Tiga Puluh

1263 Kata
Setelah asik berbincang hangat di ruang tamu, kini Alysa tengah duduk di tepi ranjang kamarnya dengan di sebelahnya terdapat Rita juga yang tengah duduk di sana. Rita sengaja mengajak Alysa untuk mengobrol hanya empat mata saja, dan kamarnya-lah yang Alysa pilih untuk menjadi tempat mereka akan mengobrol—hanya berdua. "Sudah lama mengenal Ikfan?" tanya Rita lembut seraya tersenyum dan menyentuh tepi atas telapak tangan Alysa. Alysa yang mendapat perlakuan seperti itu, ia merasa canggung, malu dan gugup secara bersamaan. "Mm.. lumayan bunda, Alysa kenal sejak masih SMA," jawabnya lirih. Rita mengangguk paham. "Awalnya bunda itu kaget loh," Rita mulai bercerita. "Bunda kaget karena tiba-tiba Ikfan minta sama kami bahwa ia ingin menikah," sambungnya. Alysa tak bergeming, ia lebih memilih diam dan berharap calon mertuanya itu akan bercerita lebih lanjut. "Ikfan itu di rumah orangnya pecicilan dan belum dewasa, makannya bunda sama ayahnya agak gak percaya kalau dia beneran mau nikah," Rita menatap Alysa intens, "bunda harap kalian benar-benar berjodoh, karena bunda akan sangat bahagia bila memiliki menantu seperti kamu. Walaupun Ikfan keliatannya belum dewasa tapi bunda tahu bahwa sikap aslinya tidak begitu," ujarnya lembut. Mendengar itu, Alysa tersenyum malu di balik cadar yang ia kenakan. "Sudah berapa lama pakai cadar?" tanya Rita beralih topik. "Setelah lulus SMA bunda," jawab Alysa. "Berarti waktu SMA tidak ya?" "Mm.. sebetulnya saat SMA Alysa pakai cadar juga, tapi kalau mau ke kajian aja," lirih Alysa. "Berarti waktu SMA dulu Ikfan pernah liat wajah kamu dong saat di sekolah?" tanya Rita lagi. "Mmm.. tidak juga bunda," cicit Alysa ragu. "Tidak juga?" Rita terlihat bingung dengan maksud ucapan Alysa. "Iya bunda, jadi selama di SMA Alysa juga selalu nutupin wajah, tapi saat itu Alysa hanya nutupinnya pakai masker, bukan cadar." Terang Alysa. Rita menganggukkan kepalanya walau ragu. "Berarti selama ini Ikfan belum pernah melihat wajah kamu?" tanyanya penasaran. Alysa mengangguk pelan, "iya bunda," Tanpa permisi Rita tersenyum senang setelah mendengar jawaban Alysa. Dia sangat bangga pada putranya itu. Ikfan tertarik kepada Alysa bukan karena melihat paras wajahnya apalagi fisik lainnya, melainkan Ikfan tertarik kepada Alysa karena Ikfan melihat kepribadiannya. "Ikfan itu sekarang kuliah di PTN yang ada di Jakarta, jurusan ilmu komunikasi. Dia juga berencana akan buka kedai kopi besok bersama sahabatnya, namanya Andre," Walaupun terdiam tapi di dalam benaknya Alysa merasa penasaran. Ikfan kuliah sambil buka usaha? "Kedai kopi itu sebenarnya milik ayahnya Andre, tapi karena kasih sayang ayah pada anaknya, jadi kedai itu diberikan kepada Andre, dan Andre menyuruh Ikfan untuk ikut andil dalam mengembangkan usaha pemberian ayahnya tersebut, mungkin Andre takut kewalahan jika mengurus itu sendirian," terang Rita seolah pahan batin Alysa. Alysa tak bergeming. "Setelah lulus kuliah Alysa ada rencana bekerja atau gimana?" tanya Rita yang membuat Alysa sedikit terkesiap—karena belum siap untuk ditanya setelah lama terdiam mendengar ucapannya. "Mm.. Alysa masih belum tahu," jawab Alysa lirih. Rita mengangguk, namun tak lama kemudian ia mesem menatap Alysa. "Tapi kamu gak usah khawatir, kalau nanti beneran kamu jadi nikah sama anak bunda, udah pasti kamu gak usah repot-repot untuk bekerja. Lagipula Ikfan mana ridho jika istrinya bekerja. Cukup diam di rumah, menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya saja," godanya. Di balik cadarnya, Alysa pun semakin tersenyum malu mendengar itu. Rita kembali menyentuh telapak tangan Alysa—setelah dilepas tadi—seraya menatap dalam calon menantunya tersebut. "Bunda harap, apapun takdir Allaah, semoga kamu dan Ikfan sama-sama mendapatkan yang terbaik," ujarnya. Alysa menatap Rita serius, ia merasa perkataan Rita ini terkesan ambigu namun memiliki makna yang dalam. Apakah bunda takut kalau aku akan menolak anaknya? Batin Alysa. ▪▪▪▪▪▪ Tak terasa waktu semakin berlalu, kini Rita, Ikfan, dan Nayla pamit pulang dari rumah Alysa untuk kembali lagi ke Jakarta. "Kenapa pulangnya cepat sekali, jadi gak enak saya bu, ibu sudah jauh-jauh datang ke sini dari Jakarta," ucap Frida merasa tak enak pada Rita. Kini mereka tengah