Hanifah
Jadi adek liburan mau tinggal di rumah orangtua aja?
Pukul tiga dini hari setelah usai melaksanakan sholat tahajjud, kini Alysa tengah chatting-an lewat w******p dengan Hanifah.
Alysa
Iya teh, 'afwan ya. Adek bakalan libur dulu ngajar di wisma.
Hanifah
Iya dek, ga papa. Teteh maklumin ko. Ortu adek pasti kangen sama adek tinggal di rumah:)
Sejujurnya saat ini Alysa ingin sekali memberitahu Hanifah perihal alasan lain mengapa ia lebih memilih tinggal di rumah bersama keluarganya selama libur kuliah. Karena biasanya, walau sepemaksa apapun orangtua Alysa jika berurusan dengan tempat tinggalnya saat libur kuliah, Alysa tidak pernah sampai izin berhenti mengajar ngaji di wisma untuk sementara waktu.
Lain halnya saat ini, dengan terpaksa Alysa harus izin berhenti mengajar ngaji untuk sementara waktu di wisma lantaran ini adalah perintah dari ibunya. Takut-takut jika nanti ia beneran berjodoh dengan Ikfan, karena rencana pernikahan akan dilaksanakan usai proses ta'aruf, jadi lebih baik Alysa harus berhenti dulu dari aktivitas yang biasanya ia lakukan. Dan Alysa belum berani membicarakan soal Ikfan kepada siapapun selain keluarganya. Termasuk Hanifah—kakak tingkatnya.
Alysa
Iya teh:')
Hanifah
Ohiya, acara nikahan Nesha udah ditentukan loh dek. Katanya tanggal 21 juni hari sabtu. Adek hadir ya nanti, acara nikahnya diselenggarakan di kota Subang.
Tanpa Hanifah tahu setelah membaca pesan itu, detak jantung Alysa mulai kembali berdegup kencang. Pikirannya mulai berkelana kemana-mana.
Alysa
Iya teh, insyaa Allaah.
Hanifah
Kalau adek takut gak ada mahrom waktu mau ke sananya, bareng sama a Raka aja hehe. Teteh juga sama ibunya teteh ko ke kota Subang nanti.
Alysa
Iya teh, insyaa Allaah. Nanti Alysa bicarain ini dulu sama orangtua adek dan a Raka.
Hanifah
Oke:)
Setelah itu Alysa tak berniat membalas chat Hanifah lagi, ia lebih memilih meletakkan ponselnya itu di atas meja belajarnya.
Tok..tokk..tokkk..
Alysa menoleh pintu kamarnya yang terdengar suara ketukkan dari luar. Dengan langkah yang pelan, ia menghampiri pintu kamarnya itu lalu membukanya.
"Ibu," ucap Alysa yang mendapati Frida berdiri di depan pintu kamarnya.
Frida tersenyum, "boleh ibu masuk?"
Alysa tersenyum seraya menarik lembut lengan ibunya tersebut dan kembali menutup pintu kamarnya setelah keduanya sudah masuk ke dalam kamar. "Ibu ini, kalau mau masuk ya masuk aja, gak usah izin. Kayak ke siapa aja."
Frida tersenyum mendengar itu lalu berjalan ke arah ranjang dan mendudukkan dirinya untuk duduk di tepi ranjang kasur bersama Alysa. "Gimana? Kamu udah nyiapinnya?"
Alysa mengercitkan keningnya bingung mendapat pertanyaan ambigu dari Frida, "maksud ibu?"
Frida kembali tersenyum hangat seraya mulai menggenggam telapak tangan Alysa. "Apa kamu udah nyiapin proposal ta'aruf yang disuruh sama ayah?"
Alysa terdiam sesaat setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh ibunya tersebut. Sungguh ia masih merasa ini seperti sebuah mimpi.
Proposal ta'aruf.
"Insyaa Allaah, udah bu. Udah Alysa siapkan tadi malam dibantu sama a Raka."
Frida mengangguk paham.
"Alhamdulillaah kalau gitu, persiapkan diri kamu ya sayang. Ini bukan hal yang main-main loh, ibu sangat menyayangi kamu," ujar Frida lembut.
Mendengar itu, tanpa permisi Alysa langsung menghambur memeluk tubuh ibunya tersebut. "Iya bu, Alysa juga sayang sama ibu. Do'ain Alysa ya bu," lirihnya sendu.
Frida membalas pelukan Alysa seraya mengelus punggungnya lembut, "iya sayang, tentu ibu do'akan."
Jujur saat itu rasanya Alysa ingin menangis kencang di dekapan ibunya. Karena walau bagaimanapun, jika nanti benar dirinya berjodoh dengan Ikfan, maka seluruh tanggung jawab yang selama ini berada pada kedua orangtuanya, nanti akan beralih pada lelaki itu.
▪▪▪▪▪▪
Sementara di tempat lain setelah usai melaksanakan sholat tahajjud, nampaknya Ikfan tengah merenung sebari duduk bersandar di kepala ranjangnya. Sesekali ia juga menatap proposal ta'aruf yang sudah ia siapkan yang kini berada di genggamannya.
Ikfan menghela nafasnya dan mulai memejamkan kedua matanya. Saat itu entah mengapa walaupun sudah membaca buku dan berdo'a kepada Allaah, Ikfan masih saja merasa gelisah. Ikfan gelisah karena memikirkan Alysa.
Apa alasan Alysa nerima gue yang mengajaknya ta'aruf?
Apa dia juga ngerasain apa yang selama ini gue rasain?
Apa Alysa mau punya suami kayak gue?
Itulah rentetan pertanyaan yang terus berputar-putar di benak Ikfan. Ia cukup merasa tidak percaya diri walaupun sebenarnya di luaran sana memang banyak yang mengejar dirinya. Tapi untuk soal Alysa, Ikfan benar-benar merasa berbeda. Ia tidak percaya diri.
"Ya Allaah, apa yang udah aku pikirkan. Jangan-jangan.. sadar Fan, Alysa masih belum jadi mahrom lo, lo jangan terus-terusan mikirin dia. Zina-zina.." Ikfan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. "Astaghfirullaah."
Line!
Di tengah kerumitan pikirannya tiba-tiba suara notifikasi dari ponselnya membuat Ikfan sedikit terkejut dan langsung mengambilnya.
"Ck, si Andre!" Ikfan berdecak malas saat melihat nama Andre tertera di layar ponselnya. "Tumben dia udah bangun jam segini?"
Andre
Fan.
Ikfan
Ya.
Andre
Jam delapan pagi ini sebelum pembukaan lo harus udah ada di kedai. Bokap gue mau ngomong sesuatu sama lo.
Ikfan
Insyaa Allaah.
Andre
Awas ya, gue tunggu!
Ikfan
Insyaa Allaah.
Andre
Insyaa Allaah mulu lo, yang bener dong_-
Ikfan
Lah, 'kan gue udah bener. Makannya jawab insyaa Allaah.
Andre
Insyaa Allaah itu kayak gak pasti cuy.
Ikfan
Bukan gitu Dre, kita itu memang dianjurkan mengatakan "insyaa Allaah" kalau hendak akan melakukan sesuatu. Kita gak ada yang tahu, bisa apa ngga ketika hendak melakukan sesuatu itu, maka katakan "insyaa Allaah".
Segala sesuatu yang berkaitan dengan masa yang akan datang sebaiknya dikaitkan dengan insya Allah (kehendak Allah), karena Allah berfirman,
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya-Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (QS. Al-Kahfi: 23-24).
Andre
Hemm.. baik syaikh:'
Ikfan
Aamiin gue jadi syaikh.
Andre
-_-