Sepulang dari rumah Alysa, Ikfan tak henti-hentinya mendapat godaan dan candaan dari Rita dan Nayla. Bahkan sesekali Hata dan Rusdi pun ikut andil untuk menggodanya. Sedangkan Arkan, ia terkesan lebih tak peduli dengan hal yang sedang terjadi di rumahnya.
Ceklekk..
Pintu kamar Arkan terbuka dan menampakkan sosok Ikfan yang mulai memasuki kamarnya. Malam ini Arkan tengah disibukkan dengan tugas dari kantornya, bahkan saat Ikfan memasuki kamarnya, Arkan tidak beralih sama sekali dari laptopnya.
"Hahhh.." Ikfan membuang nafasnya kasar sebari menjatuhkan tubuhnya ke kasur Arkan dan membuat tubuh Arkan yang duduk di sebelahnya sedikit terpelonjat akibat tekanan kasur yang Ikfan lakukan.
"Gue capek," keluh Ikfan yang kini terbaring dengan posisi terlentang di sebelah Arkan sebari menatap langit-langit kamar.
Arkan tak bergeming, ia lebih memilih fokus dengan laptopnya.
Ikfan mendengus menoleh Arkan yang tak bergeming. "Gue degdegan. Gimana dong?"
Arkan masih enggan untuk menanggapi ucapan adiknya tersebut, dan itu membuat Ikfan mulai naik darah.
"Lo denger gue ngomong gak sih?" tanya Ikfan kesal yang merubah posisinya menjadi duduk seraya menatap Arkan.
Mendengar itu, seketika Arkan menghentikan jari-jarinya yang sejak tadi aktif mengetik di papan keyboard laptopnya. "Gimana rencana lo sama Andre besok? Jam berapa pembukaan kedai itu dimulai?" tanyanya beralih topik dengan nada yang cukup santai.
Mendapat pertanyaan yang menurutnya tidak nyambung, Ikfan menghela nafasnya sebelum menjawab. "Insyaa Allaah jam sembilan pagi,"
Arkan menatap Ikfan serius, "terus ke rumah Alysanya jam berapa?"
Ikfan kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur seraya menjawab, "ya habis acara pembukaan kedai-lah!"
Arkan berdecak kesal, "iya maksud gue jam berapa?" tanyanya gemas.
Ikfan melirik Arkan sejenak lalu kembali menatap langit-langit kamar, "sekitar ba'da dzuhur."
"Apa?" pekik Arkan terkejut.
Ikfan menoleh Arkan heran. "Kenapa emang?"
"Lo gila, apa itu gak kesiangan?"
"Gue rasa ngga, lagipula acara pembukaan kedai itu selesai jam sebelas siang, nanggung kalau ke Bandung sebelum dzuhur. Jadi ba'da dzuhur aja. Gue juga udah ngomongin soal ini sama ayah, ayahnya Alysa dan bang Raka tadi di grup wa."
Memang benar, sejak Ikfan akan melakukan ta'aruf dengan Alysa, sejak saat itu juga pembuatan grup chat di w******p terjadi di antara keluarga Ikfan dan Alysa. Di grup itu hanya beranggotakan, Ikfan, Hata, Haris, Raka, dan Arkan saja.
"Lo terlalu sibuk sama laptop sih, jadi lupa cek grup 'kan," gerutu Ikfan.
Arkan tak bergeming. Nampaknya ia tengah memikirkan sesuatu.
"Kayaknya gue gak bakalan ikut ke acara pembukaan kedai lo sama Andre, gue ada pertemuaan besok pagi sama klien dari Bali," ujar Arkan.
Ikfan menoleh Arkan, "bukannya besok jam kantor libur ya?"
"Iya, tapi karena perusahaan lagi banyak proyek jadi gue mesti adain pertemuan sama klien di luar jam kerja."
"Ck, pekerja keras banget sih lo!" decak Ikfan jengah.
Arkan tak menanggapi ucapan Ikfan, ia lebih memilih melanjutkan tugas kantornya lagi.
"Gue degdegan nih," Ikfan kembali mengeluh.
Arkan masih tak menanggapi, ia malah kembali mengetik sesuatu di laptopnya.
"Gue bingung, besok gue harus gimana di hadapan ayahnya Alysa. Degdegan," lanjut Ikfan terlihat mulai gusar.
Arkan tetap tak bergeming.
"Di hadapan Alysa aja gue udah gugup setengah mati, apalagi besok." Ikfan menepuk keningnya sendiri, "adoohh.. gue rasa gak kuat," keluhnya dramatis.
Mendengar itu Arkan hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah melihat perilaku Ikfan yang terkesan berlebihan.
"Gue mesti gimana?" tanya Ikfan menoleh Arkan.
"Berdo'a," jawab Arkan seadanya.
"Gue serius!"
"Gue juga," timpa Arkan santai.
"Hahh.." Ikfan membuang nafasnya lelah. "Gue takut bang, gue takut Alysa gak suka sama gue," ucapnya yang tiba-tiba terkesan putus asa.
Mendengar itu seketika Arkan menhentikan lagi aktivitasnya dan beralih menatap Ikfan yang terbaring terlentang di sebelahnya.
"Jangan suudzan, husnudzan aja," kata Arkan.
Ikfan kembali menoleh Arkan. "Tapi gue tetep takut," lirihnya.
Arkan kembali memutar kedua bola matanya jengah. Bukankah saat ini Ikfan terlihat bukan seperti Ikfan yang biasanya?
"Husnudzan sama Allaah, inget Fan Allaah itu sesuai prasangka hambaNya," nasihat Arkan.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675].
Husnudzan kepada Allaah, itulah yang diajarkan pada kita dalam doa. Ketika kita berdoa pada Allaah kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang ber-husnudzan kepada Allaah. Jika seseorang berdoa dalam keadaan yakin doanya akan terkabul.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
"Kalau lo berprasangka Alysa bakalan nolak lo, maka Allaah akan menakdirkan itu. Dan kalau lo berprasangka Alysa bakalan nerima lo, maka Allaah pun akan menakdirkan demikian. Jadi ada baiknya lo berprasangka baik kepada Allaah."
Terlihat Ikfan terdiam mencerna ucapan Arkan.
"Inget Fan, takdir Allaah itu pasti selalu yang terbaik."
"Tapi.. gue degdegan.." Ikfan terlihat masih belum tenang.
"Mending lo baca buku sana, pelajari ilmu yang saat ini sedang lo butuhkan. Dalami lagi ilmu tersebut," saran Arkan.
"Ilmu nikah maksud lo?" tanya Ikfan memastikan.
Arkan menghela nafasnya sebelum menjawab, jujur ia merasa gregetan dengan tingkah Ikfan yang tiba-tiba lemot. "Iya ilmu nikah, emang ilmu apa lagi yang saat ini sedang lo butuhkan?"
Ikfan tak menjawab, ia malah terdiam sebari memikirkan sesuatu.
"Pergi sana! Baca buku!" usir Arkan yang mulai kembali fokus dengan laptopnya.
Saat itu juga, akhirnya Ikfan menuruti saran Arkan. Semalaman penuh ia gunakan waktunya untuk membaca buku pra nikah. Walaupun pada asalnya Ikfan sudah pernah mempelajari itu, namun ia pikir tidak ada salahnya bila memuraja'ah kembali ilmu yang telah dipelajarinya