Dua Puluh Sembilan

1055 Kata
Tidak terasa waktu telah berjalan dengan cepat. Seperti sekarang ini disiang hari setelah kelas ujian semester akhir selesai, kini Alysa tengah duduk di halaman fakultas sambil menatap layar ponselnya dengan serius. Sesekali ia juga tersenyum dan bersemu malu disaat yang bersamaan. Raka Kata ayah setelah acara peresmian kedai kopi milik Ikfan besok, dia dan keluarganya akan langsung ke Bandung. Rasanya jantung Alysa hampir meledak setiap membaca pesan yang dikirim oleh Raka pagi tadi. Bahkan pesan itu selalu ia tatap terus untuk memastikan, apakah ini bukan mimpi? "Di sini kamu rupanya," Alysa langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas—yang sejak tadi ia taruh di atas pangkuannya—setelah mendengar suara yang mengintrupsinya. Seraya menoleh dan tersenyum, Alysa berkata, "hhe.. iya teh, teteh udah selesai urusan sama dosennya?" Hanifah yang berdiri di depan Alysa, kini mengambil tempat untuk duduk di sebelahnya. "Hmm, udah. Baru beres banget. Kamu gimana?" "Iya alhamdulillaah, aku juga udah beres. Akhirnya ujian akhir semester ini udah berakhir," Hanifah tersenyum, "iya alhamdulillaah. Itu berarti pernikahan Nesha juga akan segera dilaksanakan, 'kan setelah uas rencananya begitu." Tanpa Hanifah sadari, Alysa bersemu malu sebari tersenyum di balik cadar yang ia kenakan. Bukankah aku juga akan seperti teh Nesha? Nikah setelah uas jika benar berjodoh dengan Ikfan? Batin Alysa. "Adek rencana liburan mau kemana? Lumayan loh ini liburannya cukup lama, selain karena bakalan ada MABA, yah.. liburan teteh juga 'kan karena udah selesai sidang.. bingung jadinya mau ngapain," ucap Hanifah lesu sambil menatap ke dasar tanah. Alysa tersenyum seraya menyentuh telapak tangan Hanifah. "Aku liburan di Bandung aja, teteh jangan sedih gitu. Aku yakin teteh pasti bakalan liburan dengan asik setelah ini," "Liburan dengan asik?" Hanifah membeo heran menatap Alysa. "Hmm," Alysa mengangguk. "Liburan asik karena teteh bakalan ngajar di Ma'had Ash-Siddiq tanpa perlu terbebani lagi oleh tugas kuliah. Bukankah liburan terindah adalah ketika kita bisa memberi manfaat kepada orang lain dengan mengarkannya ilmu?" Hanifah tersenyum setelah paham maksud ucapan adik tingkatnya tersebut. "Iya dek." "Insyaa Allaah, Alysa akan kabari teteh setelah.." Ucapan Alysa terhenti tatkala merasa ponselnya bergetar. Hanifah pun melirik ke arah tas Alysa. "Handphone-nya bergetar, ada pesan dek," tegur Hanifah yang sebenarnya sudah Alysa ketahui. Alysa mengangguk dan kemudian meraih kembali ponselnya yang sempat ia masukkan ke dalam tas. Raka Bismillaah, cepat pulang. Adek udah ditungguin di rumah. Ada yang ingin ketemu. Alysa memicingkan matanya membaca pesan dari Raka. Ada yang ingin ketemu? Hanifah yang masih duduk di samping Alysa, dan melihat ekspresi Alysa saat membaca pesan tersebut, ia pun mulai merasa aneh. "Kenapa dek?" Alysa menoleh Hanifah seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Ngga teh, ini a Raka bilang katanya adek disuruh pulang ke rumah, ada yang mau ketemu sama adek," Hanifah hanya mengangguk paham menanggapi ucapan Alysa. "Yaudah teh, nanti kita ketemu lagi di wisma. Adek mau pulang ke rumah ibu dulu," Hanifah kembali menganggu. "Iya, fii amanillaah." Alysa tersenyum. "Aamiin, assallamu'alaikum," pamitnya seraya beranjak dari duduknya. "Wa'alaikumussalam." ▪▪▪▪▪▪ Alysa melambatkan langkah kakinya tatkala melihat di depan rumahnya terdapat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di sana. Tamunya dari mana? Alysa cukup merasa heran, tidak biasanya ada yang bertamu ke rumahnya disiang hari seperti ini. Biasanya jika ada saudaranya yang berkunjung, pasti selalu