berada di depan pintu gerbang rumah. Rita tersenyum hangat pada Frida, "jangan bilang begitu ah, saya gak papa ko bu. Lagian 'kan ini mengunjungi rumah calon besan dan calon menantu saya, jadi saya gak papa, malah senang," Frida tersenyum mendengar itu. "Maa syaa Allaah, aamiin bu. Semoga memang benar akan begitu ya," Dengan kompak, saat itu juga Rita, Frida, dan Nayla mesem seraya menoleh ke arah Ikfan dan Alysa yang sejak tadi sama-sama tak bergeming. "Abang jangan tiba-tiba jadi patung gitu dong, biasanya juga pecicilan kalau di rumah," celetuk Nayla se-enaknya. Mendengar itu Ikfan sama sekali tak membalas perkataan Nayla, namun ia menatap geram pada adiknya tersebut. Sedangkan Rita dan Frida hanya terkekeh ringan melihatnya. Tanpa diketahui oleh siapapun, Alysa yang berdiri di samping Frida—sambil menundukkan pandangannya—ia sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang sedang berpacu lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak begitu, perlu diingat bahwa saat itu Ikfan yang posisinya berada tepat di hadapannya—agak berjauhan—hal inilah yang menjadi penyebabnya. Terlebih ini adalah pertemuan pertama mereka, sejak Ikfan memutuskan untuk mengenal Alysa lebih jauh. "Maaf ya bu, saat ibu, Ikfan, dan Nayla datang ke sini, kalian tidak bisa bertemu dengan suami dan anak pertama saya. Karena kebetulan suami dan anak saya itu masih ada pekerjaan di kantornya," ucap Frida yang masih merasa tak enak. Rita kembali tersenyum hangat seraya menyentuh tangan Frida. "Gak papa bu, saya mengerti ko. Justru saya yang harus minta maaf karena datang ke sini tiba-tiba, tanpa bicara terlebih dahulu," ujarnya. "Ehh.. ngga bu, gak papa. Justru saya senang ko, ibu, Ikfan dan Nayla datang berkunjung ke sini sebelum besok proses ta'aruf dilakukan," sambung Frida. Rita kembali mesem seraya melirik Ikfan sejenak—yang berdiri di depan mobil hitamnya sambil memainkan kunci mobil tersebut. "Yaudah, kalau gitu saya pamit ya bu sama anak-anak saya," Frida tersenyum. "Iya bu, hati-hati. Fii amanillaah." "Iya, aamiin." Rita menoleh ke arah Alysa yang sejak tadi diam di samping ibunya, "bunda pergi dulu ya Alysa," ucapnya lembut seraya menyentuh lengan Alysa. Mendengar hal tersebut, Ikfan yang sejak tadi fokus memainkan kunci mobil—alat pengalihan rasa gugupnya—kini mulai melirik ke arah Rita dan Alysa yang berada di hadapannya. Sebenarnya sejak tadi Ikfan diam bukan tanpa alasan, karena pada kenyataannya ia merasa bingung harus bagaimana. Selain gugup dan malu, ia juga merasa canggung. Terlebih ia belum terlalu dekat dengan ibunya Alysa, apalagi dengan Alysanya. Ia hanya baru dekat dengan Raka saja, itu pun masih sedikit sungkan. Alysa mengangguk pelan sambil tersenyum di balik cadarnya dan menatap Rita. "Iya bunda, fii amanillaah," lirihnya. Rita tersenyum, "aamiin," "Aku juga pulang dulu ya kak," seloroh Nayla sebari tersenyum kepada Alysa. Alysa menatap Nayla dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya. "Iya Nayla, fii amanillaah," "Aamiin," Nayla semakin tersenyum sambil menunjukkan puppy eyes-nya. "Abang, gak mau pamitan ini sama kak Alysa nya?" ucap Nayla tiba-tiba yang bermaksud menggoda Ikfan. Melihat tingkah Nayla, Frida dan Rita tersenyum. Sedangkan Ikfan dan Alysa, keduanya malah mulai salah tingkah. "Apaan sih dek!" decak Ikfan sebal, namun tak ayal ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju Frida. "Saya pulang dulu tante," ucap Ikfan sebari menangkup kedua telapak tangannya di depan d**a. Frida tersenyum. "Iya Fan, hati-hati ya nak," ujarnya lembut. Ikfan tersenyum, "iya tante," Dengan ragu Ikfan menoleh ke arah Alysa yang dilihat tengah berdiri di samping Frida tanpa melihat ke arahnya. "Aku pulang dulu," pamit Ikfan pada Alysa nyaris tak terdengar. Alysa yang merasa ada Ikfan di dekatnya, bahkan lelaki itu sedang bicara padanya, tanpa ia sadari, ia mulai memilin jilbab syar'inya. "Iya," cicitnya. Di sisi lain, Frida, Rita, dan Nayla yang melihat Ikfan dan Alysa malu-malu. Mereka hanya bisa mesem. "Ehm." Rita berdehem, "yaudah, kami beneran pamit kalau begitu. Assalamu'alaikum," kata Rita. Frida tersenyum dan mengangguk pelan. "iya, hati-hati." "Wa'alaikumussalam," ucap Frida dan Alysa bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN