Pagi ini dihari minggu, tepat pada pukul tujuh pagi Ikfan sudah bersiap-siap untuk pergi ke kedai kopi yang insyaa Allaah akan dikembangkan olehnya dan Andre. Sedangkan Hata, Rita, Rusdi, dan Nayla akan menyusulnya ke kedai tersebut pada pukul delapan pagi.
Arkan?
Seperti yang telah ia katakan semalam, bahwa ia tidak bisa ikut ke acara pembukaan kedai tersebut karena ada pertemuan dengan klien dari Bali. Hari itu Arkan hanya bisa menghadiri acara keluarganya saja yang akan pergi menuju ke rumah Alysa.
"Nanti bunda sama yang lain nyusul ke kedai," ucap Rita seraya sibuk merapikan jaket yang dikenakan oleh Ikfan.
Ikfan tersenyum menatap Rita yang kini sedang berada di hadapannya. "Iya bunda."
"Ohiya hadiah untuk Alysa udah kamu simpan di bagasi mobil belum?" tanya Rita.
"Udah bunda, ada di mobil Ikfan," jawab Ikfan sebari membetulkan jam tangan yang ia kenakan.
Rita tersenyum mendengar itu, "bagus kalau gitu. Yaudah sana pergi ke kedai, gak enak sama ayahnya Andre, pasti beliau udah nungguin kamu di sana."
Ikfan mengangguk, "iya bunda."
"Hati-hati Fan, jangan ngebut kalau nyetir mobil," peringat Rusdi.
"Iya kek,"
"Beneran semuanya udah kamu siapkan? Biar sekalian nanti habis dari kedai, kita semua langsung pergi ke Bandung." kata Hata yang baru ikut bergabung di ruang tamu—menjajap Ikfan pergi.
"Iya yah, udah,"
"Proposal ta'aruf?" tanya Hata memastikan.
"Udah ayah," jawab Ikfan setengah gregetan.
"Arkan!" panggil Rita yang melihat Arkan baru turun tangga—setelah lama berada di lantai atas, di dalam kamarnya.
Arkan berjalan menghampiri semuanya yang sudah berkumpul di ruang tamu. "Iya bunda,"
"Langsung ke kantor?" tanya Rita.
Arkan mengangguk, "iya, langsung aja bunda."
Saat itu Arkan tak kalah dengan Ikfan, ia juga terlihat sudah berpakaian rapih dan nampak lebih fresh dengan pakaian ala kantoran.
"Pertemuan sama klien dari Bali sampai jam berapa, Kan?" tanya Hata.
"Sekitar sampai jam sepuluhan yah, tapi gak tau juga," jawab Arkan.
"Kakek bakalan di Jakarta sampai kapan?" lanjut Arkan bertanya pada kakeknya.
"Kayaknya sampai adik kamu beres nikah sama Alysa, kalau jadi," jawab Rusdi kalem.
"Jadi dong kek, do'ain," timpa Ikfan.
Mendengar itu semua pun terkekeh ringan—kecuali Arkan.
"Yaudah, pergi sana. Jangan buang-buang waktu," kata Rita sebari menepuk pelan lengan Ikfan.
Ikfan mengangguk dan mulai menyalimi punggung telapak tangan Rita, Hata, dan Rusdi yang diikuti oleh Arkan juga setelahnya.
"Ikfan pamit ya, assalamu'alaikum," ucap Ikfan seraya berjalan keluar rumah—menuju mobil yang sudah ada di depan gerbang rumahnya.
"Wa'alaikumussalam,"
"Arkan juga pamit yah, bun, kek," pamit Arkan kemudian setelah Ikfan melegang pergi.
"Iya hati-hati," kata Rita.
"Bawa mobil sendiri?" tanya Hata.
"Iya yah, nanti Arkan kabari juga kalau udah selesai pertemuan dengan kliennya,"
"Yaudah kalau gitu,"
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
▪▪▪▪▪▪
"Sebelumnya om mau ucapin terima kasih sama kamu Ikfan, om benar-benar merasa sangat senang karena kamu mau membantu Andre dalam mengembangkan usaha kedai ini," ujar Yusuf—ayah Andre.