datang dipagi hari dan itupun tanpa mobil berwarna hitam. Mobil siapa ini? Dengan langkah yang pelan Alysa memasuki rumahnya, kemudian seketika ia terhenti di depan kaca—agak jauh dari pintu masuk rumah—saat mendengar canda tawa ibunya dengan seseorang dari dalam. Tak mau semakin penasaran, akhirnya Alysa kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, dan betapa terkejutnya ia tatkala melihat siapa yang datang bertamu ke rumahnya. "Assalamu'alaikum," Suara khas yang pelan itu menggema diruang tamu dan membuat semua penghuninya yang berada di sana seketika menoleh ke arah sumber suara. "Wa'alaikumussalam," "Ehh.. sudah pulang sayang?" tanya Frida seraya beranjak dari duduknya dan menghampiri Alysa yang masih berdiri di ambang pintu masuk. Alysa tak berkutik, nampaknya ia sedang menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba kembali berdetak tidak seperti biasanya. Rita tersenyum sambil masih duduk di sofa ruang tamu bersama Ikfan dan Nayla ketika melihat kedatangan sosok gadis bercadar yang ia ketahui adalah calon menantunya. Ya benar, saat ini Rita mendatangi rumah Alysa karena tak sabar jika harus menunggu hari esok. Dengan ditemani oleh Ikfan dan Nayla, Rita sengaja berkunjung saat itu karena ingin melihat dan mengobrol langsung dengan Alysa sebelum acara ta'aruf benar-benar dilakukan. "Sini duduk, ada yang ingin ketemu sama kamu," kata Frida lirih saat berdiri di samping Alysa seraya memegang telapak tangan anaknya tersebut. Alysa menoleh ibunya ragu, jujur saat itu Alysa tengah gugup. Ya bagaimana tidak gugup, ketika ia memasuki rumahnya ia mendapati Ikfan tengah duduk di sofa ruang tamunya yang ternyata tamu yang datang bertamu itu adalah Ikfan dan dua orang wanita yang belum ia ketahui siapa. Sedangkan di sisi lain, Ikfan yang melihat kedatangan Alysa, tanpa diketahui oleh siapapun, ia juga tengah menetralkan raut wajah dan juga perasaannya yang saat itu tiba-tiba gugup. "Ayo!" ajak Frida seraya menarik tangan Alysa lembut dan membawanya duduk di sampingnya yang berhadapan dengan Ikfan, Rita, dan Nayla. "Maa syaa Allaah, jadi ini Alysa?" tanya Rita tanpa sungkan seraya tersenyum. Frida tersenyum melihat respon calon besannya saat melihat anaknya. "Iya, ini anak saya, anak bungsu, Alysa." Ucapnya mengenalkan. Rita semakin tersenyum tatkala melihat Alysa yang malu-malu di balik cadarnya. "Emm.. baru pulang kuliah nak?" tanyanya lembut kepada Alysa. Merasa diberi pertanyaan, Alysa sedikit gelagapan walau hanya sekedar untuk menjawab, namun ia tetap menjawabnya. "Iya tante," lirihnya. Rita mesem seraya melirik Ikfan sejenak—yang duduk di sampingnya. Sementara yang dilihat hanya terdiam. Nampaknya Ikfan masih berusaha keras untuk bersikap senormal mungkin ditengah rasa gugupnya yang semakin bertambah. "Jangan panggil tante ya cantik, panggil bunda aja," ujar Rita sambil memandang Alysa yang duduk di hadapannya. Mendengar itu, Alysa hanya mengangguk malu-malu, dan tanpa disadari oleh siapapun, Ikfan mulai merasa gemas sendiri melihat sikap Alysa seperti itu. Kenapa menggemaskan sekali ya Allaah? Batin Ikfan. Rita tersenyum melihat jawaban Alysa. "Kenalkan, saya Rita, bundanya Ikfan, dan ini Nayla," Rita menunjuk Nayla yang duduk di samping kirinya. "Dia adalah adik Ikfan yang paling kecil." Alysa mulai melirik—setelah lama menunduk karena malu—siapa sosok Nayla yang ditunjuk, dan saat berhasil melihat Nayla, Alysa mendapati Nayla tengah tersenyum manis kepadanya. Melihat itu, Alysa membalasnya dengan senyuman walaupun entah akan terlihat atau tidak oleh Nayla, sebab dirinya yang memakai cadar—mungkin hanya bisa terlihat dari matanya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN