga bagian d**a. Ia bahkan tak sempat memerhatikan lagi jalanan menuju rumah mereka setelah panggilan dari pria hangat itu selesai. Arthur menghantam Reda di dalam taksi yang sedang melaju. Ganasnya Arthur Bakrie tak bisa dihentikan. Pria itu sudah mencaci maki dan membiarkan tubuh Reda terekspos kepada sopir yang curi pandang melalui spion tengah. Reda menghela napas. Kakinya serasa kebas hingga ia coba bertumpu pada meja wastafel. Bersyukur lagi kondisi dirinya sedang haid. Jika tidak, mungkin saja mereka akan diturunkan di tengah jalan oleh pemilik taksi itu. “Reda!” Panggilan murka itu segera Reda jawab dengan menghampirinya. “Ada apa, Arthur?” Reda sudah siap dengan dua tangan mengepal d