Mendengar itu Ikfan tersenyum hangat kepada Yusuf. "Iya om, sama-sama. Lagipula saya lakuin ini juga karena kasian sama Andre, taulah om Andre itu orangnya gimana," jawab Ikfan sekenanya yang bermaksud bercanda karena ada Andre yang berdiri di sampingnya.
Ikfan memang sudah tidak canggung lagi dengan keluarga Andre—termasuk ayahnya. Karena sejak duduk di bangku kuliah, Ikfan memang sangat dekat dengan mereka. Selain itu, Ikfan juga telah banyak membantu Andre untuk mengajak ke jalan yang benar, mengingat Andre ini termasuk anak yang mudah terbawa pergaulan zaman sekarang, jadi Yusuf cukup merasa berhutang budi pada Ikfan karena selalu mengingatkan anak semata wayangnya itu ke jalan yang benar.
Andre memutar kedua bola matanya jengah mendengar ucapan Ikfan.
"Liat tuh Dre, Ikfan ini anaknya baik. Mesti dicontoh dong!" kata Yusuf.
"Iya yah," balas Andre dengan mode malas.
Ikfan terkekeh melihat sikap Andre.
"Keluarga kamu jadi 'kan datang ke acara pembukaan kedai? Om benar-benar ingin bertemu dengan keluarga kamu," ucap Yusuf.
"Iya om, mereka akan datang. Mungkin sekarang lagi ada di jalan, sebentar lagi juga nyampe," jawab Ikfan.
Yusuf mengangguk paham.
"Yaudah kalau gitu, ayo kita ke ruangan belakang. Ada yang mau om bicarakan sama kalian berdua dan para pelayan kedai lainnya sebelum pembukaan,"
"Iya om,"
▪▪▪▪▪▪
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Alysa, terlihat suasana di sana tengah sibuk merapihkan rumah dan menyiapkan beraneka macam makanan. Seperti biasa bila akan ada tamu yang datang ke rumah, Frida selalu menyiapkan sesuatu yang baik untuk menyambut para tamunya nanti. Semisal, menyiapkan aneka hidangan makanan yang nanti akan dicicipi oleh para tamunya.
Sebagai kepala keluarga, Haris memang selalu menerapkan sunnah Rasulullaah shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni adab dalam menjamu tamu dengan baik.
Ada tiga akhlak yang baik yang disebutkan dalam hadits nomor 15 dari Hadits Arbain An-Nawawiyah berikut ini
Hadits Ke-15
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47].
Penjelasan Hadits
Kalimat “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir” adalah kalimat syarat dan jawab syaratnya adalah kalimat setelahnya, yaitu “hendaklah ia berkata baik atau diam”, “hendaklah ia memuliakan tetangganya”, “hendaklah ia memuliakan tamunya”
"Ikfan dan keluarganya dateng ke sininya ba'da dzuhur 'kan yah?" tanya Frida pada Haris. Saat ini keduanya tengah duduk di sofa ruang tamu—setelah sibuk menyiapkan sesuatu untuk kedatangan keluarga Ikfan ke rumahnya. Kebetulan saat itu Alysa dan Raka sedang berada di kamarnya masing-masing. Jadi kini hanya Frida dan Haris saja yang berada di ruang tamu.
"Iya, kata pak Hata sih gitu bilangnya di grup wa, katanya lagi menghadiri acara pembukaan kedai Ikfan dulu, baru setelahnya akan datang ke sini," jawab Haris sebari menyeruput teh hangat yang telah disajikan oleh Frida.
"Ibu gak nyangka loh yah, Ikfan yang dulu datang tiba-tiba ke rumah kita, yang katanya mau pamitan aja, ternyata diam-diam dia menyukai Alysa. Bahkan bermaksud menikahinya," ucap Frida mengungkapkan isi hatinya.
Haris tersenyum. "Ya baguslah bu, setidaknya Ikfan itu benar-benar dalam perasaannya terhadap anak kita. Tidak mengajak ke jalan yang salah," katanya lembut.
Frida tersenyum mendengar itu. "Iya yah, alhamdulillaah. Kemarin juga waktu bu Rita datang berkunjung ke sini, ibu senang yah. Bu Rita itu orangnya baik, tidak sombong, walaupun keluarganya itu berasal dari keluarga yang lebih mapan dari kita."
"Iya alhamdulillaah, semoga aja Alysa beneran berjodoh dengan Ikfan,"
"Iya yah, aamiin."